crot




Weny
Sore setelah aku untuk pada malam itu aku dan Weny duduk berdua sambil nonton TV, tangan Weny tidak pernah puas-puasnya memegangi batang penisku, sejak dia mengenal kenikmatan hubungan seks denganku. Dia benar-benar memperoleh kesenangan baru batang penisku untuk tidak ingin dia lepaskan dari tangannya. Setiap ada kesempatan berdua, selalu tangannya dia masukkan ke dalam celana dalamku. Tentu tanganku juga tetap rajin menelusup ke dalam BH Weny untuk meremas dengan gemas buah dada yang montok bulat itu. Berdua sambil terus nonton TV yang tidak kuhiraukan lagi acaranya karena kesibukanku bersama Weny saling memberi dan membangun gelora nafsu kenikmatan.
"Yaang.. CD-nya copot aja.. Weny sudah pengin lagi boleh kan.." katanya penuh manja. Mulai terdengar rengekan merajuk dengan penuh nafsu, sambil lidahnya menulusuri bibirku.
"Ntar dulu dong Sayang, Mas masih pengin ngusap-ngusap tetek Weny yang.. eehmm.. montok, indah.. aah.. ehhmm.. menggemaskan, Sayang kalau dibiarkan.. eh.. omong-omong bisa montok begini gimana siihh Ni.." tanyaku iseng dan Weny senyum menggoda sambil dia buka kancing baju di dadanya, serta tangan kanannya sendiri mulai mengusap dengan atraktif, membangkitkan nafsukudengan gerakan usapan memutar melingkari bulatan buah dadanya sebelah kiri. Sementara tangan kananku membantu meraba permukaan buah dadanya yang sebelah kiri yang menggelembung montok, kususupkan telapakku melalui celah dasternya lalu dengan cekatan jari-jariku menjepit puting susu yang mengeras. Hmm.. kelembutan buah dada wanita itu semakin membuatku bernafsu menggumulinya. Tangan kiriku tak mau ketinggalan, merambat ke arah bawah menuju daerah pangkal pahanya, Weny menyambutnya dengan meloloskan CD-nya lepas dari pinggul lalu paha hingga lolos dari kakinya.

"Mas.. dulu Weny selalu beginiin setiap hari.." ucapnya dengan sambil tangan kanannya memeragakan kepadaku, gerakan mengusap arah memutar payudara kirinya.
"Tambah nikmat kalau sekarang Mas yang ngeremesin.. Weny dulu suka merasakan aneh, kok.. kalau lagi iseng Weny suka memegang-megang payudara dan meraba putingku sendiri, ternyata.. Oh begini ini nikmatnya cewek kalau sedang dicumbui cowok dan nggak ngira sekarang dicumbui Mas mulai dari tetek sampai memek.. ahh.. nggak terbayangkan sebelumnya.. rasanya melayang nikmat.." Sambil terus memperlihatkan gerakan tangannya melumat dan meremas buah dadanya yang dia perlihatkan kepadaku sengaja untuk merangsangku.

"Weny sering ngeremas-ngeremas sendiri.. ternyata sekarang.. Mas yang suka puting Weny.. uhh.. rasanya.. achh selangit.. penginnya.. Mas membelai terus nenenku.. apalagi ditambah.. ini nich.. yang nonjol.. ehmhh.. gemes sama penis Mas yang tegang.." Dia mulai meraih tangan kananku dan diletakan tepat di puting buah dadanya sebelah kanan sambil menggoyangkanputingnya yang keras.

"Mas rasain puting Weny yang sudah tegang nich.. tuh susuku pada merah dicupang Mas terus-terusan.. Maas, enak nggak sih kalau megang nenen Weny begini?"
"Merangsang sekali, sampai ujung penisku jadi ikutan nyut-nyut.. dan tegang Non.."
Buah dadanya yang menggantung dan bergoyang mengikuti irama permainan tanganku. Aku meremas-remas, sesekali puting susunya kupilin.

"Aaauu.. oohh enaak.. remeess teruus susu Weny.. Mas oohh.. enak.. ehh.. ahh.. eeuhh.. aahh.. mmhh.. aahh.. enaakk.. oohh Mas.. teruskan.. Yaang, puaskan gairahmu malam ini Yaang.. Weny memang sudah lama ingin melakukan ini, kamu akan jadi lelaki pertama yang menyetubuhi Weny, puaskanlah, Mas lakukan, Weny pasrah Mas.. teruskan Sayang.." Aku meloloskan dasternya dan tubuh sintal semakin nampak polos mempesona, sambil tangannya membelai batang kemaluanku yang dari tadi tegang.
"Yaang.. Weny kalau pegang ini.. enggak tahan, pingin lagi.. ayo dong Yaang.." lagi-lagi Weny merajukku dengan manja sambil mengelus batang kejantananku.
"Sama juga, kalau aku megang buah dada Weny yang indah begini.." kataku sambil meremas.

"Mas.. kok kalau lagi ngisep Weny sepertinya nafsu, apalagi kalau puting susu Weny sudah diisap sama Mas.. aduhh.. selangkanganku.. langsung nyut-nyut nggak tahan, tahu-tahu terasa basah.. kayak pingin pipis," bisiknya dengan penuh merangsang di telingaku.
"Kalau aku ngeliat buah dada Weny yang montok jadi pengin ngemot putingmu, buah dada kok bisa bulat begitu yaa.. Baru ngeliat aja penisku udah tegang.."
"Mas, Weny bahagia sekali rasanya setelah aku ngerasain gimana disetubuhi sama Mas.. sekarangbenar-benar kesampaian juga.. aahh.."
Tangannya sambil terus membelai batang penisku yang telah dia keluarkan dari celana dalamku yang melorot.
"Ehhmm.. aahh.. adikmu aku kasih sun yang lama.. ehmm.. eehh.. ehmm.. eehhm.. ehmhh.. heem.." Dengan penuh nafsu penisku dalam kuluman mulut Weny.

"Clepp.. cleppk.. clpeep.. cleppkp.. cleppk.. clpeep.. cleppkp.." bunyi mulutnya mengulum penisku.
"Yaang.. yuk.. ahh.. aku.. udah.. pingin.. duduk di sini aja.. kita lakukan di ruang tamu saja.." permintaannya dengan manja. Demikian ungkapan perasaan birahi masing-masing, ungkapan-ungkapan merangsang yang pernah saling kami ucapkan dengan bebas selama bercumbu rayu. Suatu sensasi, aku dan Weny melakukan pertama kali di ruangan tamu rumah kost ini, seolah tidak ada tempat yang dapat menampung gelora nafsu gairah seks kami di tempat yang lain. Tak puas-puasnya Aku menikmati bentuk buah dadanya yang bulat montok itu, aku begitu bersemangat sambil sebelah tanganku meraba punggung Weny. Buah dada besar dan lembut mulus itu pun menjadi kemerahan setiap kali kucupangi bertubi-tubi di sekitar putingnya. Sementara Weny kini bergoyang mempermainkan irama tubuhnya yang turun naik bergoyang ke kiri kanan untuk membagi kenikmatan, duduk di atas kemaluanku yang sedang beradu dengan vagina berbulu lebatnya.

"Ooohh.. oohh.. oohh.. oohh.. oohh Mas.. oohh enaknya penismu Sayaang.. oohh aku.. enaakk.. mmhh.. sedoot terus susu Weny Sayaang oohh.." Desah Weny bercampur jeritan menahan rasa nikmat dari goyang pinggulnya di atas tubuhku. Dia menggelinjang ketika aku meremas payudaranya dan memilin putingnya. Dengan jelas aku melihat dadanya yang montok terguncang seirama ayunan tubuhnya yang sedang berburu kenikmatan. Kupilin putingnya pelan dengan gerakan melingkar. Remasan dan pilinanku berpindah dari payudara yang satu ke payudara yang satu lagi bergantian. Kuturunkan wajahku dan kudekatkan ke payudaranya yang sebelah kanan. Kujulurkan lidahku dan aku mulai menjilati putingnya yang sebelah kanan. Weny sedikit mengangkat punggungnya dan mengerang, "Ohh.. Mas pindah ke puting yang satunya dong.. ehmm.. eehhmm.."

Weny kemudian menurunkan sebuah kakinya sedangkan kakinya yang satu tetap di atas sofa. Hal ini membuat kakinya terbuka dengan lebar pada bagian selangkangan dengan vagina berbulu lebatnya nampak semakin nyata memerah. Pantatnya sering terangkat naik jika aku meremas dan membelai paha bagian dalamnya. Vagina berbulu lebatnya semakin basah dan licin. Kumainkan jariku masuk dan keluar, Weny mengerang tak karuan ketika kulakuan ini. Kutarik keluar jariku, kubawa jariku kembali ke klitorisnya dan kubelai pelan, takut kalau Weny akan merasa sakit. "Ohh Mass.. Bagian itu.. Terus.. jangan berhenti.. ohh ehh.." Weny mulai bergoyang naik dan turun melawan arah tanganku. Erangannya menggema di ruang keluarga ini.

"Ohh Mass.. Oh Mass.. Oh Mass.." dia mengulangi dan mengulangnya terus. Akhirnya diamengangkat seluruh punggungnya dari sofa, seluruh tubuhnya bergetar dan dia berteriak, "Ohh.. nikmat.. Maass.. ohh.. nikmatt.. nikmat eh.. aku keluarr.. ohh ehh.. ehh.. aahh.." Aku terkulai lemas di atas tubuh bugilnya yang berkeringat. Begitu nikmat terhempas diantarakeempukan payudaranya yang kenyal. Puting susunya yang terasa keras menusuk tajam dadaku. Kubiarkan alat vitalku yang baru saja menikmati ejakulasi itu tetap berada di dalam liang vagina berbulu lebatnya. Meresapi kehangatan dan kelembutannya serta sisa-sisa kenikmatan seks.

"Non.. aahh.. Aku puas sekali Sayanghh.." bisikku lemas.
"Ya.. Mass.. Weny juga.. biar kurasakan.. jangan dilepas dulu Mas.. Weny mau nikmatihangatnya cairan Mas yang keluar.. aahh.. uhh.. ahh.." ujarnya lirih sambil mengecup dahiku mesra. Kenikmatan pada malam kedua di ruang tamu yang menggairahkan dan melelahkan itu, berlanjut ke atas ranjang kamar Weny karena sudah tak tertahankan lagi badan ini untuk terjaga, sehingga kami putuskan berdua untuk tidur di kamar Weny malam itu.

Dari ruang tamu kami dengan tetap saling berpelukan dan Weny bergayut di pundakku menuju kamar, dalam keadaan tanpa busana, langsung tidur berpelukan dalam suasana di luar hujan cukup lebat. Kami tetap erat saling menindih dan saling menggosokkan bagian tubuh masing-masing untuk tetap merasakan kenikmatan persetubuhan semalaman dan terus saling bercumbu.

Ketika aku terbangun agak kaget karena jam sudah menunjukkan pukul 06:00 pagi yang berarti aku harus cepat-cepat mandi untuk berangkat kerja, segera aku bergegas ke kamar mandi dan lagi-lagi gadis kampungku tengah memandikan kemulusan tubuh telanjangnya, memanjakan kemontokan payudara dadanya dengan buih-buih sabun dan menggosok-gosok celah selangkangannya sementara pintu kamar mandi yang setengah terbuka memberikan pemandangan segar pagi itu menyongsong hari yang penuh gairah kenikmatan kami berdua. Tampak kaki sebelahnya diangkat ke bibir bak mandi sementara tangan kanannya leluasa menggosok liang kemaluannya dan mengelus-elus rambut-rambut halus yang tumbuh di sekitar bukit kemaluan yang menyembul bibir vagina berbulu lebat diantaranya. Tanpa permisi aku langsung masuk nimbrung di tengah Weny asyik menggosok selangkangannya dan melepas pakaian yang kukenakan. Dari belakan langsung aku membantu menyabun pantatnya yang bulat merangsang dan menyelipkan jari-jariku diantara pantatnya mencapai liang kemaluan yang sudah licin oleh sabun. Kuambilkan segayung air dan kusiram pantat Weny menghilangkan sabun sehingga waktu aku jongkok nampak merah lubang vagina berbulu lebatnya sambil kupegang bibir kemaluan Weny lalu bibirku beradu dengan bibir kemaluan Weny. Aku sedot dengan dalam bibir bukit kemaluan Weny yang terkatup oleh jariku.

"Aauu.. achh.. Yangg.. nakal.. ntar ach.. Mas terlambat kerja loh.." Weny mengambil gayung dan menyiram tubuhku, kami kembali saling menyabuni terutama bagian-bagian tubuh yang menimbulkan rasa nikmat yang paling sering mendapatkan usapan dan gosokan.

Weny masih duduk di pinggir ranjang sedangkan aku tetap rebahan dengan batang kemaluanku mulai dijangkau tangan Weny sambil mengocok lembut, demikian juga kemaluanku diusapnya, serasa nikmat menjalari seluruh tubuhku. Weny mulai terangsang oleh gairah yang diperoleh oleh rabaan tanganku pada kedua bukit payudarnya yang membusung di dadanya yang putih mulus dan sebelah demi sebelah tangannya membebaskan satu persatu buah dada yang masih tersembunyi dari balik bajunya dan munculah satu demi satu memperlihatkan sepasang daging indah payudaranya yang merangsang birahi, namun di sana sini nampak bekas merah gigitanku tadi pagi di sekitar dadadan lehernya yang jenjang.

Kucium lembut permukaan bukit payudaranya yang menggunduk, kujilati permukaan buah dadanya. Kubenamkan wajahku diantara gundukan bukit kembarnya dengan kedua tanganku menekan kedua daging indah menonjol itu menjepit kedua pipiku. Nampak puting susunya masih merah bekas cupanganku yang kuat tadi pagi. Bagai kasih sayang wanita yang sedang menyusui, Weny membimbing mulut bayi ke puting susunya agar nikmat mengenyot puting yang mulai kenyal tegang, namun aku menyambut puting Weny bukan dengan mengenyot tetapi dengan menjilat dan menggelitik pada bulatan kenyal coklat kemerahan itu penuh nafsu birahi. Weny memberikan tangan kirinya di bawah kepalaku sebagai bantalan sekaligus menekan kepalaku rapat ke payudaranya, tangan kanannya tetap mengocok batang kemaluanku posisi ini membuat nyaman sedotanku ke puting susunya, semakin kuat cupangku semakin gelinjang birahi Weny meningkat juga. Terkadang dia seakan-akan tidak mampu mengendalikan keinginannya agar seluruh payudaranya masuk ke mulutku dengan tangan kanan mendorong dan mengarahkan pucuk putingnya masuk ke mulutku yang terkadang lepas karena gerakan kami yang sama-sama sudah terdorong oleh nafsu yang menggebu-gebu untuk memperoleh kenikmatan birahi bersama-sama.

Aku berusaha memberikan kepuasan untuk Weny dengan mengarahkan telunjuk ke lubang kemaluan yang sudah licin basah oleh lendir kewanitaannya agar Weny memperoleh kenikmatan birahinya dari dua bagian sensitifnya, baik sedotan puting payudara maupun liang kewanitaannya.

"Mas.. sedott.. putingnya yang kuat.. achh.. enaak yaach.. hemm.. iya.. yaa.. memeknya.. ehmm.. yaa.. yaa.. bagian itu.. yaach enakk.. yachh.. yaachh.. yaachh.." gairahnya kian kuat. Aku turun dari ranjang dan jongkok di lantai sementara dia terlentang dengan pantat di bibir ranjang membuat selangkangan Weny terbuka lebar untuk memberi kesempatan leluasa agar aku memainkan liang bukit kenikmatannya baik dengan jilatan maupun jari-jariku sepuas-puasnya. Kaki Weny diangkat ke atas pundakku. Bibir vagina berbulu lebat Weny kujepit diantara jariku dan kugesekkan bibir itu diselingi dengan sedotan bibirku yang aku kemotkan, menyebabkan lendir kewanitaannya semakin membanjir deras keluar membuat Weny mencapai orgasme berkali-kali.

"Aduuhh.. enaakk.. aduhh.. kenapa.. aduuhh.. eechh.. aduuhh.. eechh.. heehh.. aduuhh.. nggakk.. kuat.. Mass.. begini enak.. Yangg.. Yangg.. aacchh.. eechh.. aduuhh.. eechh.. ss.. ennaakk.. Mass.. Sayang.. hehh.. hehh.. hehh.." desahan Weny merangsang sekali kalau sedang menggelinjang orgasme. Untungnya rumah kostku ini jauh dari kemungkinan tetangga mendengar, sehingga Weny berdesah sepuasnya mengekspresikan kenikmatan orgasme liang kewanitaannya.

"Mas.. Weny.. nggak kuat lagi.. ehh.. diapain sih Yang.. kok rasanya lain.. hhmm.. Mass.. Weny.. nggakk.. kuat.. lagi.. nichh.. Weny lemes rasanya.." begitu keluhan perasaan nikmatnya orgasmenya. Aku pun puas melihat Weny menikmati puncak orgasme yang bertubi-tubi terutama gerakan tubuhnya saat puncak kenikmatan tiba, pantatnya mengejang naik turun, buah dadanya bergoyang indah menari-nari dan mata maupun bibirnya membuka kadang menutup dengan mimikmuka gelisah menikmati kepuasan yang sedang dirasakan.

Waktu istirahatku yang biasanya kugunakan untuk makan dan sekedar tidur-tiduran, kali ini malah aku meniduri seorang gadis yang dengan pasrahnya memanjakan bersetubuh denganku, berlangsung dikala waktu istirahat tanpa kenal lelah. Sampai siang itu aku agak terlambat kembali ke kantordengan badan yang agak loyo karena sebelum berangkat Weny memberikan kenikmatan sesaat dengan kuluman pada batang kemaluanku yang dia sedot dan isap setelah dia sudah tidak berdaya karena orgasme tadi.

"Mas.. adiknya Weny isep-isep aja.. yach.. kasihan.. biar Weny kelomotin," dan kocokan dan usapan jari halusnya membangkitkan dorongan birahi yang menimbulkan ereksi kemaluanku terasa semakin nikmat menuju puncak orgasmeku saat ejakulasi.
"Mass.. hmm.. keluarin.. hmm.. cplkk.. cllssp.. Mas.. keluarin.. ke mulutku.. Mass.. echh.. keluarin.. yaach.. yaach.. keluarin.. keluarin.. yaach.. yaach.." Begitu setiap semprotan spermaku masuk ke mulut, Weny mendorong kepuasanku dengan bunyi mulutnya setiap kali semprotan cairan yang dia terima. Tangan Weny demikian cekatan untuk setiap leleran spermaku di wajahnyalangsung dia balurkan ke sekujur buah dadanya sebagai tanda totalitas kepuasannya sambil kedua buah dadanya dia usap melingkar dengan spermaku hingga merata. Tidak ketinggalan puting susunya yang mengeras ikut kebagian.

"Biar meresap di permukaan tetek Weny ya Mas, sampai nanti sore sama Mas mandinya, sambil nunggu Mas pulang dari kantor, Weny mau tidur lagi ya Sayaang.." begitu ungkapannya yang merangsang birahiku.
"Mungkin bisa untuk mengencangkan otot tetek Weny.. pasti nanti Mas makin puas ngempotnya.."Aku hanya senyum puas melihat tingkah lakunya penuh sensual dan merangsang. Kembali aku berdiri dengan lutut di depannya terus kucium pahanya, lalu pusarnya. Dia hanya pasrah menggelinjang saja. Aku ulangi terus, sampai beberapa lama. Weny sudah mendesis-desis, sampai akhirnyatubuhnya mengejang.

"Weny, mau yang gimana lagi sekarang Non?" tanyaku untuk membangkitkan lagi nikmat gairahnya siang itu.
"Ouhh.. Terserah.. Mas.. Weny pasrah aja sama Mas.. Weny udah nggak bisa lepas dari kenikmatan dari Mas.." Akhirnya dia tidak sabar lagi. Kepalaku ditariknya, lalu wajahku ditempelkan ke bulu vagina berbulu lebatnya. Dengan pelan kugesekkan hidungku ke vagina berbulu lebatnya, lalu bibir vagina berbulu lebatnya. Aku merasakan celah selangkangan yang kian basah itu. Begitu banyak cairan yang keluar, sehinggaaku bisa menghirup sambil menyedotnya. Terasa gurih, segar juga. Weny tidak kuat denganperlakuanku, kakinya sampai gemeter, lalu dia duduk di sofa. Kepalaku menyeruak masuk. Kedua pahanya kuangkat pakai tangan. Kini dia duduk bertambah maju sedikit. Kedua kakinya terangkat, sampai bagian belakang lututnya bertumpu pada pundakku. Kujulurkan lidahku lagi ke bibir vagina berbulu lebatnya yang basah itu membuat Weny jadi semakin gemas dibuatnya.

"Cepet dong, Yangg.. Mas.. Aku udah nggak tahan.." Ya, tunggu apa lagi? Kini aku berdiri dan segera kurentang selangkangannya. Kumasuki gerbang kenikmatan yang sudah merangsangku berwarna merah tua kecoklatan, mengkilat basah. Bibir vagina berbulu lebatnya menuntut perlakuan batang kemaluanku segera memasuki persetubuhan yang sebenarnya. Hingga aku harus menyelesaikan lagi satu babak pergumulan di atas ranjang untuk tidak melewatkan kenikmatan tubuhnya yang menawarkan sejuta gairah kepadaku. Dan kembali puncak orgasme bersama siang itu kami nikmati lagi demikian puasnya.

Tubuh wanita ini memang luar biasa. Aku benar-benar beruntung mendapatkannya. Masih telanjangbulat Weny berjalan menuju kamar mandi. Tak lepas mataku menatapnya.
"Kenapa, Mas.." Weny merasa aku memandangnya dengan tatapan yang begitu terpesona.
"Weny memang indah kalau lagi telanjang begitu.." kataku sambil berganti menatap dada dan bagian bawah perutnya.
"Mas ini dasar memang nakal. Sudahlah.. Mas bersih-bersih dulu baru istirahat.."
Kamar tidur Weny dekat dengan kamar mandi. Di kamar mandi kami saling membersihkan, Weny menyabun tubuhku sementara aku mengguyur tubuhnya, lalu gantian. Ahh, nikmat dan mesra sekali.

Langsung saja kuraih buah indah itu. Putingnya sudah keras. Kami berpagutan, dan rasanya aku tidak sampai hati meninggalkan Weny yang sedang naik birahinya. Aku ingin tahu kesiapan Weny siang itu, tanganku ke bawah sana. Sudah basah rupanya. Mengingat waktu, aku ingin segera mulai. Weny pun paham. Kembali aku melakukan pertempuran panjang melawan nafsu birahiWeny. Aku mempercepat goyanganku dan terus melumat bibir Weny, mencegah desahnya yang makin keras, aku makin hebat menggoyang dan siang waktu istirahatku yang melelahkan sekaligus penuh kenikmatan.

Menunggu sore tiba sengaja aku tidur-tiduran saja berdua dan tidak ada lain lagi bercumbu dan bercanda yang tidak lepas dari masalah kenikmatan persetubuhan yang pernah kami lakukan selama ini.
"Mas.. kalau nenenku dijilat terus jari Mas main di memek Weny, rasanya enak berlipat-lipat dan biasanya saya semakin terangsang untuk disetubuh lagi.."
"Weny itu semakin hari rasanya semakin enak untuk disetubuhi, makanya ininya dijaga dan dipelihara baik-baik."
"Terus gimana meliharanya Mas?"
"Ya dengan cara begini, Weny sering dielus, digoyang, diremas-remas begini, biar otot buah dadanya sering terangsang, Nah tuh.. tuh, putingnya tegang khan.."
"Ah, Yaang itu boong, dasar memang lagi mau ngeremas nenenku aja.. ahh.. geli pentilku jadibeneran tegang tuh, gede Mas.."
"Kalau udah tegang putingnya gitu, gimana sih rasanya Non?"
"Ya, geli-geli begitulah.."
Lalu kami berdua tertawa.

"Kalau rambutnya dicukur agar semakin kelihatan.. gimana Non? Uuhh.. pasti lebih merangsangkali yah?"
Nampak dia agak kegelian oleh sentuhan tanganku yang sengaja mendarat di permukaannya, dia mengeluh lirih, "Aduh, geli lho, Mas.. iih, begini aja aku kegelian.. emang Mas mau atau kepingin rambutku dicukur?"
"Kapan-kapan boleh yah.. Mas cukur rambutnya?"
"Kayak apa yah memekku tanpa rambut, hi.. hi.. hi, ah lucu.. Mas ada-ada saja.."
"Mau nggak Non dicukur?"
"Iya.. ya lah kapan-kapan, jangan sekarang.." tanda setujunya.

Kembali tanganku mengelus vagina berbulu lebatnya di seputar rambut-rambut halusnya yang keriting.
"Eh.. Mas, kalau lagi sendiri, aku sering membayangkan Mas kalau lagi menyingkap dasterku, lalumenggosok-gosokkan telapak tanganmu pada pahaku, kemudian aku merasakan kemaluanku mulai terangsang."
"Terus gimana kalau aku lagi pas nggak ada.."
"Paling buah dadaku perlahan-lahan kuremas sambil puting susuku Weny pijit-pijit. Kemudian akumengurutnya berputar. Nikmat sekali deh Mas.. tiba-tiba saja perasaan nikmat mulai menjalaribadanku.. nikmat, geli campur rasanya.. sangat bernafsu.. sampai terkadang aku telanjang bulat."

Weny sedang menceritakan fantasinya bila sendirian sejak mengenalku dalam arti kusetubuhi.
"Kumainkan jariku diantara selangkanganku yang terbuka. Kemudian kujilati payudaraku.. Oh, nikmat sekali sambil mempermainkan lubang memek.. kalau sudah begitu aku meraih bantal untuk menutup mukaku agar aku dapat lebih menikmati khayalanku sambil berteriak nikmat."
Tangan Weny mempermainkan kemaluanku sementara dia terus mengungkapkan pengalaman khayalan seksualnya.
"Untuk mencapai puncak, jari-jariku masuk ke dalam lubang kemaluanku. Semakin lama usapan jari ini semakin membuatku mengerang.. aahh.. Ah sudahlah tidak bisa ngomong bagaimana nikmatnya..Aahh.. nikmatnya.."
Ia memberikan pengalaman saat terindah mencapai puncak orgasmenya dengan rinci apa yang dia alami untukku. Dia biarkan aku mengelus dan membelai buah dadanya. Aku merasa damai sekali berada di pelukannya. Wajahku sengaja kubenamkan di dadanya yang montok dan hangat itu.

Setelah hening entah berapa lama dan terasa istirahat siang yang melelahkan kulewati, nafsuku kembali terusik melihat kemolekan tubuh Weny yang tergolek lelap di sampingku. Aku beranjak bangun memandangi tubuhnya yang terlentang. Segera aku berdiri dengan lutut mengangkangi tubuhnya agar kemaluanku mudah mencapai payudaranya. Kembali kuraih kedua belah payudaramontok itu untuk menjepit kemaluanku yang berdiri. Agar kemaluanku dapat terjepit dengan enaknya, aku agak merundukkan badanku. Kemudian kemaluanku kukocokkan maju mundur di dalam jepitan buah dada aduhai itu. Cairan dinding vagina berbulu lebat yang masih tersisa sengaja kuoleskan untuk membasahi kemaluanku sebagai pelumas yang pas agar memberi kenikmatan luar biasa pada gesekan-gesekan kemaluanku yang sengaja akan kugesekkan diantara kulit buah dada yang mulus itu.

"Non.. luar biasa.. Enak sekali.. Payudaramu indah sekali.. montok mulus.. Oh.. hangatnya..Sssh.. nikmatnya.. Tubuhmu luarr biasa.." aku merintih-rintih keenakan. Sementara di dalam tidurnya Weny mendesis-desis keenakan, "Sssh.. ssh.. ssh.." Aku mempercepat maju mundurnya kemaluanku. Aku memperkuat tekananku pada payudaranya agar kemaluanku terjepit lebih kuat. Rasa enak menjalar lewat kemaluanku. Rasa hangat menyusup di seluruh kemaluanku. Karena basah oleh cairan vagina berbulu lebat ditambah cairan yang keluar dari kemaluanku, kepala kemaluanku tampak amat mengkilat di saat melongok dari jepitan buah dada Weny. Leher kemaluan yang berwarna coklat tua dan kemaluan yang berwarna pink itu muncul dan tenggelam di antara jepitan payudaranya.

Lama-lama rasa geli yang menyusup ke segenap penjuru kemaluanku semakin menjadi-jadi. Semakin kupercepat kocokan kemaluanku pada payudara Weny. Rasa gatal semakin hebat. Rasa hangat semakinluar biasa. Dan rasa enak semakin menuju puncaknya. Tiga menit sudah kocokan hebat kemaluanku di payudara montok itu berlangsung. Dan ketika rasa gatal dan enak di kemaluanku hampirmencapai puncaknya, aku menahan sekuat tenaga benteng pertahananku sambil mengocok kemaluan di kempitan payudara indah Weny dengan sangat cepatnya. Rasa geli, hangat dan enak yang luar biasa akhirnya mencapai puncaknya. Aku tak kuasa lagi membendung.

"Weny..!" pekikku dengan tidak tertahankan.
"Ahh, kenceng sekali Mas semprotannya.. ahh.. ahh.. ahh.." demikian teriak Weny setiap menerima semprotanku.
Rasa hangat dan nikmat yang luar biasa menyusup ke seluruh kemaluanku saat menyemburkan cairan dengan derasnya ke dagu Weny. Sampai empat kali. Kuat sekali semprotannya, dan kelihatan sangat kental. Sperma yang banyak sekali itu mengalir turun ke arah leher Weny yang putih dan jenjang, jatuh di antara belahan payudaranya. Sejenak aku terdiam menikmati akhir-akhir kenikmatan ini.

"Sungguh.. luar biasa.. Non, nikmat sekali jepitan buah dadamu.." aku bergumam lirih. Baru kali ini aku mengalami kenikmatan seks yang indah luar biasa, masturbasi dengan menjepitkan batang kejantanan diantara payudara gadisku yang seksi.
"Yaang biar aku menjilati batang penismu yang basah itu.."
Weny mulai terangsang dengan tingkahku yang baru aku lakukan dijepitan payudara montoknya.Setelah menjilati permukaan penisku yang licin, Weny memasukkan seluruh kantong testisku ke dalam mulutnya.

Setelah itu kukeluarkan kantong testis itu dari mulutnya. Kumasukkan kepala penis itu ke dalammulutnya dan kutekan kepala ini hingga kepala penisku menyentuh tenggorokannya. Dengan perlahan kugerakkan mulut ini maju mundur. Weny tetap menjaga agar penisku tidak bergesekan dengan giginya.

Sekitar lima menit lamanya Weny menghisap-hisap kemaluanku sampai dia menghentikan oral seks ini. "Non gantian aku mau jilat permukaan buah dadamu yang masih basah.." dia merapatkan kedua daging payudaranya agar dijilati sementara mulutku menghampiri gundukan daging yang basah oleh spermaku. Weny kemudian berdiri lalu duduk tepat di atas penisku yang tegak berdiri. Kupegang penisku lalu kuarahkan hingga menempel di ujung mulut vagina berbulu lebatnya. Dengan satu dorongan, penis itu telah menusuk vagina berbulu lebatnya.

Perlahan-lahan Weny menggerakkan tubuhnya naik turun.
"Mas Weny mulai terangsang lagi.. aahh.. Nikmat sekali.. Makin lama aku menjadi makinbernafsu.." Gerakannya cepat sekali hingga dinding vagina berbulu lebatnya terasa sangat licin dan buah dadanya tergoncang-goncang. Weny menjerit kenikmatan tapi berirama sesuai irama gerakan naik turun vagina berbulu lebatnya menjepit kemaluanku. " Hahh.. hahh.. hhaah.. hahh.. ahh.. haah.. hhmm.. sshh.. hhah.." demikian ritmis desah nafasnya. Bagaimanapun juga dia telah memberikan kenikmatan padaku. Jadi biarlah dia memperoleh kenikmatan dengan caranya sendiri.

"Aduuhh.. Mas.. Auww enak Mas.. aku udah enggak tahan.. ampun Yaang! Weny keluuaarr.."Aku merasakan jepitan kewanitaannya sungguh luar biasa, setiap gesekan makin membuatnya melayang-layang hingga akhirnya benar-benar hanya kepuasan tergambar di wajah manisnya.

Saat itu betapa Weny sudah mulai terbiasa memperoleh nikmat batang kejantananku yang beberapakali di liang kewanitaannya. Sesaat Weny merubah posisi tidurnya menjadi tengkurap, dan tangan kanannya sengaja ditindih tepat pada celah gundukan bibir liang senggamanya yang masihterbungkus celana dalam merah. Kini aku sengaja lebih memperhatikan pada jepitan diantara kedua pantat sintal yang mulus itu. Sekarang dapat kunikmati sepuasnya birahiku tatkala tangan Weny entah sadar atau tidak, jari tangannya bergerak menggesek-gesek kecil permukaan celah bibirvagina berbulu lebat dengan teratur. Gerakan jarinya menyebabkan sebagian pinggir celana dalamnya tersingkap dan tampaklah sebagian bibir kewanitaan yang sepertinya tengah merasakan gelinjang.

Nafas Weny mulai agak berubah tersengal, beberapa saat tubuhnya berbalik ke atas dengan kaki kanan menopang di atas sandaran sofa. Selangkangannya kini mulai semakin tersingkap pada bagian bibir kemaluannya karena aktifnya jari Weny sendiri menggesek di sela vagina berbulu lebatnya. Dari mulutnya terdengar desah nafas halusnya yang sedikit tersengal menandakan kenikmatan Weny selama masturbasi, menambah gairahku namun tetap kutahan untuk tetap dapat menikmati aktivitas masturbasinya tanpa mengganggu.

Tiba-tiba mulai Weny merasakan puncak orgasmenya dengan ditandai getaran dan gerakkan mengejang-ngejang pada selangkangan dan pantatnya yang terangkat. "Ehh.. eehh.. eehh.. auuhh.. eehh.. eehh.. auuhh.. eehh.. auuhh.." desah nafasnya diiringi lenguhan mulutnya sementara matanya masih terpejam menikmati puncak orgasme selama masturbasi tadi. Gejolak nafsu yang tak terbendung. Pertahananku gagal juga setelah orgasme Weny tercapai, aku mendekat dan tanganku ikut menelusuk ke liang senggamanya.

"Aaahh.. Mas, nakal diam aja nggak mau dari tadi.. iih Yayang.. gitu.. aahh, nggak Weny kasihlo.." rengeknya manja sambil tersenyum masam, merasa aktivitas masturbasinya kuperhatikan dari tadi.
"Weny sudah nggak sabar nunggu Mas, yaa.."
"Daripada sendiri nungguin, apa boleh buat.. Weny juga nggak ngeliat masuknya.. aahh.. dasar Mas nakal, bikin malu Weny, ntar nggak mau.. ahh.." Weny muncul sambil menggodaku, tangannya memeras celanaku yang sudah menonjol oleh urat batang kemaluanku yang tegang.
"Emang nggak kasihan ama adik Mas.. udah nonjol.. kejepit dalam celana nich?"
"Yach dech.. tuch udah Weny sediakan air panas buat mandi.."
"Weny udah mandi belum.."
"Ya, tapi jangan lama-lama mandinya.. keburu malem."
"Yaa lah, Aku juga udah nggak sabar lagi, udah pengin juga.. sama.."

Dia pun tertawa dan remasan tangannya mendarat di tonjolan celanaku.
"Non, kalau Mas ngeliat kamu pakai baju begini.. rasanya.. udah deh, pingin tiap hari ngeliat kamu begitu.."
"Sekarang bukannya setiap hari Mas nyetubuhin Weny? Seksian mana.. kalau Weny buka baju sekalian.."
"Ohh iya.. ya saking nikmatnya jadi lupa.. Jangan dong.. emang di kamar mandi.."
"Yaa, kan nanti juga Mas buka.. sama aja dong.."
"Aahh.. udah lah.. yuk, kita mandi.."

Weny mulai mengecup bibirku, sejenak kami saling berpagut dan bukit bibir kemaluannya yang masih terlapis celana dalam merah, dia gesek-gesekan dan cocok-cocokan ke tonjolan depan celanaku memperagakan gerakan birahinya hingga kemaluanku merasakan kenikmatan pada ujung-ujungnya, mengundang gejolak nafsu kejantananku yang terpaksa kutahan. Kusudahi permainan tadi, dan menuju ke kamar mandi. Aku memandang tertegun dari belakang. Goyangan pantat Weny yang bulat dalam celana dalamnya, kedua daging montok dan sintal itu demikian mengundang seleranafsu untuk segera menggaulinya. Aku mulai mengikuti dari belakang dan tetap memandangi kedua daging montok itu melenggang ke kamar mandi.

Ketika tubuhnya membungkuk, kupandangi dari belakang bulu-bulu kemaluannya yang sebagian tampak keluar dari celana dalam terdesak oleh gundukan bibir vagina berbulu lebat dan membekas segaris celah antara bibir-bibir vagina berbulu lebat montok. Tak kuasa aku menahan, memaksa kedua tanganku meraih celana dalamnya untuk kulepaskan, tanpa ada reaksi darinya untuk menolak karena memang seolah sudah menjadiacara ritual yang rutin selama beberapa kali aku menggauli gadis itu sehingga dia pun demikianmengerti hal-hal yang dapat membangkitkan gairah untuk selalu menambah kenikmatan dalam persetubuhan kami, mulai dari kamar mandi, di ruang makan, di ruang tamu dan berakhir di ranjang kamar Weny.

"Aku nggak habis pikir, buah dada Weny kian hari kian montok saja.."
"Yaang coba tebak, Weny punya ukuran payudara berapa?"
"Pokoknya.. yang aku tahu.. punyamu selalu menggairahkan dan merangsang, mulus dan montok nikmat untuk dibelai.. ahh apalagi ya.."
"Memang juga.. Aku rasakan sejak Mas sering kemot, sepertinya tambah besar saja ya.. tapi kalau Mas bisa tebak, nanti baru mau Weny kasih lagi yang spesial buat nanti malam.. tapi kalau salah, Mas yang kasih Weny.."
"34B," tebakanku.
"Aahh Mas.. pinter, pasti pernah pegang punya cewe lain.. ketahuan.."
"Eee.. yakin.. belum pernah.." sanggahku.
"Nah, itu sudah bisa nebak.. hayoo, berarti sudah pengalaman.."
"Bener.. boro-boro tahu ukuran, ngeliat payudara beneran saja.. baru punya Weny.."
"Iyaa dech, percaya.."
"Nanti kalau Weny kasih Mas.. yang spesial, Weny juga aku beri hadiah.."
"Memang apa, Mas?"
"Akan aku hadiahi BH yang dapat menambah kelihatan Weny seksi.."
"Janji lho.."
"Mau nggak.. sore ini kita keluar, ke toko Matahari.."
"Ayoo mau aja, tapi Weny mau asal dikasih adik Mas dulu.." katanya sambil tangannya terus mengocok batang kemaluanku.

Weny mengambil posisi berlutut sehingga kemaluanku yang sedang tegang tepat menempel di dadanya yang bulat. Tangannya mengangkat kedua buah dadanya menyentuhkan ujung putingnya ke pucuk kemaluanku dan digesek, menimbulkan rasa geli di lubang kelaminku. Mulutnya mengulum penisku beberapa kali sehingga basah, kemudian dia keluarkan lagi dan mulai buah dadanya menjepit kemaluanku yang sudah licin.
"Yaang.. gosok-gosok penis Mas, biar Weny jepit pakai susuku?"
"Ehhm.. geli.. ehh, sedot dulu, Non.. yah.. jepit lagi.. eh.. eh.. eh.."

Sesaat jepitannya kulepaskan dan kudaratkan di pipi, hidung, bibir sambil lidahnya menjulur menerima uluran kemaluanku, sejenak dijilatnya kemudian kutempelkan pada mata Weny, telinga bergeser ke lehernya yang jenjang, seolah tidak ada bagian wajahnya tanpa menerima penjelajahan batang kemaluanku. "Yang.. biar Weny jilat dan isep sampai keluar yachh.. eehmm.. ehmm.. ahh.." Mulutnya terus mengeluarkan dengusan nafas birahi wanita sedang gelisah memuaskan kelamin pujaannya agar memperoleh kenikmatan, hingga setiap kemaluanku keluar dari mulutnya dengan lidah menjilat-jilat batangku, nampak lendir yang semakin pekat memenuhi lidah dan bibirnya hingga kembali batang coklat tenggelam di mulut Weny, diiringi tegukan lendir kejantananku tertelan masuk ke kerongkongannya.

"Non.. aku nggak kuat Non.. eh.. geli.. ah terus.. aachh.." Nafasku sedikit tertahan ketika pertahananku tak dapat kukendalikan lagi, terlepaslah sperma ke mulut Weny, dengan buru-buru tangannya mengarahkan ujung penisku ke mulutnya yang menganga siap menerima spermaku, sambil tangan Weny memberikan kocokan sampai semprotannya cukup kuat, sebagian dia arahkan ke pipibahkan ke matanya yang terpejam kemudian leher dan buah dadanya sampai tetes spermaku yang penghabisan.

"Ouuh.. Yang.. ouhh.. Mas, spermamu menyegarkan Sayang.. ouh.. hmm.. Weny senang, Mas bisa keluar.." Sambil wajahnya tengadah dengan posisi berlutut di depanku, tangan kirinya mengusap-usap spermaku merata di wajah dan buah dadanya, sementara tangan kanan Weny masih mencengkeram batang kemaluanku.

Sore itu kami saling menyabun membersihkan sisa-sisa kenikmatan di tubuh kami berdua serasa pasangan yang amat berbahagia, melewati detik demi detik gairah nikmatnya cinta. Tanpa sabar lagi Weny menciumku bertubi-tubi atas kegembiraan janji yang kusampaikan dan masih tanpabusana kami saling menggosok selama mandi berdua, diselingi rabaan pada selangkangan dan bukitpayudaranya menambah nikmat cumbu di kamar mandi sampai selesai.

Sebagaimana kujanjikan kepadanya ketika mandi, sore itu aku dan Weny naik becak menuju ke toko Matahari yang tidak berapa jauh dari tempat kami tinggal. Suasana sore itu sudah mulai gelap sehingga selama perjalanan tak hentinya aku meremas buah dada Weny, mengingat Weny saat itu mengenakan baju yang mengundangku untuk lebih leluasa menyusupkan tanganku ke balik BH yang dia kenakan. Tangan kiriku sengaja kulingkarkan dari kiri bawah ketiaknya, dan ujung jariku berakhir di puting payudara sebelah kiri, tepat telapak tanganku meremas buah dadanya sambil menjepit tonjolan puting dada Weny yang menegang di balik BH. Aku merasakan birahi sepanjang jalan dengan keasyikan meremas dada Weny sampai tiba di Toko Matahari. Tidak begitu lama aku putar-putar di dalam counter yang ada, tetapi segera menuju counter khusus pakaian dalam. Di sana telah dipajang berbagai model pakaian dalam dari yang biasa-biasa sampai yang sensual. Model sensuallah yang akan kuhadiahkan untuk Weny. Ukuran buah dada Weny termasuk besar dari rata-rata cewek yang kulihat dan bandingkan walaupun aku baru pertama bisa merasakan bentuk payudara wanita dewasa untuk kurasakan kenikmatannya, ukuran buah dada yang besar itu bisa membuat Weny tampil PD. Wenylah gadis yang pertama kali bisa kunikmati payudaranya yang sebesar itu, benar-benar kemujuran bagiku mendapatkannya.

Weny melihat-lihat di bagian bra. Semula aku agak malu tapi aku nekat memberanikan diri juga.Langsung kupilih bra yang seksi sambil Weny bertanya padaku untuk menunjukan yang paling seksi. Ternyata aku memilih yang lain dari yang dia kasih lihat tadi, Weny tanya ukuran bra yang kupilih tadi, ternyata tidak ada ukurannya untuk buah dadanya. Aku sempat bingung dan berbisik pada Weny, "Ukuran payudaramu emang berapa sih?"
Sambil senyum-senyum menutup mulutnya setengah berbisik Weny bilang, "Cuma 36C.."
"Hahh.. kok tadi bilang 34B.. nggak salah nih."
Aku bengong mendengar ucapan Weny itu, "Pantesan.. aku nggak tahan bisa lepas dari susu Weny.."

Tepat pada jalanan yang agak gelap, kusuruh Weny melucuti BH-nya saja sekalian dan memasukkan ke kantung belanjaan, "Sret.. sret.. sret.." lepaslah benda penghalang tanganku untuk bergerak lebih leluasa memperoleh kedua daging montok itu, karena kini hanya terhalang baju kaos longgarnya saja.

"Aduuh Mas, bener-bener nggak sabar sayaang.. pelan-pelan saja yaa, nggak enak dilihat orang..ahh geli Sayang.. eehhgg.." agak berbisik dia melenguh geli.
Kedua tanganku masuk dari kedua sisi belahan di bawah ketiak Weny meremas dan mejepit puting susunya sambil tubuhnya kupeluk rapat ke tubuhku, "Ehh.. Mas.. Weny geli banget.. Mas udah nggak sabar.. nekat juga bercumbu di jalanan.."
"Yah, rasanya aku sudah tidak sabar.. Sayang," kecupanku menutup bibir Weny.

Sesampainya di rumah segera saja Weny langsung masuk ke dalam kamar dan aku menyusul sewaktu Weny sedang mematut bra yang baru dibeli tadi. Saat itu Weny menyuruhku untuk duduk saja di dekat meja, sedangkan Weny duduk di depan meja rias. Dia hanya mengenakan celana dalam dan dada terbuka, sambil mengamati BH baru di tangannya yang akan dicobanya.

"Sabar sebentar ya Maas.. duduk dulu yang manis di situ yaa.. jangan dekat-dekat dulu," cegahnya.
Aku terpesona melihat Weny, betapa indahnya buah dada montok itu dilihat dari samping saat mengenakan cup BH baru sementara di celanaku sudah menonjol lagi.
"Gimana nich Yaang.. emang pantes model bra ini buat Weny?" tanya Weny berusaha meyakinkankuuntuk mengomentarinya.
"Aku dong yang mestinya memasangnya.. aku kan yang tahu cantik tidaknya ke tubuh Weny."
"Ah, ntar Mas pasti maunya mainin nenen Weny lagi saja.." terpesona aku melihat buah dadanya yang busung, mungkin karena melihat puting Weny yang agak menonjol waktu itu karena tidak memakai BH di balik daster tipisnya karena kebiasaan Weny kalau di rumah kadang-kadang suka tidak memakai BH, terutama waktu udara lagi panas.

"Kalau sering nggak pake BH ada yang bilang entar buah dada bisa cepat turun Mas?"
"Ah, asal sering diremas seperti punya Weny, nggak dong.." alasan karena aku begitu terangsang.
"Memangnya tangan Mas mau megangin terus, buah dada gede itu harus ada yang nyangga.." Sambil melirik matanya menggodaku, bahwa menyadari aku sedang mengagumi miliknya yang indah. Payudaranya benar-benar mengundang siapa pun tahan berlama-lama memandang untuk menikmati. Keindahan buah dadanya seolah selalu menumpahkan birahi dari balik BH 36C yang dia kenakan. Besarnya birahiku menikmati keindahan buah dada wanita kusadari sebagai obsesiku sejak dulu.

"Sini dong Yaang.. katanya mau memasangkan BH barunya ke Weny.." segera kuhampiri tubuh telanjang itu. Gadis muda ini memang cantik dan seksi. Berkulit kuning bersih, dadanya menonjol bulat. Ketika sebelah kakinya sengaja dia naikkan ke bibir dipan yang memang agak tinggi itu, pahanya yang putih mulus merangsang sekali.

Kupegangi BH yang baru, dan kupasangkan cup bra 36C-nya tepat pada kedua bukit payudara Weny.Tangannya ke belakang mengaitkan kaitannya di punggung. Di saat tangannya ke belakang ini, buahdadanya tampak semakin menonjol. Aku tak tahan lagi, batang kelaminku bertambah tegak mengeras mendorong celana dalamku menonjol. Aku menggeser cup BH-nya lebih ke bawah. Kini lebih banyak bagian buah dada itu yang tampak semakin membusung dan tanganku mengelus bagian bulat mulus itulalu kucium permukaannya, tanda kekagumanku akan keindahan bukit payudaranya.

"Wah.. kamu memang benar-benar cantik sayang.." pujiku.
Di dada Weny kini tampak dua gumpalan daging kenyal putih, begitu sesak tertahan BH. Aku bertahan untuk memuaskan mataku memandangi keindahan bentuk liku tubuh Weny. Weny senyum tersipu, "Ahh.. Mas bikin Weny malu, dilihatin begitu.. Mas suka yach.. Weny pakai BH ini.."
"Yah kalau nggak suka, masa mataku tersiksa sampai nggak bisa kedip, sekarang celana dalamnyayang baru sekalian dong, biar komplit."
Weny segera membuka celana dalam yang masih dikenakannya dan memelorotkannya sambil membungkukkan badannya sehingga aku dari belakang terlihat tonjolan bukit kemaluannya. Aku tertegun saat melihat bukit liang kewanitaannya yang benar-benar kencang dan padat itu. Aku yakin itulah yang membuat jepitan ke batang kemaluanku sangat kuat dan sedotannya terasa sekali, karena kencang dan padat, membuat ketagihan penisku untuk terus dibenamkan di dalam liang vagina berbulu lebatnya.
"Ooohh.. Maass.." Weny merintih keenakan, saat jari tengahku kugosokkan diantara bibir vagina berbulu lebatnya dari belakang. Dan kulanjutkan dengan tanganku membantunya untuk menarik celana dalam Weny agar terlepas dari pinggulnya yang bulat montok itu. Kupeluk dulu tubuh telanjang Wenydari belakang dan kudekap payudaranya yang sudah tertutup BH sementara ciumanku mendarat pada lehernya yang jenjang.

"Uugghh.. Yaang.. Weny nggak tahan.. Mas punya penis udah nakal di pantat Weny.." ketika merasakan batang penisku menyodok diantara pantatnya, tepatnya di selangkangan Weny. Weny berusaha menggeser melepaskan pelukanku. Kupasangkan celana dalam baru, yaitu model CD yanghanya diikat tali di pinggulnya yang apabila dipakai tampaklah paha belakangnya mulai dari pangkal pinggul dan kakinya yang mulus nampak sempurna, sehingga benar-benar membuatku terangsang dan dengan satu kali tarikan celana itu akan terbuka. Ouwhh.. ingin rasanya aku segera menyetubuhinya dan lengkaplah apa yang kuinginkan akan penampilan Weny dengan sepasangCD dan BH yang menggairahkan birahi. BH yang membungkus buah dadanya yang berukuran 36C sangatminim dan sempit seakan buah dada Weny akan tumpah, nampak putingnya yang besar berwarna coklat kehitaman tampak jelas di balik BH tipis berwarna putih itu.

"Non.. kamu tambah merangsang saja," sambil berdiri kupeluk demikian kuat tubuhnya. Aku mulai mencumbunya, saling berpagutan diantara bibir, sambil tanganku mengusap leher dan punggungnya.Tanganku menelusuri bagian V ujung celana dalamnya, memberi pijitan empuk ke bibir vagina berbulu lebatnya yang kenyal itu. Birahiku semakin memburu untuk tidak dapat kutahan lagi untuk berbuat lebih jauh lagi. Segera kupeluk tubuhnya dari belakang. Dengan cepat kubuka celana dalam Weny dan kupelorotkan dari tubuhnya. Seketika itu aku lagi-lagi terpesona melihat tubuh yang sintalitu dalam pelukanku hanya mengenakan BH. Ketiaknya yang putih bersih dan wangi sangat merangsang untuk kucium dan kujilati. Di selangkangannya kuraba gundukan daging yang tertutup oleh bulu-bulu yang juga lebat. Bulu-bulu halusnya. Dalam hati, aku ingin mencumbunya dengan lembut dan tidak tergesa-gesa menuju kepersenggamaan yang sebenarnya.

Dengan perlahan tanganku mengusap dan mengelus bagian permukaan yang menggunduk bulat mulus payudaranya pada bagian yang tidak tertutup cup BH. Kuturunkan tanganku lebih ke bawah, terus sampai batas bawah BH, mulai tanganku menyelusupi gundukan daging di baliknya, mencari puting susunya dan bulatan mengeras kuperoleh sambil kupilin, semakin tegang dan keras puting susu Weny yang semakin menonjol.

Aku mulai menjepit kedua puting Weny dengan jari telunjuk dan jari manisku, sambil sedikit menariknya dengan perlahan. "Enak ya rasanya.. nggak puas kalau nggak kupijit."
"Ah Yaang.. menyiksa Weny.. terus Sayang enak.."
Kedua puting dengan cepatnya mengeras, terasa sakit bercampur nikmat.
"Ah.. ah.. enak sekali rasanya," Weny segera akan berbalik menghadapku, tapi aku menahannya, tangan Weny mulai mengarah tengkuk leherku. Sementara itu tanganku tetap meremas payudara Weny. Oh begitu nikmatnya, Weny betul-betul terangsang. Tangan kananku mulai bergerak menuju bawah dengan perlahan dan sampai ke bawah pusar, kugosok pada bagian V antara selangkangnya. Aku mulai mengelus rambut bawah Weny yang sangat rimbun dan keriting.
"Aduh Maas.. sudah banjir.." memang Weny merasa bagian bawah Weny sudah mulai lembab dan akuterus mengelus dengan lembutnya.
"Mass.. geli.. hehh.. eehmm.. teruss.. Sayang.. enak.. ah.. ah.. aduh Mas.. ah.. saya tidaktahan.. enak sekali.."
"Gimana.. enak rasanya.."
"Ah.. Mas enak sekali.. terus Mas.. jangan berhenti.. satu lagi Mas.. ah..!" lidahku menjilat bagian belakang telinga Weny. Gelinjang tubuhnya mulai kurasakan, tanganku sebelah kanan turun ke bagian perut dan semakin ke bawah mencapai ke pinggir atas pahanya dan tanganku kuselipkan ke gundukan daging yang ditutupi oleh bulu-bulu lebat dan halus diantara pangkal pahanya. Jariku mulai menggosok-gosok gundukan daging itu, ke atas dan ke bawah sementara itu telapak tangan kiriku masih menyusup ke balik BH-nya yang terasa benar terlalu sempit untuk buah dada berukuran 36C atau mungkin hampir tak mampu membungkus payudara semontok itu. Dengan bernafsu kuremas-remas buah dada montok di balik BH yang masih membungkusnya, hasratku untuk bersetubuh begitu menggebu bahkan dengan berpikir seperti ini saja sudah penisku berdenyut.

Tak puas sampai disitu kudekatkan wajah dan mulutku ke buah dadanya sebelah kanan lalu dengan kucium dan kujilat daging susunya dengan sepenuh perasaan. Kupejamkan kedua mataku menikmati indahnya gairah cumbuku dengan Weny. Masih pada posisiku memeluk Weny dari belakang.
"Ooowww.. Mass.. geli ahh.. mm.. aduuhh.. jilatanya.. auwww.. aa.. iihh.. nakal.. mm.. uuhh.. ih.. gelii.." Aku semakin bernafsu, "Crosp.. crosp.." ketika mulutku mulai menghisap dan menyedot permukaan daging payudaranya dan bibirku mulai aktif mengenyot permukaan buah dadanya itu agar meninggalkan bekas tanda merah pada permukaan daging yang putih mulusitu. "Oowww.. aduuh.. Maass.. gelii.. mm.. aahh.. iihh.. mm.. aduuhh.. sakit Mass.." pekik Weny semakin keras.

Kini posisi berhadapan dengan tubuh saling merapat, semakin asyik menyedot dan menghisap daging buah dada montoknya secara bergantian dan sementara Weny semakin asyik merintih keenakan, jemari kedua tanganku mulai bergerak menyusuri sekujur tubuh mulusnya yang seksi, mulai dari punggungnya yang halus mulus terus bergerak ke bawah ke pinggulnya yang bulat aduhai begitu menggemaskan. Aku meremas pelan pinggul dan pantatnya dan semakin lama semakin kuat sakinggemasnya. Begitu kenyal dan padat dan penisku makin menonjol membelah selangkangan Weny yang masih tertutup CD. Batang penisku yang menegang semakin menggila, kugesek naik turun makin cepat, kurasakan sudah berkali-kali cairanku keluar menandakan sudah saatnya untuk melakukan senggama. Namun jari tanganku masih belum berhenti menjamah tubuh Weny yang merangsang ini.

Jari telunjuk dan tengahku kugunakan untuk menyibak bibir-bibir kemaluannya untuk mencari jalan masuk ke vagina berbulu lebatnya. Weny menyedot lidahku dengan lembut. Uh nikmatnya, tanganku menyusup diantara dada, meraba-raba dan meremas kedua belahan susunya yang montok itu.

"Mmm.. oohh.. Weny.. aahh.." kegelian bercampur nikmat saat Weny memadukan kecupannya dileherku sambil menggesekkan selangkangannya yang basah itu pada penisku.
"Mas.. sedot susu Weny lagi.. Yaang.." tangannya meremas sendiri buah dada itu, aku tak menjawabnya, bibirku merayap ke arah dadanya, bertumpu pada tangan yang kutekuk sambil berusaha meraih susunya dengan bibirku. Lidahku mulai bekerja liar menjelajahi bukit kenyal itu senti demi senti.

"Ohh.. Ohh.." rontaan perempuan itu mulai mengendur.
"Aawww.. aduuhh.. Mass.. aawww.." pekik Weny kegelian.
"Mmm.. enak sekali Non.." bisikku setengah serak.
"Mas.. Maass jilat memekku Sayaang.." bisiknya pelan terdengar bernafsu.
"Oouuh yaahh.. Mas.. oouuhh.. yaahh.. terus Sayang.."

Cukup lama sekali kukira aku mencumbu alat kelaminnya itu, sampai kira-kira lima menitan saat jerit gairahnya terdengar. "Mas.. Mas.. yaach.. buka mulutmu Sayang.. aduuhh.. aku mau keluar Sayang.. uuhh.. oouugghh.." pekiknya keras. Rupanya Weny sudah hampir sampai ke puncak orgasmenya. Sambil pinggulnya diangkat, jemari tangan kirinya menyibakkan bibir vagina berbulu lebatnya yang sudah basah habis kujilati sedang jari telunjuk kanannya menggosok-gosok daging vagina berbulu lebatnya dengan cepat. Dapat kulihat jelas liang vagina berbulu lebatnya yang mungil dan sudah basah itu sedikit membuka. Melihat pemandangan merangsang itu segera kubuka mulutku lebar-lebar menunggu cairan orgasme tumpah keluar.

Tiba-tiba saja beberapa semprotan bening dari liang kemaluan Weny tumpah keluar langsung masuk ke dalam mulutku. Hmm.. ada rasa asin dan gurih bercampur jadi satu, langsung kutelan nikmatsemuanya. Baru sekali ini aku tahu bahwa wanita juga dapat menyemburkan cairan orgasme.

Weny mengerang dan merintih panjang menikmati puncak orgasmenya. Pinggulnya yang seksi aduhai sampai menggeliat-geliat hebat saking enaknya. Ssstt.. indah sekali. "Nnngghh.. uuhh.."Kudekatkan mulutku ke lubang kemaluannya yang masih meneteskan cairan kenikmatannya itu. Kuhisap dan kusedot sekuatnya sampai kurasakan tidak ada sisa lagi cairan yang keluar. Lidahku mengecap sedap menikmati lendir orgasme Weny sebelum akhirnya kutelan habis.

"Uuuhh.. Mas.. Mas.. oouhh.. makasih Sayang.. uuhh.. barusan nikmatnya bukan main Sayang.." bisik Weny letih setelah orgasmenya berakhir. Kedua belah pantatnya dihempaskan ke dadakuyang bidang. Kini dapat kulihat kembali wajah cantiknya yang tampak berkeringat basah. Namun rona-rona kepuasan dan kebahagian terpancar di wajahnya. Kubisikkan ke telinganya permintaanku yang khusus. "Non.. kalau Mas pulang kantor, Weny pakai BH-nya yang beli tadi yaah.." begitu keinginanku, dan dia hanya mengangguk, "Heech.." Aku mengecupnya sebelum malam itu terlelap menikmati malam yang indah dalam pelukan gadisku yang semakin menggairahkan. Dan malam yang hangat itu beberapa hari terus berulang dalam suasana yang bebas di rumah kostku yang sedang sepi, hanya aku bersama Weny.

Aku segera bangun dan saat melihatku seakan Weny mengerti lalu menggeser tubuhnya agar tubuhku segera menindihnya untuk mulai percumbuan di tengah malam. Huuh.. enak rasanya saat kulit dada dan perutku bergesekan dengan kedua paha mulusnya itu. "Mmm.. Mas.. aku siap dimasuki kejantananmu Sayang.." bisik Weny lembut. Wajahnya yang cantik itu nampak sedikit kusut setelah bangun tidur. Dan sstt.. aku merintih nikmat dan seakan tak percaya ketika dengan penuh kelembutan jemari lentik Weny yang halus itu lalu memegang sembari memberi sedikit remasan gemas pada batang penisku yang sudah tegang sempurna dan membawanya ke celah bukit kemaluannyayang sangat merangsang birahi kelelakianku.

Hhmm.. aku kembali meremas-remas dan memuntir gemas kedua buah dadanya yang montok dan kenyal."Aahh.." aku kembali merintih nikmat ketika Weny kembali meremas batang penisku. "Alat vitalmu menggairahkan sekali Mas.. setiap kali membuat birahi Weny naik terus.." bisiknya lembut, lalu kemudian Weny mulai mengangkat pinggulnya ke atas dan sedikit digeser ke atas pinggangku sehingga bibir kemaluannya yang rapat itu tepat berada di atas batang penisku yang menegang. Bibir kemaluannya disibakkan sendiri dengan membuka bibir vagina berbulu lebatnya agar lebih leluasa penisku memasuki persenggamaannya. Perlahan lalu ditempelkannya kepala penisku ke belahan bukitkemaluannya dan diselipkan di situ. Sambil terus diremas-remas dan dikocok perlahan batang penisku yang menegang, Weny mulai menurunkan pinggulnya ke bawah dan, "Sleppss.." kurasakan ujung kepala penisku mulai memasuki sebuah lubang sempit diantara dua bibir liang senggama Weny. "Uuugghh.." bibirku tanpa terasa bergetar menahan sejuta rasa.
"Mmm.. uuhh.. iihh.. penismu Mas.. awww.." rintih Weny sedikit membimbing penisku masuk lubangkewanitaannya secara perlahan-lahan kulihat kepala penisku mulai tenggelam menembus ke dalam liang vagina berbulu lebatnya.

"Aaahh.. Weny.. oouuhh.." Aku mengerang merasakan kenikmatan saat liang vagina berbulu lebatnya menjepitbegitu ketat kepala penisku yang besar. Seakan diremas dan diurut oleh daging hangatnya yang lunak itu.
"Aaahh terus Non.. aku.. ouuhh.. teruss.. yaahh.. eenaaknya Weny.. oouuhh.." Aku menggeliat keenakan. Kupejamkan kedua mataku menikmati sensasi yang menggairahkan.
"Mas.. Mas.. yah.. oouuhh.. Sayang.. mmhh.." rintih Weny sembari kurasakan ia terus menekan pinggulnya ke bawah. Seakan tiada hambatan dan begitu lancar selain rasa ketat dan hangat yang kurasakan pada separuh batang penisku yang telah berhasil memasuki lubang vagina berbulu lebatnya.
"Aaahh.. terus Weny.. aahh.." pekikku semakin keenakan. Mili demi mili kurasakan lubang ketat vagina berbulu lebatnya semakin dalam menjepit batang penisku. Seakan mencengkeram hebat saking sempitnya.Sekujur tubuhku seolah gemetaran menikmati sensasi seks ini. Kukonsentrasikan seluruh perasaan nikmatku pada jepitan hangat lubang kemaluan Weny yang secara terus menerus menyedot habis seluruh alat vitalku.

"Uuuh.. mm.. penismu Sayang.. keras sekali Mas.. uuh.." Akhirnya dengan satu hentakan kuat amblas sudah seluruh batang alat vitalku tenggelam ke dalam liang vagina berbulu lebatnya yang sangat ketat dan hangat. "Hmm.. penismu dorong lagi Sayang.. Mas.. ayo.. yang dalam Sayang.." Aku merintih nikmat merasakan batang penisku terjepit begitu sangat kuat, seakan diremas, diurut dan disedot oleh lubang vagina berbulu lebatnya yang hangat. "Woowww.. Luar biasa sekali Mas.. benar-benar besar dan memuaskan.. Uuuh.."
"Oouuhh.. Weny.. nikmaat sekali.. aahh.." erangku keenakan. Lutut dan sekujur kakiku sampai gemetaran menahan rasa nikmat yang baru pertama kali ini kurasakan. Aku benar-benar tidakmenyangka jepitan hangat liang vagina berbulu lebat milik Weny ini sampai membuat jiwaku seakan melayang ke awang-awang.

"Non.. lubang memekmu rasanya hangat.. sempit jepitannya.." bisikku.
"Mungkin air vagina berbulu lebatku mulai keluar, hmm.. kenapa Sayang.. licin yaa.. penismu.. rasanya hangat yah.." bisiknya mesra menggoda. Aku tak sanggup menjawab lagi selain hanya merem melekkeenakan. Sambil setengah tertawa kecil direbahkannya tubuh bugilnya ke badanku sehingga kedua buah dadanya yang sebesar melon itu menekan dan menempel ketat di dadaku yang bidang.

Ughh.. Nikmat sekali rasanya. Kupeluk gemas tubuhnya yang mulus dan montok itu. Wajahnya yang cantik menunduk ke arahku dan sejenak kemudian kami berdua kembali asyik saling bercumbu bibir. Sementara itu kurasakan kedua paha mulusnya yang mengangkangiku kini menjepit pinggangku dengan ketat. Aku menggelinjang keenakan merasakan otot-otot daging vagina berbulu lebatnya yang menjepit batang penisku seakan memelintir dan meremas begitu ketat. Kupejamkan kedua mataku dan sejenak kemudian kurasakan pinggulnya mulai bergerak turun naik menyetubuhiku. "Aaahh.." Aku mengerang-erang keenakan diantara cumbuan bibir Weny saat liang vagina berbulu lebatnya yang sempit dan hangat itu mulai menggesek batang penisku keluar masuk.

"Ooouuhh.. Non.. oouuhh.. yaahh.. oouuhh.." erangku nikmat.

Begitu lembutnya Weny menggoyang pinggul turun naik dengan sangat telaten. Waktu serasa begitu panjang dan lama sekali. Kami berdua bercumbu mesra sembari saling mendesah keenakan menikmati pergesekan luar biasa pada alat kelamin kami yang telah menyatu. Vagina berbulu lebat Weny menggesek keluar masuk batang penisku yang seolah diplintir-plintir tak karuan. "Nnngghh.. Non.. oouuhh.. nikmaat sekali.. aahh.."

"Uuuhh.. Mas.. penismu nyampai ke dalam sekali Sayang.. nngghh.."
Semakin lama Weny bergerak semakin cepat menaikturunkan pinggulnya membuat alat vitalku semakin kuat menggesek keluar masuk ke dalam lubang kemaluannya. Kemaluanku sampai terguncang-guncang saking kuatnya Weny menghentak ke bawah. Aku merasa tak ada lagi batang penisku yang tersisa diluar karena begitu Weny menghentakan pinggulnya ke bawah seluruh batang penisku serasa dijepit kuat oleh bibir daging kelaminnya yang hangat sampai kandas.

Kemaluanku merasakan nikmatnya senggama yang sangat luar biasa ini. Sambil saling berpelukan erat kurasakan Weny merintih dan mengerang semakin keras. "Oouuhh.. Mas.. Mas.. Yaang..oouuhh.. oouuhh.." Aku menduga Weny sebentar lagi akan orgasme. Benar saja, kemudian kurasakan otot-otot daging vagina berbulu lebatnya tiba-tiba menjepit alat vitalku dua kali lebih kuat membuatku. Sekujur tubuhku menahan rasa nikmat yang tak terkira.

Tiba-tiba tubuh Weny terasa kaku dan kedua pahanya yang mulus itu diluruskan ke samping kiri dan kanan sambil mengejang kuat berulang kali. Aku sendiri merasakan liang vagina berbulu lebatnya menjepitpenisku luar biasa kuatnya seakan diremas-remas dan dikenyot alat vitalku. Weny mengerang panjang sambil mengejang nikmat berulang-ulang. Sejenak kemudian kurasakan seluruh batang penisku merasakan cairan hangat.

"Ooouuhh Mas.. Mas.. penismu.. oouuhh.." pekiknya nikmat di puncak orgasme keduanya. Beberapa detik kemudian Weny akhirnya terdiam kelelahan. Lubang kemaluannya masih menjepit batangpenisku sampai kandas. Kupeluk dan kubelai mesra pinggang dan punggungnya yang putih mulus menenangkan perasaannya yang baru terpuaskan.

"Kau puas Non.." bisikku penuh kasih sayang.
Ia mengangkat wajahnya yang tampak basah berkeringat dan letih. Bibirnya yang merah tersenyum penuh kepuasan yang tak terkira.
"Mas.. yaahh.. oohh.. kau kuat sekali Sayang.. kamu sendiri belum juga keluar Sayang.. ohh.. kau hebat Mas.. penismu.. cupp.. cupp.. serasa membuat aku gila," katanya pelan sambil mengecup bibirku penuh kemesraan. Aku tersenyum bangga, aku sendiri juga tidak mengira dapat mengimbangi bahkan lebih tahan lama saat bersenggama dengannya tadi. Padahal jepitan dan gesekan liang vagina berbulu lebatnya luar biasa ketat dan nikmatnya.

"Uuuhh.. Mas.. panjang sekali penismu Sayang.. uuhh.. malam ini keluarkan air spermamu.. sepuasmu Sayang.. uuhh.. Aku juga puas Sayang," bisiknya penuh gairah nafsu.
Aku masih sempat tersenyum geli diantara desah kenikmatanku mendengar ucapannya.
"Uuuhh Sayang.. kuat sekali Mas.. hmm.. benar-benar kau laki-laki pemberi gairahku.. uuw.." bisiknya manja.
"Non Sayaang.. Non ingin beberapa kali lagi malam ini?" bisikku gemas menahan rasa nikmat.
"Ehh.. hik.. hik.. Mass.. maunya sampai subuh.. Weny merasakan birahinya teruss.. mm.. Weny minta kepuasan terus Mas, maafkan Weny pengin terus seperti nggak ada puasnya kalau hanya sekali, memeku nyut-nyut terus kalau megang kemaluan Mas yang lagi tegang, boleh nggakYaang.." bisiknya mesra.

Sungguh tak terperikan rasa nikmat yang kurasakan. Jiwaku seakan diatas awang-awang terbang ke dalam sorga kenikmatan yang luar biasa. Kukecup dan kukulum bibirnya yang merah sepenuh perasaan. "Nnnghh.. Mas.. barusan sepertinya banyak sekali air spermamu Sayang.." bisiknya manja menikmati tubuhnya yang sedang kusemai. Aku tak tahu lagi sudah berapa semburan yang kutumpahkan ke dalam liang rahimnya, betapa kenikmatan yang sedang melanda tubuhku itu membuat seakan ringan tak berdaya menyetubuhinya seakan tiada rasa puas dalam hatiku untuk terus menggeluti tubuh Weny yang montok dan sintal ini.

"Terkadang aku ingin berhenti.. tapi terasa masih kurang juga bagai mau pingsan.. kecapekan.. hik.. hik.." keluhnya manja.
Begitu luar biasa nikmatnya. Perasaanku sekarang seolah begitu ringan.
"Nnngghh.. Non.. nngghh.. oohh.." bisikku gemas.
"Iiihh.. Mas.. sudah ah.. hik.. hik.. nakal sekali kamu Sayang.. cabut dulu ahh.. kemaluanku gellii, mau lagi sih tapi istirahat dulu.." rintihnya kenikmatan.
Jemari tangannya dengan gemas mencubit pantatku yang masih bergerak turun naik menyetubuhinya."Mas.. Mas.. hik.. hik.. aawww.. nggak tahan gelinya Sayang.. jangan cepat-cepat masukinnya Sayang.. aawww.." Weny merintih kegelian ketika kucabut batang kejantananku dari liangsenggamanya. Alat vitalku terasa masih sedikit gatal-gatal dan masih menegang seolah masih menyimpan keinginan yang terpendam.

"Aduuhh.. Mas.. Sayang.. iihh.. gelii.. ah Sayang.. nngghh.." bisiknya lirih. Namun diakhir ucapannya itu aku merasa Weny mulai merasakan kenikmatan lagi.
"Non.. air spermaku mau keluar lagi nih biar keluar di dalam saja ya, Yang.." bisikku mulaimerasakan kenikmatan senggama itu kembali.
"Oouuhh.. Mas.. kau luar biasa Sayang.. oouuhh.." bisiknya sembari menikmati sodokan alat vitalku yang mulai menggelitik klitorisnya ke sorga kenikmatan. Kedua pahanya yang mulus kembali menjepit pinggangku erat. Kedua tangannya memeluk tubuhku mesra dan jemari tangannya mengelus mesra punggungku yang berkeringat basah. Begitu nikmat dadaku menindih kedua bulatan payudaranya yang kenyal dan padat itu. Kedua puting susunya terasa keras dan runcing menusuk kulit dadaku. Geli rasanya. Kami saling bercumbu bibir sembari menikmati rasa nikmat pergesekan alat kelamin kami yang saling beradu untuk mencari kenikmatan.

"Mas.. yaahh.. cupp.. cupp.. oouuhh.. ngghh.. oowww.. air spermamu biar aku simpan di dalam rahimku Sayang.. heeh.. heeh.. yaahh.. aauuwww.. enak.. nyuutt.. nyuutt.." rintih Weny nikmat. Mungkin sekitar setengah jam lebih karena kami berdua sudah sama-sama terpuaskan tadi, tetapi justru terasa jauh lebih nikmat. Kami berdua bisa sama-sama berkonsentrasi dan merasakan secara lebih mendalam dan lebih menjiwai persenggamaan ini. Setiap kami saling menggesek, kami bisa merasakan nikmatnya itu sampai ke tulang. Ia kadang sampai melenguh panjang keenakan ketika kubenamkan secara perlahan batang penisku ke dalam lubang kemaluannya sampai kandas, begitu pula ketika kutarik batang penisku itu pelan-pelan keluar dari lubang kemaluannya sampai-sampai ia menggigit pundakku karena gemas.

"Aaahh.. Mas.. Mas.. nngghh.. nikmaatnya Sayang.. terus Sayang.. ulangi lagi.. aahh.. uuhh .. yaah.. mm.." rintihnya. Tak terasa begitu cepat sekali rasa nikmat itu berakhir, pinggulku terhempas lunglai di atas tubuh Weny. Alat vitalku bermandikan air sperma di dalam liang vagina berbulu lebatnya. Kurasakan batang penisku itu mulai bergerak menyusut. Weny menciumi bibirku dengan gemas. Berkali-kali mulutnya mengulum bibirku sampai lama sekali. Dari wajahnya terbayang betapa sangat puasnya dia malam ini. Begitu terlihat cantik dan alami meski tampak basah berkeringat. Kedua matanya yang kelihatan sedikit letih memandangku mesra.

"Ooh.. Mas.. aku benar-benar merasakan persetubuhan tadi nikmat sekali.. Mas.. nikmat sekali.. kali ini terasa lain.." Rasa gemas disertai pelukan yang erat sekali seolah tubuhku dan tubuhnya lumat menjadi satu dalam gelora puncak gelombang lautan birahi.
"Aku juga Non.. begitu nikmat sekali.. hmm.. indah sekali Non.." bisikku letih.
Weny masih terkapar. Aku lunglai di atas tubuhnya. Ini sudah keempat kalinya aku bersetubuh dengan Weny hari itu. Yang terakhir inilah kurasakan sangat berbeda dibanding sebelumnya. Lebih nikmat, lebih memuncak, lebih lama, lebih banyak aku mengeluarkan spermaku, susah untuk diceritakan.

Eva Arnaz
Tangan Eva Arnaz masih memegangi tanganku. Sekarang matanya terbuka. Dia tersenyum. Aku kecup bibirnya, lembut lalu pipinya, telinganya, tengkuknya.
Kulepaskan pegangan tangannya lalu kutuntun untuk melingkarkan tangan kanannya ke belakang, ke leherku, karena aku kan berdiri di belakangnya. Kucium lehernya, kurasakan debar jantungnya, dan bunyi nafasnya yang mengeras.., sepertinya dia bernafas dengan mulut. Lantas aku beralih ke bahunya yang terbuka. Kuangkat tangan kirinya untuk memegangi tengkuknya sendiri.
Saat kutatap cermin, kulihat sesuatu yang luar biasa. Bulu ketiak Eva Arnaz ternyata lebat sekali. Aku terkesiap. Wow!, seperti tak percaya melihat bulu hitam rimbun itu menghiasi bagian bawah lengannya. Kuangkat tangan kanannya. Sama lebatnya. Wow! Ajaib! Aku belum pernah melihat ketiak selebat itu. Lagi pula aku selama ini memang tertarik dengan ketiak yang berbulu.
Ya! Ketiak lebat ternyata memikat. Suatu hal yang selama ini membuatku risih ternyata merangsang. Dengan pelan aku raba kedua ketiak itu.
"Nggak pernah dicukur ya Mbak?", Eva Arnaz menggeleng dengan tersenyum.
"Biarin. Entah kenapa aku nggak merasa terganggu. Kamu tahu, dulu di asrama, waktu masih kuliah, aku dijuluki Ratu Ketiak. Karena sejak tahun kedua kuliah aku nggak mencukurnya. Buatku ini bukti kebebasanku, bukti ketidakpedulianku pada apa yang menurut orang lain pantas..".

Lalu kucium ketiak berbulu itu. Wow! Fantastik! Bau asli tubuh bersih menyergap hidungku, karena wanita yang mengerti tentang parfum memang tidak pernah memberi parfum di ketiaknya, kecuali deodorant. Bau ketiak wanita (asal tidak kelewat keras), itu yang aku sukai dari cewek-cewek yang kukencani selama ini. Kali ini bau alami itu bertambah dengan bulu lebat, sepanjang hampir 5-6 cm. Pantas dulu disebut Ratu Ketiak.

Dari ketiak kanan aku pindah ke ketiak kiri. Sama aroma dan sensasi bulunya dengan yang kanan. Aku terangsang sekali. Ukuran terangsang bukan cuma soal ereksi seberapa keras dan panjang, tapi juga gelora di dalam diri. Sejak tadi aku ereksi, tapi yang sekarang makin ditambah peningkatan nafsu.

Dengan hidung dan mulut di ketiak kirinya, kedua tanganku meraba kedua puting susunya. Keras sekali. Aku pegang lembut payudaranya yang kecil itu. Kenyal sekali. Ini sensasi baru buatku, karena aku tidak pernah tertarik dengan payudara kecil. Aku tidak bisa ereksi oleh payudara mungil. Bila berkencan dengan perempuan aku selalu memilih yang mempunyai payudara besar, ukuran 34 keatas (beberapa kali aku dapat yang ukuran 38C). Payudara Eva Arnaz sepertinya di bawah 34. Tapi kok merangsang ya? Nafsuku semakin berkobar. Ibarat bendera, mulai berkibar-kibar. Hanya gara-gara bulu ketiak dan payudara kecil (suatu hal yang belum pernah terjadi).

Akhirnya baju atas lingerie itu kulepas. Dan wow! Kudapati payudara kecil yang kencang, dengan puting mengeras. Puting itu berwarna gelap, tapi begitu merangsang bagiku. Aku selama ini mengencani wanita berkulit putih, termasuk bule, sehingga puting mereka berwarna terang, kalau bule malah kemerahan.
Aku remes pelan kedua payudaranya. Eva Arnaz cuma ah-uh-ah-uh. Kuciumi lehernya, tengkuknya, telinganya, bahunya, dan ketiaknya, sambil mempermainkan puting dan payudaranya.

Lalu aku duduk di kursi dekat meja rias. Aku ciumi puting dan payudaranya, dan kemudian aku kecup puting itu sehingga makin mengeras. Kudengar pinggul Eva Arnaz berkeletek, berbunyi tanda kontraksi otot saat wanita mulai disulut birahi.
"Mbak, aku terangsang. Aku suka ketek dan bulu Mbak, tetek dan puting Mbak..".
Eva Arnaz tersenyum. "Ajarin lagi aku sesuatu yang baru", katanya.
Aku selama ini memang suka dengan bulu lebat. Dalam pandanganku jorok, tidak sehat, cuma menimbulkan bau dan penyakit. Tapi kali ini begitu bernafsu ingin tahu, Eva Arnaz rupanya tahu.
"Kamu pingin liat lainnya yang lebat ya? Boleh..".
Aku menggeleng. Dia mengerutkan kening. Aku tersenyum, "Entar Mbak..".
Yang kulakukan sekarang adalah menciumi pusarnya lalu turun ke bawah, tanpa membuka celana lingerienya, sampai kurasakan bulu tebal tergesek satin dan hidungku.

Setelah itu kusisipkan jariku ke celananya. Kurasakan ketebalan bulu vaginanya yang lebat. Jariku seperti buta sejenak, tidak tahu kemana harus meraba clitoris dan labia majoranya.
Oh, jadi inilah pesona bulu vagina yang tebal, bisa menyembunyikan vulva. Cewek-cewek yang pernah kukencani berbulu vagina lebat, malah ada yang cuma beberapa lembar, sehingga begitu mengangkang sedikit saja, vulvanya langsung terlihat jelas. Dan itulah yang aku sukai. Itu yang membuatku ereksi. Bau khas vaginanya juga mulai menyergap hidungku. Aku kian terangsang.

Akhirnya jemariku mulai mengenal medan. Tahu mana yang clitoris, mana yang labia majora, mana yang labia minora. Lebih dari itu, jemariku basah sekali, seolah baru saja terendam di mangkok. Lingerie itupun basah, sehingga semakin menempel ke vulva, dan bulu lebat itu makin kentara. Pinggul Eva Arnaz terus berkeletekan, kontraksi karena terangsang.
"Kamu terlalu, Gus. Terlalu.., Ayo buka celanaku", katanya.
Dipeganginya kepalaku, dijambaknya rambutku yang gondrong, lalu digesek-gesekkan ke lingerie yang basah kuyup dengan aroma yang kian kentara itu.
"Aku terangsang Gus..".
Tiba-tiba dia mundur, menjauhkan kepalaku. Tak terasa aku sudah berlutut sejak tadi rupanya. Dengan cepat dia melepas sisa lingerie-nya, dan mencampakkannya ke lantai berkarpet. Wow! Luar biasa, bulu lebat membentuk segitiga seperti celana dalam. Lalu aku naikkan kaki kanannya ke kursi rias. Wah! Luar biasa. Kelebatan bulu vaginanya menutupi vulva. Aku sibak bulu vaginanya, lalu tampaklah vulva yang berwarna gelap, kecoklatan, bukan kemerahan, bukan coklat muda. Aneh! Aku kok bisa terangsang. Padahal kalau melihat gambar porno perek melayu yang berkulit hitam, meskipun payudaranya besar, toh vulvanya gelap. Dan itu menjijikkanku. Tapi kali ini aku terkesima. Aku sibak dan belai bulu vaginanya yang sedikit basah. Begitu pula vulvanya. Vulva seorang perawan matang yang mengkilap.

Aku terus memandanginya. Kutunda sekuat tenaga untuk tidak segera mengecup dan menjilatinya. Karena aku ingin menikmati pengalaman baruku secara bertahap dengan pelan. Dengan jempol kuraba clitorisnya yang menyembul keras dan gelap itu.
"Auwww..", Eva Arnaz bersuara.
Astaga! Jadi inilah clitoris si Mbak. Coklat tua, ada merah tuanya. Besar juga clit-nya. Aku putar pakai jempol.
"Ihh.., gila kamu Gus!".
Lalu jari telunjuk dan jari tengahku menjepit clitnya dan memutar-mutarkannya.
"Gila.., ghuillaa.., waohh", desahnya.
Nafasku mulai memburu. Eva Arnaz juga. Aku ambil break sejenak. Mundur, duduk, kaki selonjor di lantai, kedua tanganku di lantai menyangga badan. Saat dia akan menurunkan satu kakinya, aku bilang, "Jangan dulu Mbak.."

Kuamati tubuh di depanku itu. Barulah kusadari pancaran kewanitaannya. Tubuh Eva Arnaz memang kencang. Dalam umur 42 masih bagus badannya, karena masih perawan, belum pernah melahirkan. Lebih dari itu dia memang rajin senam dan fitness, begitupun renang. Sempat terbayang bagaimana ketiaknya terlihat kalau dia senam dan renang. Tubuh langsing padat, payudara kecil kencang, bulu vagina lebat merambat.
"Mbak aku pingin liat ketiak Mbak lagi..", pintaku.
Dia mengangkat kedua lengannya. Bayangkan. Satu kaki di kursi, kedua lengan terangkat, dada busung tegak. Oh indahnya. Oh wanita dewasa. Oh wanita matang. Oh wanita lajang. Oh wanita perindu kehangatan lelaki. Oh wanita matang lajang kesepian yang hanya berfantasi setiap hari sambil mendidihkan birahi untuk dirinya sendiri.
"Apa lagi sekarang Gus?".
"Mbak aku mau liat vulva Mbak..".
"Boleh. Nih liat..".
Wow! Tangan kanannya turun, lantas jemarinya merentang labia majora. Merah tua menggelap, tapi bagian dalamnya merah menyala. Begitu basah dan berkilau. Lendir yang encer terlihat jelas.

Sesaat aku menikmati pemandangan yang belum pernah kualami itu. Tangan kanan menyibak vulva, lengan kiri terangkat memamerkan ketiak lebat.
"Mbak jilat sendiri Mbak..".
Ah, dia mau melakukannya. Jemari itu dijilatinya, lalu digesekkan lagi ke vulva, jilat lagi, beberapa kali. Aku tidak tahan, lalu berdiri. Penisku kian mengeras, sehingga celana dalamku seperti menyimpan senjata. Ada setitik basahan di situ. Itu tetesan pertama maniku. Aku menghela nafas. Lalu melepas kaos.
"Tunjukin dong penismu" kata Eva Arnaz, lalu duduk di kursi rias itu. Aku mendekat.
"Badanmu bagus, Gus. Atletis".
Aku bersyukur, mempunyai tinggi 175 cm dengan berat 75, dan otot yang masih kencang.

Lalu dia meraba celanaku, lalu tonjolan penisku. Kemudian memelorotkan celanaku. Tuingg! Begitu celana dalamku merosot, maka batang penisku turun, tertarik ke bawah sesaat, untuk kemudian tegak mendongak. Dia memandangi penisku.
"Pegang Mbak", kataku.
Eva Arnaz nggak langsung menggenggam. Tapi merentang jempol dan kelingkingnya seperti mengukur panjang.
"Kayak pisang", katanya.
Lantas jempol dan telunjuknya melingkari pucuk penisku. Jarinya lentik, kukunya panjang terawat. Sexy juga ternyata. Kemudian dia menggenggamnya, tidak terlalu keras, sesaat saja, lalu dilepas.
"Hangat ya..", bisiknya mesra.

Kami sama-sama mengambil nafas. Aku menjauh sedikit. Baru sekarang terasa dinginnya AC kamar. Tapi aku tidak mau terburu-buru. Aku ingin mengulur tempo dan menikmatinya lebih lama, soalnya kan lagi ngajarin Eva Arnaz.
"Ke sofa lagi yuk Mbak", ajakku. Dia tersenyum. Lalu aku gandeng. Kami duduk berdua. Berhadapan. Aku cium bibirnya, dan kemudian matanya.
"Haus Mbak", bisikku.
"Iya Gus.., tenggorokanku juga kering".

Eva Arnaz berjalan menuju kulkas, mengambil orange juice kemasan botol. Kami minum bergantian dari botol yang sama. Lalu bersandar ke sofa, sama-sama diam. Tidak terasa sudah satu setengah jam lebih berlalu sejak acara pembukaan di cermin rias tadi. Nafasku kembali normal. Tapi penisku kembali mengendur, memang begitulah alam mengaturnya.
"Kok jadi kecil lagi?".
Aku tersenyum, "Memang gitu Mbak. Entar gede lagi. Mbak juga mengecil lagi klitnya pasti. Cairan vagina juga berhenti ngalir kan?". Dia mencium pipiku.
"Sini Mbak", kataku.
"Gimana lagi?", dia keheranan.

Dia kuminta untuk berdiri, kemudian aku dudukkan di pangkuanku. Tangan kananku menyangga punggungnya, tangan kiriku menyangga kakinya. Seperti membopong sambil duduk. Kami berciuman. Lipstiknya mulai menipis.
"Apa sih yang kamu sukai dari tubuhku Gus?". Aku menjawab dengan menciumi lehernya.
"Geli, nikmat, ahh..".
Kemudian dia kubalikkan, menghadap ke depan, tetap dalam pangkuanku di sofa. Aku pegang payudaranya. Aku mainkan puting susunya.
"Ternyata Eva Arnaz itu hangat ya?".
"Bukan kulkas, gitu?".
"Iya. Mbak juga penuh pesona kewanitaan".
"Bener?".
"Mbak ternyata punya nafsu..".
"Iya dong", ia berbisik.
"Mbak suka masturbasi juga?".
"Iya dong. Seminggu sekali, bisa dua kali, pernah tiga kali. Aku tahu masturbasi sejak umur 20, dulu sih 3 minggu sekali. Akhirnya mulai umur 30 gairahku malah bertambah. Kadang aku bayangin temen-temen cewek itu, udah kenal penis umur 20, sampai sekarang udah bersetubuh berapa kali coba? Sementara aku cuma bisa masturbasi".
"Mbak mau dimasturbasi nggak?". Dia mengangguk.

Lalu kakinya kukangkangkan, dengan posisi tetap jongkok di pangkuanku. Aku ajak dia bekerja sama, jemari dan telapak tanganku untuk memainkan vulvanya, tapi yang menggerakkan tanganku adalah tangannya. Luar biasa. Aku jadi tahu bagaimana si Mbak memburu nikmat. Mulanya memainkan clit. Lantas labia majora. Mulanya gerakannya pelan. Akhirnya kencang, maju-mundur, berputar-putar, sampai tanganku pegal.

Lima belas menit berlalu, si Mbak sudah mendesis-desis, sampai akhirnya tubuhnya mengejang sejenak. Kuambil telapakku, aku ciumi dengan hidung dan mulut. Basah penuh aroma.
Mbak pingin apa sekarang?".
"Ouhh.., pake nanya. Terserah..".
Dia kuberdirikan. Aku berlutut di depannya. Aku cium paha kanannya, lalu kiri, lalu kanan, lalu pusarnya. Dia cuma ah-uh-ah-uh saja. Aku ulangi terus, kira-kira lima menit lamanya.

Akhirnya dia tidak sabar lagi. Kepalaku ditarik olehnya, lalu mukaku ditempelkan ke bulu vaginanya. Aku cuma menggesek-gesek hidung di rumput lebat itu. Lantas dia mengangkat satu kakinya di sofa, kaki yang lain tetap berdiri menyangga tubuhnya di lantai. Dengan pelan aku gesekkan hidungku ke clit-nya, lalu labia majoranya. Aku merasakan vulva-nya yang kian basah itu. Aku bisa merasakan bahwa bertambah basahnya vulva Eva Arnaz bukan karena saliva-ku, akan tetapi terlebih karena dari lubang vagina itu memang membanjir cairan encer. Begitu banyak cairan yang merembes, sehingga aku bisa menghirup sambil menyedotnya. Slurping, kata orang bule.., Segar juga. Mungkin inilah jamunya seorang pria, cairan vagina wanita lajang yang masih virgin.

Eva Arnaz tidak kuat dengan perlakuanku, kakinya sampai gemeter, lalu dia duduk di sofa. Kepalaku menyeruak masuk. Kedua pahanya kuangkat pakai tangan. Kini dia duduk bertambah maju sedikit. Kedua kakinya terangkat, sampai bagian belakang lututnya bertumpu pada pundakku. Aku julurkan lidahku di depan vulvanya yang basah itu, cuma di depannya, belum menempel. Masih jauh, malah. Kira-kira sejengkal dari sasaran. Aku diam terus sambil menjulurkan lidah. Eva Arnaz jadi gemas dibuatnya.
"Cepet dong. Kamu jahat, Gus. Aku udah nggak tahan..".
Ya, tunggu apa lagi? Dengan kedua jempolku aku rentang labia-nya. Merah tua kecoklatan, mengkilat basah. Clitorisnya mengeras, seperti biji kacang garing. Ah nggak, clitoris manis ini seperti kacang mete, begitu pula ukurannya.

Dengan pelan kutempelkan ujung lidah ke clitorisnya yang mulai keras itu. Cuma menempel, tidak kugesekkan, tidak kujilatin.
"Auhh.., geli.., nikmat.., terus dong", katanya.
Sekarang lidahku mulai bermain. Clit itu aku jilati. Tubuhnya bergetar. Lidahku terus menjelajah ke labia majora, ke seluruh vulva, sampai banjir permukaan vaginanya, karena campuran saliva dan cairan vagina. Dia terengah-engah.
"Ouhh..", Eva Arnaz cuma bersuara begitu. Pertama-tama Eva Arnaz aku minta mengocok penisku sampai tegak sempurna. Lima menit kemudian penisku tegang kembali. Air maniku sudah mendidih rasanya. Aku rebahan di ranjang. Eva Arnazdriani di atas, meniduriku.
"Ayo Mbak tindih aku, pelan-pelan aja, digesekin tuh memek Mbak, kayak onani".
Dia menurut saja. Naik turun, maju mundur, akhirnya kini vagina Eva Arnaz telah telah basah. Penisku basah. Sudah deh, tidak ada foreplay lagi. Yang penting kini vaginanya sudah basah. Kemudian aku biarkan sendiri nalurinya sebagai wanita dewasa yang matang menuntun birahinya yang menyala-nyala semerah dinding dalam liang vaginanya.

Mula-mula penisku cuma masuk dua senti. Seret dan licin. Asyik juga. Eva Arnaz merem melek. Cabut lagi, masuk lagi. Vaginanya semakin basah. Lubang vaginanya makin longgar. Kudorong lagi hingga bertambah 1 senti. Eva Arnaz merem melek. Kuulang-ulang terus, aku lupa berapa kali, sampai akhirnya "slepp..", burungku menembus pelan vagina yang selalu membuatku onani setiap hari itu.
"Nggak sakit Mbak?", tanyaku.
"Nggak", bisiknya.

Dia menggelindingkan tubuh di sampingku. Nafasnya tersengal-sengal. Aku bangun berdiri. Dia masih rebahan. Kupandangi tubuhnya yang mengkilat, dengan kaki mengangkang dan lengan terentang hingga ketiaknya yang lebat itu tampak. Ah indahnya kejalangan seorang Eva Arnaz!
Dia memandangi penisku yang teracung tegak. Aku pegang batangku. "Jangan sekarang", katanya. Aku mengalah. Padahal nafsuku sudah sampai ke ubun-ubun.

Lantas Eva Arnaz kubimbing untuk berdiri, duduk di sofa, dan aku ambilkan minuman untuknya.
"Thanx..", katanya.
"Mbak capek?", tanyaku. Dia mengangguk.
"Sini aku pijitin", kataku.
Dia menurut ketika aku telungkupkann tubuhnya di sofa. Aku mulai memijat kakinya, lalu pinggangnya, dan punggungnya.
"hh.., nikmat.., kamu pinter, Gus".
Saat itu penisku mulai mengendor. Nafsuku mulai berkurang.

Sekitar seperempat jam itu kupijati dia. Kini giliran mulut dan hidungku menciumi punggungnya, pinggangnya, pantatnya, dan entah apa lagi, pokoknya oral seks kupraktekkan lagi. Lendir mengalir membanjir. Penisku menegang lagi. Beberapa tetes mani beningpun keluar karena tidak tahan oleh birahiku yang kian menggila.
"Aku basah Mbak", kataku.
Eva Arnaz menoleh melihat penis tegakku yang pucuknya basah. Dia terbelalak. Lagi-lagi posisi tadi berulang. Bau keringat dan cairan vagina bercampur. Aku tidak tahu sudah berapa cc menghirup lendir encer yang keluar dari lubang vagina si perawan tua ini. Beberapa kali dia mengejang. Mungkin empat kali. Dan puncaknya adalah, "Mememekku Guss.., Itiillku.., nggak tahan. Itillkuu mauu lepass.., Auh!".
Dia orgasme hebat. Vaginanya seperti menyempit tiba-tiba.

Kami sama-sama lelah. Lalu beristirahat.
"Mandi air hangat yuk", kataku.
Kami ke kamar mandi, menyegarkan diri dengan shower. Tanpa percumbuan, tanpa birahi, tanpa nafsu. Saling menyabuni dan mengeramasi. Penisku sudah mengecil.
"Lucu ih", kata Eva Arnaz sembari meremas penisku yang terkulai. Lalu kami tidur. Berpelukan dalam kamar sejuk ber-AC. Dengan segera aku terlelap karena kecapean.

Kami tertidur, sudah jam 3 pagi lebih. Capek dan ngantuk sekali. Ototku seperti terurai. Kami berpelukan di ranjang Eva Arnaz, ranjang perawan tua yang selalu kesepian, menjadi saksi tiap kali si lajang onani karena diamuk birahi, menjadi saksi tiap kali beberapa helai bulu vaginanya rontok saat digusel oleh tangannya sendiri.

Di kamar ber-AC itu kami terlelap. Aku benamkan wajahku di ketiaknya yang lebat. Entah jam berapa aku tidak tahu karena Eva Arnaz membangunkanku.
"Ini apaan? Kamu ngompol yah?", tanyanya. Ternyata sprei telah basah oleh maniku, sebagian menyentuh pantat Eva Arnaz.
"Ini maniku Mbak. Habis tertahan terus sih di dalam akhirnya cari jalan keluar sendiri. Aku sih nggak tahu, soalnya lagi tidur tadi", kataku tersipu.
"Ih hangat dan lengket ya", katanya.
"Bayangin aja kalo ini mengalir ke memek Mbak", kataku.
"Nakal kamu", dia mencubitku.
Dengan tissu kubersihkan ceceran maninya. Setelah itu aku tertidur lagi karena masih mengantuk. Eva Arnaz sepertinya juga tertidur.

Aku terus memeluk dari belakang. Tanganku menggusel payudara mungilnya yang keras, payudara yang tidak pernah merasakan kenakalan lelaki muda. Hidungku merasakan sensasi gila yang luar biasa, bulu ketiak yang hitam lebat dan panjang.
"Ketek gini kok dianggurin bertahun-tahun sih Mbak", tanyaku.
"Dianggurin gimana?", tanyanya.
"Ya dianggurin dalam arti nggak pernah diciumin laki, nggak pernah digosokin burung".
"Heh, burung main di ketek? Bisa? Coba dong..".

Make up-nya Eva Arnaz sudah selesai. Sekarang dia duduk di kursi rias, lantas kedua lengannya diangkat sehingga bulu ketiaknya tampak jelas. Penisku yang tegang, aku gosokkan ke ketiaknya. Wuahh.., hangat, lembbut, seperti menyentuh bulu vagina. Eva Arnaz melihatku dengan pandangan mesra. Penisku semakin besar dan mengeras. Ingin sekali rasanya minta penisku dicium, dijilat lalu dihisap olehnya. Tapi nanti dulu, kalau serba mendadak bisa trauma nanti dan jadi alergi dengan penis.

Akhirnya aku tidak tahan juga. Rasanya maniku sudah mendidih. Belum pernah aku onani memakai bulu ketiak, dulu aku tidakak suka dengan cewek yang ketiaknya berbulu. Karena tidak sabar aku gesekkan penisku ke ketiaknya sambil kukocok.
"Mbak aku udah nggak kuat, bayangin dari semalem cuma nahan burung supaya nggak masuk memekmu, jadi gimana dong..". Eva Arnaz tersenyum.
"Mbak, bantu dong Mbak", pintaku. Tangannya meraih penisku lalu mengocoknya pelan.
"Cepat Mbak. Dia menurut. Terus Mbak..".
"Aduh pegel nih.., gantian tangan kiri ya..", Aku tidak bisa berkata apa-apa cuma mengangguk. Air maniku yang mendidih tadi tidak jadi keluar. Yang pasti rangsangan yang kuterima semakin kuat.

Eva Arnaz mulai berkeringat. Uh, tambah cantik melihat si perawan tua yang berberbulu ketiak lebat ini berpeluh. Ketiaknya juga basah, payudaranya juga.
"Tanganku capek..", katanya. Ya sudah aku kocok sendiri penisku.
"Kamu pingin apa Gus?", tanyanya.
Aku bilang, "Pokoknya pingin nikmat, tuntas, sampe orgasme dan maniku terkuras abis".
"Tapi aku belon siap buat bersetubuh. Memekku belon siap dirobek selaputnya. Belon siap disembur cairan lelaki..", katanya manja.
"Yah gimana Mbak, aku nggak bisa mikir nih". Eva Arnaz jongkok. Mengamati dari dekat caraku mengocok penis. Mulutnya ternganga.

"Oh gitu ya.., gila..", katanya. Aku sudah tidak tahan.
"Awas Mbak mau muncrat nih!", Eva Arnaz terbelalak.
Aduh bagaimana kalau mani ini nanti kena mukanya, kena bibirnya. Dia kan masih perawan. Vaginanya saja belum pernah disembur mani, kok muka dan mulutnya, kasihan..
"Terus Gus!", katanya.Tangannya menyingkirkan tanganku.
"Biar aku aja", katanya. Aku nurut saja.
Tangan lembut berjemari lentik itu mengocok penisku pelan-pelan. Aku sudah tidak tahan.
"Cepetan Mbak!", kataku. Dia semakin cepat mengocok penisku.
"Mbak angkat dong lengan kiri. Aku mau lihat ketiakmu yang lebat itu..".
Jadilah dia jongkok sambil mengangkat lengan memamerkan ketiak hebat yang berbulu luar biasa. Aku semakin bernafsu. Akhirnya aku cuma bisa berkata, "Awass..". Dan "Crat.., crat.., crat", air maniku muncrat keras, banyak, dan kental. Eva Arnaz sempat menarik muka menjauh, tapi payudaranya yang mungil dan kencang itu terkena semprotan air maniku.
"Uh, yang namanya mani ternyata hangat ya..".
Dioles-oleskannya air maniku ke seluruh payudaranya.
"Kok lengket ya.., Kayaknya superglue, hihihik.., Gimana kalo misalnya masuk ke memekku.., Ih aku harus ganti beha nih..".

Eva Arnaz masih terheran-heran oleh air maniku, benda yang baru dilihatnya ketika usianya sudah 20 thn. Dalam ruang ber-AC mani yang teroles rata di payudaranya cepat mengering.
"Wahh.., ini rupanya krim pengencang tetek. Di kulit kenceng rasanya, Gus..".
"Buat facial juga bisa Mbak. Makanya di VCD selalu ada facial cumshot..".
"Ih, nakal deh kamu", katanya sambil mencubit pipiku.
Aku capek sekali. Terima kasih Eva Arnaz sayang, perawan tuaku. Pagi itu kami berangkat bersama dan sepakat untuk ketemu lagi buat belajar seks. Kami sering bertemu. Jalan-jalan, makan, nonton, seperti orang pacaran. Lalu ya biasalah main seks tanpa persetubuhan. Hal itu berlangsung 5 bulan. Kami bertemu seminggu 2 kali. Oral seks itu rutin. Hanya aku yang melakukan oral seks pada dia, dianya sendiri tidak pernah melakukan oral pada penisku. Ini prestasi buatku. Kencan sudah hot, tapi tidak ada persetubuhan. Vagina Eva Arnaz bisa dijilat dan dihisap sampai kering, tapi keperawanannya masih tetap terjaga. Air maniku sudah bocor berkali-kali, tapi tidak setetespun yang menyelinap ke cervix si lajang hangat bernafsu kuat itu. Maka hanya cunnilingus (tanpa diimbangi felatio) yang selalu berlangsung.

Tak apa. Aku sendiri suka bisa mengerem nafsu, sekaligus belajar memperoleh kepuasan tanpa menancapkan penis ke lubang vagina yang tiada henti mendambakan kenikmatan, lubang vagina yang sebetulnya memendam iri pada vagina wanita lain yang sering dijejali penis dan ditumpahi mani hangat. Tapi, yah.., vaginanya saja belum kena penis, masak mulutnya sudah dimasukkin penis, Kasihan kan? Pemanasan kami tentu dengan nonton BF di VCD. Aku kan punya banyak koleksi film BF. Juga dari majalah.

Ternyata Eva Arnaz si perawan tua ini punya beberapa majalah hot. Katanya sih seperti surat kaleng mendapatkannya. Diposkan ke rumah tanpa nama pengirim. Dia menduga dari cewek-cewek di kantornya yang baru saja pulang dari luar negeri. Majalah itu menjadi bahan onaninya Eva Arnaz. Atau juga onani kami berdua. Muncratnya air maniku ya paling-paling di payudara mungilnya, atau di perutnya, pernah di pusarnya dan ceceran air maniku itu merambat ke bulu lebatnya.

Hari itu Eva Arnaz genap 20 tahun. Cuma kami rayakan berdua saja di sebuah restoran di hotel berbintang lima. Dia seksi sekali malam itu. Memakai sack dress ketat tanpa lengan, tanpa BH. Karena dia punya kebiasaan menyibak rambut, sehingga bila lengannya terangkat, maka ketiak hebat itu tampak. Aku lihat pelayan restoran dan pengunjung lain pada ngeliatin. Eva Arnaz sendiri sepertinya bangga dengan ketiaknya sekarang.

Pulang dari restoran kami bercumbu, seperti biasanya. Pakai oral, pakai kocok-kocokan, hingga air maniku mau habis. Eva Arnaz sudah terbiasa dengan muncratan mani. Dibiarkannya air maniku membasahi payudaranya bahkan lehernya. Kadang di perutnya, tepat di pusar. Eva Arnaz makin pintar. Cara mengocoknya semakin hebat. Paduan irama lambat kadang cepat bisa menguras maniku. Kadang penisku digesek-gesekkannya ke ketiak lebatnya, ke payudara mungilnya. Air maniku pernah menetes di ketiaknya. Habis nikmat sih, seperti menggesek bulu vagina.
"Hari ini aku genap 20 tahun, Gus. Jadikan aku wanita selengkap-lenglapnya" pintanya, setelah kami istirahat karena kecapekan.

Hari sudah menjelang pagi. Tapi penisku masih bisa berdiri tegak. Inilah saatnya untuk membobol si perawan tua ratu jembut yang jago onani itu, yang vaginanya merindukan sodokan dan elusan batangan daging bertulang lunak, dengan moncong water canon yang siap menembakkan cairan kental yang kencang di kulit wanita. Aku tentu saja mengiyakan.
"Terserah caramu, asal nikmat", katanya.

Di atas tubuhku Eva Arnaz bergeser pelan, memutar pinggul, goyang kanan kiri. Serba pelan. Kali ini dia tidak banyak bicara. Cuma merem melek sambil ah.., uh.., ah.
Vagina perawan tua itu tiba-tiba seperti menyempit dan menyedot penisku.
"Mbak, Aku mau keluar., Mbak!", Eva Arnaz cuma menciumku dengan mesara. Keringatnya menetes di wajahku. Aku tidak ingat apa-apa lagi. Rasanya seluruh cairan kelelakianku tersedeot. Seluruh tubuhku seperti diperas. Inilah orgasme hebat yang jarang kualami. Ternyata aku tidak muncrat, cuma mengalir pelan tapi banyak maninya. Saat itu juga Eva Arnaz orgasme. Tubuhnya mengejang, menggelepar di atas tubuhku, dengan keringat membasahi tubuh. Bau ketiaknya kian merangsang.

Dia terpejam menikmati orgasmenya yang pertama kali lewat persetubuhan.
"Oh indahnya. Terima kasih Gus", katanya.
Tidak ada jeritan liar yang menyebutkan segala genital dalam bahasa sehari-hari. Tidak ada teriakan tertahan. Semuanya begitu lembut, hangat, dan indah.
Inilah kelebihan wanita. Biar belum pernah melakukan oral seks di penisku, toh terampil juga. Dia hisap, dia kocok, dia jilat, sedot, lumat, kocok, sampai akhirnya aku tidak tahan. Menjelang puncakku, Eva Arnaz melepaskan mulutnya. Si lajang penuh birahi itupun turun dari ranjang, lalu bersimpuh di lantai. Aku disuruhnya bangun dan berdiri. Maniku sudah tidak tahan. Lalu dia mengocok lagi penisku sambil jongkok, sementara aku berdiri.
"Mbak pake satu tangan aja. Tangan Mbak yang satunya diangkat, biar aku muncrat sambil menikmati jembut ketek yang fantastis itu..", pintaku. Oh, dia menurutiku. Maka tangan kiri mengocok pelan penisku, tangan kanan terangkat, merentang lengan, sampai ketiaknya terlihat jelas. Penisku semakin menegang. Jilatannya makin gila. Kocokannya makin habat.
"Mbaak..", aku menjerit tertahan. Semuanya berlangsung cepat. Maniku muncrat, "Crat.., crat.., crat", Masuk ke mulutnya, tapi tidak tertampung semuanya. Jadilah membasahi pipi dan hidungnya. Bibirnya belepotan mani. Sebagian menetes ke payudaranya yang mungil tapi keras kenyal itu.
"Enak juga mani ternyata", katanya setelah kami terengah-engah duduk di lantai. Kami istirahat.

Dan terakhir.., aku masukkan pula jariku, berputar-putar di dalam, menggapai G-Spot Eva Arnaz, sementara bibir dan lidahku menggarap daerah pembangkit birahinya. Tentu saja Eva Arnazdriani jadi blingsatan.
Ketika dia menjerit, "Itilkuu lepas..", saat itulah vaginanya membanjir dan membasahi tenggorokanku, asem asin rasanya. Dan bulu vaginanya itu basah kuyup, oleh campuran lendir vagina dan ludahku. Hari ini memang nikmat sekali.

Suatu kali Mbak punya permintaan gila, ingin main bertiga dengan cewek lain. Aku yang harus mencari ceweknya. Tapi itu soal kecil. Aku dulu, sebelum sama Eva Arnaz, suka jajan, jadi punya langganan cewek nakal. Langgananku yang aku sukai adalah Susi. Tubuhnya sintal, kulitnya putih, payudaranya 38, bulu vaginanya lebat, vaginanya merah. Dia jago oral seks. Aku mengontak ke handphone Susi dan dia setuju. Kami janjian di motel Pondok Nirwana di Cawang. Ngakunya sih dia juga kangen.

Di motel aku dan Eva Arnaz check in ke kamar VIP, menutup rolling door, lalu nonton video yang disiarin di TV yang tergantung di atas. Isinya orang bersetubuh, kebetulan main keroyokan, satu pria menghadapi empat perempuan. Puncaknya air maninya menjadi rebutan empat mulut mungil. Wah aku juga mau tuh! Sambil nonton kami petting. Aku cuma memakai celana dalam. Eva Arnaz memakai lingerie satin putih yang tembus pandang, sehingga bulu vaginanya lari kemana-mana.

Ketika Susi datang, Eva Arnaz seang pipis. Tidah tahu, kenapa lama sekali di toilet ya. Padahal begitu Susi datang kami langsung berciuman karena kangen. Ketika berpelukan aku tambah ereksi. Susi memakai rok mini dan koas you can see ketat. Langsung kulepas CD-ku.
"Ya ampun Gus, udah napsu banget ya.., Apa nih, minta diisep dulu apa langsung tancep ke memek?".
Aku tidak menjawab, Susi langsung jongkok mengisap penisku. Sambil dikocoknya pelan. Sudah biasa tuh kami kencan di sini. Ketika sedang nikmat-enaknya dioral, eh Eva Arnaz keluar. Susi tentu saja kaget dan malu. Dia salah tingkah. Eva Arnaz segera mengatasi keadaan.
"Nggak usah malu, Sus. Ini memang mauku. Aku pingin belajar dari kalian".

Lalu aku menjelaskan kalau kami butuh selingan. Aku mengaku kami ini pengantin baru. Susi agak heran, kok aku memanggil "istriku" itu Mbak. Tapi namanya saja bisnis, Susi minta tambah. Kalau sendirian melayani aku Rp 300.000, maka kali ini minta Rp 500.000.
Eva Arnaz karena nafsunya sudah di ubun-ubun, mengiyakan saja. Uang dia kan banyak.
"Aku udah sediain cash cukup kok hari ini..", Hebat juga si jembut lebat ini, bisa mengantisipasi.
"Mbak pinginnya gimana?", tanya Susi.
Ternyata Eva Arnaz maunya melihat dia striptis, setelah itu pingin melihat dia bersetubuh denganku. Susi mau. Aku dan Mbak melihat striptisnya dari ranjang sambil saling merangsang. Makin hebat striptisnya Susi, Eva Arnaz makin basah. Padahal Susi belum telanjang.

Ketika Susi telanjang, Eva Arnaz kian terbakar. Dia meniru Susi mempermainkan payudara dan puting susunya. Dia juga meniru waktu Susi memasukkan dua jari ke vagina lalu menjilatinya. Aku tentu saja makin ereksi.
"Oh gini rupanya cara merangsang lelaki", kata Eva Arnaz. Ketika Susi nungging, lalu memasukkan jarinya ke vaginanya dari belakang, Eva Arnaz menirukannya. Waktu Susi menyodorkan telapak tangannya untuk minta ludahku, yang mana tangan basah itu akhirnya dia oleskan ke vagina dan anusnya, Eva Arnaz juga ikut. Jadi kering tuh tenggorokanku. Susi sambil nungging memasukkan jari ke anusnya, Eva Arnaz mengikutinya. Hanya satu yang Eva Arnaz tidak bisa, menjilati putingnya sendiri.

Akhirnya aku punya ide. Susi aku minta berdiri, mengangkat lengan, lalu menjilati ketiaknya. Eva Arnaz yang duduk bersandar di atas kasur ikut mencobanya. Wow, seksi sekali. Ketiak lebat itu basah oleh jilatannya sendiri.

Akhirnya Eva Arnaz tidak tahan waktu melihat Susi mengangkangkan satu kaki di atas ranjang, sambil meremas vaginanya yang merah yang berbulu lebat itu. Susi, gadis sipit dari Pontianak itu memang sensual dan erotis. Eva Arnaz terengah.
"Udah giliranku dulu baru kamu Sus. Ayo Gus, mana burungmu..".

Aku menarik Eva Arnaz ke sofa. Aku duduk seperti memangkunya, lalu Eva Arnaz jongkok di atas pangkuanku sambil mengangkang, dengan begitu penisku bisa menembus vagina Eva Arnaz yang lebih gelap dari Susi. "Blkess..", nikmat sekali masuknya karena sudah licin vagina Eva Arnaz si lajang gila seks. Susi hanya melihat saja. Akhirnya dia punya inisiatif. Dia ciumi vagina Eva Arnaz dan penisku, sementara pantat Eva Arnaz naik turun.
Jadi begini posisinya. Eva Arnaz mengangkang di pangkuanku, menghadap ke depan, dengan vagina tertembus penis, sementara Susi nungging di depan sofa dengan muka menempel di kemaluan kami. Jilatan Susi kian menggila. Ketika penisku keluar, karena meleset gara-gara vagina Eva Arnaz sudah banjir, segera ditangkapnya dan dikocok. Sementara mulutnya masih menggarap clitoris dan vagina Eva Arnaz.

Mbak terengah-engah. Kadang menjerit. Susi memang pintar. Jam terbangnya sebagai wanita nakal tahu bahwa penisku mau muncrat. Maka peniskupun digenggamnya erat, agar kecekik, sehingga maniku tertahan. Sementara itu mulut dan tangan kanan Susi sibuk menggerayangi tubuh Eva Arnaz. Si Mbak rupanya sudah tidak peduli kalau penisku sudah tidak di dalam vaginanya lagi. Oralnya si Susi telah melambungkannya ke alam birahi ternikmat di dunia.

Akhirnya Eva Arnaz mencapai klimaks. Aku dengar suara mulut Susi mengisap-isap cairan vagina Mbak. "Slrpp..". Beberapa kali Eva Arnaz klimaks, sampai akhirnya menjerit, "Memek, memek, memekkuu.., nggak tahan.., Lu memang lonte hebat Susi.., Ajarin aku buat menikmatin seks.., Auhh.., itilku mau lepas, aku kebelet pipis, memekku mau pecah.., Mana burung, mana mani..".
Semakin seru ucapan Eva Arnaz di ambang puncak dari segala puncak birahinya.

Akhirnya semuanya usai. Eva Arnaz terkulai, dengan vagina memerah basah, begitu pula bulu lebatnya yang basah kuyup, karena campuran cairan vagina dan ludah si amoy Susi. Eva Arnazdriani turun dari pangkuanku, lalu merebahkan diri di kasur. Aku sudah tidak tahan. Maka segera aku kocok penisku.
Susi tiba-tiba bilang, "Jangan Gus. Itu buatku. Lu pikir gue nggak kangen juga. Biar lonte gue juga butuh nikmat lho.."

Susi rebah di ranjang, di sebelah Eva Arnaz, lalu mengangkang, dan penisku ditariknya. Lalu, "Bles..". Baru dua menit aku sudah muncrat habis-habisan. Tapi aku tahu siapa Susi karena aku langganannya. Justru ketika aku muncrat itulah dia mulai beranjak orgasme. Ketika penisku melemas, dia seperti berpacu dengan waktu, agar bisa mencapai puncak, sementara vaginanya kian licin karena sperma, dan penisku bisa tergelincir keluar.

Akhirnya dia puncak juga. Dan memberi servis extra, melumat penisku yang melemas dengan mulutnya, sampai penisku betul-betul mengerut kecil dan kering maninya. Setelah itu kami istirahat, memesan makanan yang diantar oleh pelayan. Kami telanjang. Pelayan motel tidak bakal melihat, karena nganternya cuma dari lubang.
"Gua mau mandi ah", kata Susi. Dia memang cuma makan sedikit, sehingga dengan nikmat bisa mutusin buat mandi. Begitu shower di kamar mandi terdengar, Eva Arnaz meraihku.
"Masih bisa berdiri nggak, Gus?".
"Aduh, aku capek Mbak, udah lemas..".
"Ya udah, kita 69 aja ya.., Aku lagi birahi tinggi nih.., Biasa, mau mens Gus".

Lalu kami ber-69. Mula-mula aku keringkan vagina basah dengan bulu yang awut-awutan dengan celana dalam Eva Arnaz. Itu yang sering aku lakukan, mengepel vagina dengan underwearnya Eva Arnaz.

Setelah vaginanya kering, aku jelajahi dengan mulutku. Rupanya cairan vagina Eva Arnaz juga sudah habis. Jadi aku harus mengeluarkan saliva-ku agar vaginanya basah. Karena aku berposisi 69 di atas, maka kusibak lubang itu selebar-lebarnya, lalu aku ludahi. Setelah basah, aku mengulum clitoris Eva Arnaz yang sebesar mete itu.

Setelah kami berukar posisi. Dia di atas. Setelah itu jariku masuk ke vaginanya. Satu jari dulu, jari tengah, keluar masuk, berputar-putar, menjelajahi lubang si lajang jalang. Lalu dua jari, jari tengah dan telunjuk. Selama dalam lubang, sebisa mungkin aku membentuk tanda V, sambil mengeksplorasi liang Eva Arnazdriani. Dia mulai terangsang. Mulai merintih. Mulai basah. Akhirnya tiga jariku masuk ke vaginanya, dan berputar-putar.
"Gilaa.., kenapa nggak dari dulu kamu lakukan Gus? Teruss..".
Karena di atas, maka lebih leluasa. Pinggulnya terus bergerak. Aku sempat kehabisan napas, soalnya hidung dan mulutku digusel vagina dan bulu vaginanya tiada henti, sehingga oksigen terhambat masuk ke mulut dan hidungku. Eva Arnaz sendiri makin kuat mengulum dan mengocok penisku. Akhirnya aku ereksi sedikit, dan akhirnya bisa berdiri tegak.
"Terus Mbak, dikocok, diemut, dijilat.., Terus.., sampe keluar maniku..".
"Sayang banget kalo kamu muncrat sekarang. Masukin dulu ke lubangku, baru kamu boleh muncrat..".
"Tapi Mbak di atas ya..".
Eva Arnaz tidak menjawsab, tapi langsung ganti posisi. Dia menindihku dan dalam sekejap vaginanya tertembus oleh penisku. Dia terus bergerak. Keringatnya membanjir. Lipstiknya habis. Rambutnya acak-acakan. Tapi entah mengapa dia jadi kelihatan cantik sekaligus jalang.
"Gus kamu tahan nafsumu, jangan ikutan aktif, biar nggak nggak cepat muncrat..". Lalu dia memacu diri.

Saat itulah Susi keluar dari kamar mandi, cuma dililit handuk.
"Ayo Susi sayang, bantu aku..".
Susi ketawa, "Udah tuntasin aja secepatnya Mbak..".
"Ayo Sus..", kata Eva Arnaz.
"Tapi tambah Rp 75.000 ya?".
"Terlalu lu Sus.., Komersil banget sih?".
"Gue kan nyari nafkah Mbak.." Sambil menjawab, Susi sudah duduk di samping kami. Tangannya meraba biji pelirku.
"Gini deh, mulut gue udah capek nih. Gimana kalo pake jari, tapi gratis?".

Eva Arnaz yang terengah-engah itu tidak menjawab. Yang terasa sekarang adalah penisku seperti punya teman di lubang. Jari tengah Susi ikut menembus vagina. Eva Arnaz blingsatan. Mulai ngomong jorok.
"Bagus, Sus, bagus.., Gila, itil gue lu jepit pake jari ya?, Uhh", Eva Arnaz kian berkeringat. Aku tidak melihat apa yang sedang trjadi, karena posisiku tidak memungkinkan untuk tahu. Bayangkan, Eva Arnaz di atas, dan terus menciumiku. Aku tahu, birahinya mulai menanjak kencang. Yang pasti kurasakan jemari Susi bermain-main di kemaluan kami.
"Gila! Dua jari njepit itilku, lalu jempolnya masuk dubur... Nikmat Gus! Gila Gus. Jempolnya udah digantiin jari lain.., gilaa, Uhh aku sampai puncak!".

Eva Arnaz bergerak liar, akibatnya penisku terlepas. Tapi dia tidak mempedulikan penisku lagi, soalnya jemari Susi terus memburu, menggarap clitoris dan anus. Akhirnya Eva Arnaz terkulai setelah menjerit, "Akuu!". Aku sendiri segera mengocok penisku. Tidak sampai semenit penisku sudah mendidih dan siap muncrat. Dengan segera aku bangkit, memiringkan badan, dan mengarahkan penisku ke wajah Eva Arnaz yang tergolek kelelahan dengan nafas terengah-engah. "Cratt.., tes.., tes..", Air maniku menyiram wajah Eva Arnaz yang siang ini tampak cantik sekali. Kena pipinya, hidungnya, bibirnya, bahkan matanya. Itulah salah satu petualangan ku dengan Eva Arnaz.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> 
Cerita 1
Dia sudah tak kuat lagi dan disergahnya bibir vagina bejembut lebatku. Aku cepat mendekap kepalanya dan "Ssshhh... ahhh... Andi cium terus Ndi... Mbak ingin sekali..." Andi mencium kedua tepi bibir dan lidahnya mencari-cari dan menari-nari di atas tepi bibir vagina bejembut lebat. Klitorisku yang sebesar kacang merah mengeras dan keluar dari ujung atas vagina bejembut lebatku dan "Ahhh... ahhh..." lidah Andi terasa melewati dan kasap sekali seperti amplas. Aku sudah tak kuat lagi dan nafasku menderu-deru bak angin puyuh. Andi mendekap pantatku dan diangkatnya aku dari tangga. Dasar anak muda kuat sekali, dia menggendongku dalam posisi demikian. Aku pun tak takut jatuh lagi, pikiranku nanar menikmati sedotan mulutnya.

Dibawanya aku keranjang besar dan direbahkannya lembut di sana. Sambil jalan tadi mulutnya tak lepas dari vagina bejembut lebatku yang sudah kuyup dengan cairanku. Akhirnya dalam 2 menit aku menjerit, "Aaauhhh..." dan kutekan dengan pinggangku dan kulipatkan pahaku di sisi kepalanya dengan kuat. Mulut Andi menyedot kencang di klitorisku dan meletuslah orgasmeku yang pertama sejak 2 bulan ini. Mataku berkaca-kaca dan nanar. "Andi... Andi... enakkk... enakkk sekali... terus... terus... Ndi..." keluhku. Kulihat Andi pun terengah-engah, "Mbak... Mbak... tolong lepas dong pahanya, Andi hampir tidak bisa nafas nih..." Kulepaskan kempitan pahaku dan segera kududuk bersimpuh di ranjang dan kutarik dasterku ke atas, terpana Andi melihat buah dadaku masih keras dan berdiri dengan sedikit pongah dalam ukuran 38C.
Diulurkan secara pelan tangannya takut-takut, langsung kusambar dan kuletakkan di atas putingku, segera diremas-remasnya bak tukang roti meremas-remas adonan terigu. Putingku terasa tertekan di telapak yang kasap sekali dan seketika nanar kembali pandanganku. Mataku berkaca-kaca. Nikmatnya langsung seperti listrik mengalir spontan ke arah vagina bejembut lebatku yang baru saja orgasme. Kutarik, kutindih si Andi dan sambil menarik ke bawah celana pendeknya, dan wess... batang penisnya yang sudah keras sekali terpental kena pipiku. Di ujungnya terlihat cairan bening tanda ia sudah benar-benar bernafsu sekali. "Aduh... aduh... Mbak... aku tidak kuat lagi.. mau keluar..." Aku terperanjat karena lupa bahwa anak muda seperti Andi belum bisa tentunya menguasai diri. Cepat kukulum kepala penisnya dan kusedot sambil kumasukkan sampai hampir ke belakang mulutku. Perlahan kugerakkan kenyotan dan lidahku terputar-putar di sekeliling kepala penisnya. Andi terguncang di ranjang dan mengejang, terasa menahan geli enak dan dalam 1 menit meledaklah mani dari buah zakarnya yang kuelus-elus. Telapak tanganku yang satu meraba daerah antara zakar dan pantatnya, dan Andi tambah nikmat mengeluarkan orgasmenya. Wah maninya banyak sekali dan memenuhi mulutku.

Aku ingat pesan Mbok Inem pembantuku bahwa mani itu adalah protein sumber awet muda. Aku telan semua mani Andi tak bersisa sedikitpun, kupijat batang penisnya yang masih keras itu sampai akhirnya bersih semua. Kukeluarkan penisnya dan kelihatan berkilat merah darah tua gundulnya itu. Berkilap-kilap basah. "Aduhhh... luar biasa enak sekali Mbak, maaf ya saya tidak kuat lagi..." Matanya sayu dan masih sambil menikmati ketelanjanganku. Aku menerkamnya dan memeluknya dan buah dadaku terasa kempes di atas dadanya yang keras. Andi memerah wajahnya karena kemesraan yang kulakukan. Di pahaku terasa penisnya mulai mengeras lagi, aku geli merasakannya, segera membesar... membesar... dan kuremas lagi dengan tanganku. "Tuh Andi, apa itu tuh...? Tidak apa kamu keluar tadi itu normal, sekarang mulai mekar lagi tuh..."

Vagina bejembut lebatku kuletakkan di atas batang penisnya dan... "Lihat nih Andi..." Aku mulai menggosok- gosokkan dan menggeser-geser ke atas dan ke bawah dengan mulut bibir vagina bejembut lebatku di atas batang penisnya. Terasa rambut kemaluannya menggelitik ke bibir vagina bejembut lebat dan ke batang panas itu. Andi ternganga dan tergagap-gagap menyaksikan dan di depan matanya berayun-ayun buah dadaku, ia masih tak percaya apa yang sedang terjadi. "Ndi, remas-remas buah dadaku lagi dong..." keluhku keenakan menggosok vagina bejembut lebat itu. Kuarahkan klitorisku dan terasa belakang kepala penisnya menggaruk-garuk, enaknya tak terkira nikmatnya. Cairan dari lubang vagina bejembut lebatku mengalir dan aku mulai jongkok. Kupegang penisnya dan kuarahkan ke mulut lubang kenikmatan itu. Perlahan kuturunkan pinggangku dan... "Aahhh..." kepalanya kugaruk-garukkan di bibir vagina bejembut lebatku sebelum perlahan kumasukkan. Andi terbalik-balik matanya menahan nikmat yang tak terkirakan itu.
Sengaja aku berhenti setelah kepalanya masuk sedikit, dan senut-senut kupermainkan otot bibir vagina bejembut lebatku (ilmu ini kudapat dari si Mbok Inem). Andi merasakan betapa kepala penisnya seakan dipijat-pijat dan dinding bibir vagina bejembut lebat itu seolah menyedot dan menghimpit dengan halus. Lekukan bibir vagina bejembut lebat itu pas sekali ke kepala penisnya. Dia mencoba mengangkat pinggulnya akan memasukkan lebih dalam dan aku terdiam saja masih jongkok, dan... "Bless..." masuk lagi beberapa inci, dan akhirnya aku duduk di atas pinggang Andi. Pahaku menganga di kiri kanan dengan seksi sekali, dan akhirnya seluruh penis sudah amblas ke dalam lubang vagina bejembut lebatku. Rambut kemaluanku tersibak ke kiri dan ke kanan di antara batang penisnya.

Aku terpejam menikmati betapa panas dan kerasnya batang itu meregangkan seluruh lubangku yang sempit sekali. Agak sakit memang, karena lama sudah tak dikunjungi daging keras itu. Perlahan-lahan kunikmati dan aku mulai menggerakan naik-turun, kemudian teratur aku gerakkan pinggangku ke depan dan ke belakang. Andi pun merasa penisnya seolah-olah diperah dan kepala penisnya terutama. Enak luar biasa, ia mengimbangi dengan gerakan naik-turun juga. Aku sudah seperti penunggang kuda. Buah dadaku tak dilupakan Andi, aku membungkuk sedikit sehingga kedua melonku bisa diremas-remasnya dan... "Niiikmaaatt..." Aku percepat gerakanku dan sekarang aku mulai gerakan penari Hawaii, hanya pinggulku yang bergoyang dan gerakannya memutar lingkaran.

"Hehhh... ahhh..." garukan kepala penis di dinding vagina bejembut lebatku terasa luar biasa, seluruh lekuk-lekuk lubangku terasa digaruk. Aku ingin tahu berapa lama Andi kuat menghadapi manuverku, kukerahkan otot-otot vagina bejembut lebatku dan kulihat lagi mata Andi sudah terpana, terbeliak-beliak sehingga kelihatan hanya putih biji matanya saja dan mulutnya mengeluarkan suara seperti tak ada artinya. "Ahhh... ahhh... akkkhh... Mbak Myr... Mbak Myr... enakkk..." Tangannya sekarang memegang dan meremas bukit pantatku. Dan aku sendiri merasa orgasmeku mulai bergelora menuju puncaknya. Aku seperti penunggang kuda menaiki kuda liar dan naik-turun putar... putar... putar... Buah dadaku terasa bebas sekali terpental pental, rambut kemaluanku dan rambut kemaluan Andi terasa bersatu tiap aku meremas memutar di atasnya, "Ahhh ahhha ahhh..." Akhirnya meletuslah orgasmeku dan aku masukkan dalam-dalam penis Andi dan kulebarkan pahaku di sisinya dan kugosok keras keras bibir kemaluanku di atas rambut kemaluannya, dan... dan... dan... Andi pun meletus lagi orgasmenya, "Srottt... serrr..." terasa maninya menyemprot di dalam lubangku tapi tak kuperhatikan lagi. Aku sendiri seperti lupa diri memutar mutar pinggangku dalam gerak melebar dan meremas kuat batang penis Andi.

Akhirnya aku lemas rebah di atas dadanya.


"Mbak Myr luar biasa deh... aku senang sekali bisa diperawani oleh Mbak Myr..."


"Apa? Oh kamu tuh belum pernah toh... Di... Aku kira kamu sering sama-teman mahasiswi atau suster-suster di rumah sakit, kan pada cantik-cantik..."


Andi memerah wajahnya dan berkata,


"Aku pemalu Mbak... jadi tidak pernah dapat. Sekarang aku dapat sama Mbak Myr, aku senang sekali... boleh lagi tidak...?"


Aku cubit zakarnya.


"Tentu.. tentu.. boleh Ndi... asal kamu tidak bosen saja, Mbak kan sudah tua," godaku sambil meremas-remas buah zakarnya.


Ayo kita mandi saja bareng.

Nah pembaca bisa bayangkan apa lagi yang terjadi di kamar mandi kan. Aku disenggamai lagi sambil berdiri, dan air panas mengalir terus (tapi hati-hati jangan kena air sabun lho, baik ke lubang penis atau ke vagina bejembut lebat, perih). Aku main dengan Andi sambil berdiri di shower, kakiku sebelah diangkatnya sehingga penisnya mudah masuk menusuk vagina bejembut lebatku, seperti sebatang besi panas menusuk gundukan mentega, "Bless..."

Siang itu aku selesai dengan Andi, lalu aku berbenah dan pergi ke rumah Mbak Nani di seberang. Ia seorang janda seumurku, tapi aku tahu juga ia suka menerima laki-laki. Nani sebenarnya teman aerobikku di tempat senam. Dengan Mbak Nani aku sama-sama berdagang berlian untuk tambahan penghasilan, karena ia banyak relasinya di Dharma Wanita sewaktu suaminya masih ada. Badannya tinggi, hampir sama dengan aku yang 178 cm dan buah dadanya pun ukurannya 38D. Nani tidak punya anak dan di rumah ia tinggal bersama 2 sepupu wanita dan adik-adik suaminya yang masih pada sekolah, ada yang SMA dan ada yang sudah kuliah. Aku jarang ke rumahnya selama ini karena dulu suamiku dulu tak suka aku bergaul dengan dia. Entah kenapa.

"Mbak, Mbak Nani..." panggilku sambil mengetuk pintu.


Kok sepi ya? Aku masuk dari pintu samping dan rupanya sedang pada pergi karena motor anak-anak pada tidak ada.


"Mbak...?"


"Ohh... Ibu Myr," sambut pembantunya, Mbok Warsih.


"Ibu Nani kemana ya? tadi sih ada, mungkin mandi... maaf ya Bu, Mbok lagi nyuci piring nih, Bu Myr masuk saja."


Aku masuk ke ruang tengah dan duduk di sofanya, dan aku tiba-tiba mendengar suara sayup-sayup mendesah-desah. Jantungku berdegup seketika mendengar suara yang amat familiar kukenal itu. Perlahan-lahan kucari sumber suaranya, dan ternyata datang dari kamar atas, kamar Mbak Nani. Aku naik berjingkat-jingkat, aku masuk ke lorong di atas dan benar! Dari kamar Mbak Nani, lagi ngapain dia? Lututku terasa lemas lagi mengingat Andi tadi pagi, dan terasa bibir vagina bejembut lebatku melembab dan empuk lagi. Nafsuku mulai berkobar-kobar membayangkan apa yang mungkin sedang berlangsung di kamar Nani.

Nahh... kamarnya tidak tertutup, pintunya masih terbuka sedikit, perlahan kudorong dan kusingkap gordin kamar dan astaga... Mbak Nani sedang disetubuhi dan posisinya ia berlutut menungging, pantatnya tinggi ke atas dan goyang pinggulnya kencang. Aku tak bisa melihat jelas siapa laki-laki itu, tapi mataku terbelalak dari posisiku jelas melihat penisnya keluar masuk cepat ke lubang vagina bejembut lebat, dan saking pasnya terlihat bibir vagina bejembut lebat itu tertarik keluar setiap batangnya ditarik keluar. Batang itu... oh... batang itu basah berkilap-kilap keluar-masuk keluar-masuk dan buah zakarnya bersih sekali kemerahan tak ada rambut sama sekali. Paha Mbak Nani pun basah dengan aliran cairan dari vagina bejembut lebatnya berkilat kilat kena cahaya.

Lututku benar-benar lemas, dan celana dalamku membasah. Aku hampir jatuh saking lemasnya, dengkulku dan aku berpegang pada amban pintu. Perlahan kudorong lagi pintunya lebih lebar dan keduanya benar-benar kerasukan, sehingga tidak melihat pintu membuka lebih lebar. Kakiku benar-benar terasa seperti agar-agar jelly, lemas. Aku berpegang pada amban pintu dan Mbak Nani pun dalam badai nafsunya terlihat memutar pinggulnya mengikuti enjotan dari lelaki itu. Buah dadanya terpental-pental dan desahnya benar-benar menghanyutkan, sepeti suara binatang sedang birahi. "Ahhh... shh ssshhh Mas Mas.... enakkk... Uhhh uhhh... hmmm..." seru Nani. Tiba-tiba mereka meregang dan meletup-letuplah orgasme mereka dan terbadai-badai buah dada Mbak Nani karena binalnya ia menjepit penis itu. Dan terpuruk ia dipelukan lelaki tadi dari belakang.

Nafas mereka memburu terengah-engah seperti pelari maraton. Siapa lelaki itu? Perlahan aku mundur dan terduduk di kursi tamu di beranda kamar itu. Nafasnya masih tak terkendali dan celana dalamnya kuyup. Aku bingung mesti ngapain dan aduh gatalnya lubang vagina bejembut lebatku, gila aku tadi baru dengan Andi, kok sekarang sudah begini lagi. Kurapatkan pahaku kencang dengan harapan sedikit terbantu.

Masih tetap membara dan akhirnya aku tidak kuat lagi dan aku buru-buru pulang berharap Andi masih di sana. "Andi... Andi..." seruku dengan parau. Begitu masuk ke rumah, kok tidak menjawab, pikirku. "Andii..." aku mencari ke paviliun, wah kosong semua, sudah pergi dia, keluh kecewaku. Aku naik ke atas dan segera membuka semua bajuku. Mandi, pikirku untuk meredakan ini. Aku terdiam di bawah shower, aduhhh... aliran air malah tambah merangsangku. Bagaimana ini, bagaimana, ah masturbasi saja, dan kuraba klitorisku yang sudah nongol keluar, "Shhh... shhh enakkk..." tiba-tiba terdengar suara bel pintu. "Aduh siapa lagi... Andi pulang?" harapku. Aku segera mengambil handuk dan kulibatkan di sekeliling tubuhku yang sintal, wah... kurang besar. Kugenggam saja handuk itu biar tidak copot.

Bel berbunyi tak sabar lagi, dan aku cepat turun, kupikir lihat dulu siapa dan kalau tidak kenal biar tak kubuka, aku mau masturbasi, kesalku. Dari jendela kulihat, wah ternyata anak pengantar koran, anaknya Pak RT di ujung jalan. Aku bimbang apakah mau membuka pintu atau tidak? Bagaimana aku, hanya handukan saja. Entah kenapa, impulsif kubuka juga dan aku melihat anak lelaki dengan mulut ternganga terbesar begitu dia melihatku hanya berhanduk dan masih basah kulitku dan rambutku. Dalam hati, aku senang karena berarti aku OK dong.

"Ya...?" tanyaku.


"Oh maap Mbak... eh Ibu... mau nagih uang koran."


Ihh sialan, hanya mau nagih, batinku.


"Bisa lain kali?" ujarku.


"Oh eh... bis bis... bisaa..." paraunya.

Lho kok ia menutup-nutupi depan celananya. Tiba-tiba aku sadar bahwa anak ini sudah lumayan besar, mulai deh aku berpikir lain.

"Eh iya deh, aku bayar saja, masuk dulu deh... aku baru mandi," kataku.


"Ah biar di sini saja Mbak, eh Ibu..."


Kuulurkan tanganku dan kutarik saja masuk dan ia jalan agak membungkuk-bungkuk, rupanya mencoba menyembunyikan sesuatu.


"Kenapa sih?" tanyaku, "Kamu sakit pinggang?"


"Ah.. ah... eh... tidak... tidak..." katanya.


Mukanya merona merah sekali.


"Ya sudah ayo masuk ke sini!"


Kutarik lagi dan kubawa ke ruang tamu.


"Duduk deh..." lau dia duduk, "Namamu siapa?"

Aku masih berdiri di depannya dan tetesan air masih mengalir di pahaku. Si anak itu matanya terbelalak melihat paha mulusku di depan mukanya.


Apa... apa... apa Mbak..." gelagapan terus dia.


Aku tambah geli saja.


"Oh saya namanya Banu..." jelasnya hampir berbisik.


Matanya masih menatap pahaku yang basah, pori-poriku masih menggremeng sehingga bulu-bulu halus di situ kelihatan berdiri.


"Banu mana bonnya?" tanyaku.


"Oh oh... iya ini..."Tangannya menggapai tas yang ditaruhnya di atas pahanya dan aha... rupanya ia berusaha menutupi penisnya yang sudah tegang berat. Ha ha ha, aku mau menikmati siang ini untuk melepas dahaga gara-gara Nani tadi. Biar deh anak Pak RT sudah besar juga kok. Tapi aku mesti hati-hati supaya dia tidak shock.

"Ini buat bulan lalu ya Ban?" tanyaku sambil mengambil kwitansi dan aku jalan ke buffet tempat aku menaruh dompetku.


"Ii.. iiiya... Tante eh Ibu eh... iya..." katanya.


Dari kaca di atas buffet aku melihat matanya mengikuti goyang pantatku di balik handuk yang nyaris tak menutupi pantatku dan pasti bulu di sela-sela pahaku bisa dilihatnya. Sengaja kuregangkan kakiku dan matanya membesar dan membesar. Aku pura-pura mencari-cari dompet dan membelakangi dia dan matanya sudah terkunci ke pantatku yang sintal. Lalu aku berjinjit dan pura-pura mencari di atas lemari tepi buffet sehingga handukku naik ke atas juga. Ha ha ha, pasti dia melihat lebih jelas lagi ujung vagina bejembut lebatku sekarang.

Aku tiba-tiba membalik dan Banu sudah pucat dan seperti orang dihipnotis saja. Aku balik membawa dompetku dan sengaja aku duduk di seberangnya. Kukangkangkan kakiku sehingga handukku naik ke atas paha. Aku pura-pura meneliti rincian kwitansi dan Banu matanya menjalang mencoba mencari apa yang akan bisa dilihatnya. Aku sendiri sudah basah kuyup, vagina bejembut lebatku lemas membayangkan mau menikmati anak ini.

Tiba-tiba aku bertanya,


"Eh kamu hari Minggu koq tidak pergi main-main sih? kan bisa besok nagih."


"Aa.. aku pengen beresin ini Bu..." katanya.


"Masih banyak yang mesti ditagih?" tanyaku lagi.


"Tidak, ini terakhir."


"OK, ini uangnya dan terima kasih ya," kataku sambil berdiri.


Terlihat mukanya kecewa karena mungkin inginnya sih apa ya? (mana aku tahu dia mikir apa, yang jelas tegangnya masih tuh di balik celana pendek jeansnya).

Dia berdiri dan cepat ditutupkannya lagi tasnya di depan kemaluannya.

"Eh Banu, mau bantu Mbak tidak?" tanyaku.


Dengan sergap ia menjawab, "Mau..." katanya senang.


"Ini Mbak mau pakai krim tapi susah kalau di belakang punggung. Mau tidak kamu bantuin oleskan."


Wah kalian mesti lihat ekspresi mukanya, seperti orang menang lotere 1 juta dolar tuh.


"Ayo sini naik ke kamar Mbak deh!" ajakku.


Berdebar-debar aku membayangkan ini semua. Lubang vagina bejembut lebatku sudah bukan main gatelnya. Aku berbaring telungkup tanpa melepas handuk setiba di kamar.

"Itu Ban, ada di meja hias yang warna putih botolnya."


"Ini ya Mbak?" katanya cekatan.


Ia sudah lupa dengan tasnya dan celananya seperti sebuah tenda dengan tonggak tegak lurus.


"Yep..... itu dia Banu. Ini mulai dari pundak atasku ya Ban.


Ia duduk di pinggirku dan nafasnya terdengar terengah-engah. "Srr..." duh dinginnya krim itu ketika ia mulai mengoles pundakku. Tangannya terasa hangat sekali dan gemetar.


"Banu kamu pernah tidak ngolesin body cream gini?" tanyaku untuk membuat ia relaks.


"Ahhh... nggak pernah. Mbak cantik sekali dan kulitnya halus bener deh," katanya sambil terus mengoleskan krim.


Ah enak, dan pahanya terasa menempel pada sisi tubuh atasku.

"Eh Mbak, ini handuknya ngehalangin," katanya lebih berani.


Aku berdebar dan... "Oh iya... dorong saja..." tangannya mendorong sisi atas haduk di punggungku dan ditambahkannya krim dan dioleskannya ke punggungku.


"Mbak.. eeeh... saya buka saja ya handuknya."


Ah... batinku, berani juga anak ini. Kuangkat sedikit badanku dan ditariknya handuk dan jadi longgar dan copot. Buah dadaku terasa sedikit pedih waktu ditariknya handuk itu dan telanjang bulatlah aku. Dari kaca meja hias aku lihat Banu ternganga lagi melihat tubuh mulus dan montok tersaji di depan matanya. Ia lupa mesti memberi krim. Aku pun menahan nafsuku dan tetap terlungkup.

"Eh Banu ayo dong! ngeliatin apa sih kayak belum pernah ngeliat wanita," desahku merangsang.


"Oh iya iya..."


Dia mengoles lagi dengan sigapnya, tangannya teasa tambah hangat.


"Hmm, pantatnya juga tidak Mbak Etty?"


Hi hi hi dia panggil aku pakai nama Etty, lucu rasanya karena sudah lama tidak dipakai nama itu.


"Iya," ujarku.


Dan "Seerr..." rabaan tangannya membuatku mendesah keenakan dan suasana di kamar itu sudah penuh dengan hawa nafsu saja. Rabaan tangannya mulai mengcengkeram kedua bukit sintal, dan aku pelan-pelan merenggangkan pahaku dan kuangkat sedikit pantatku. Banu pindah ke dekat pahaku dan aku geli karena pasti dia ingin lihat vagina bejembut lebatku. Sengaja kuangkat terus dan kulebarkan lagi pahaku dan tangannya masih meremas-remas (bukan ngolesin lagi cing).
Kulihat ia menjilatkan lidahnya ke bibirnya dan tangannya mendekat ke arah paha dan jempolnya kiri dan kanan mendekat ke vagina bejembut lebatku sambil tetap meremas-remas pantatku sebelah bawah. Aku pun tak sadar mendesah-desah keenakan dan terasa di sebelah dalam pahaku mengalir cairan dari vagina bejembut lebatku. Aku diam saja supaya Banu tidak malu dan kuintip terus dari kaca kelakuannya. Diulurnya jempolnya dan terasa sentuhan halus di tepi bibir vagina bejembut lebatku. Enak dan aku angkat lagi pantatku dan jempolnya menyentuh lebih berani. Aku menahan terus nafsuku, maunya sih aku sudah berbalik dan kuterkam saja si Banu ini tapi itu akan mengurangi nikmat. Banu melihat aku diam saja dan jempolnya tambah ke dalam pahaku dan ia kelihatan terkejut merasakan lincir dan hangat, basah sekali bibir vagina bejembut lebatku. Ia melihat aku tetap terdiam, aku menggigit bantal yang kupeluk dan terasa puting susuku gatal sekali juga. Kutahan nafsuku dan kubiarkan dia eksplorasi dulu.

Nak Banu... aduhh..." keluhku, "Shhh... enak sekali..."


Dan kakinya tambah dikangkangkannya lebar-lebar, pantatnya naik sedikit sehingga vagina bejembut lebatku sudah terpampang di mata Banu yang terbelalak. Tenggorokannya kering sekali dan tangannya dingin. Bulu kemaluanku sudah menempel karena kuyup. Jari Banu meremas-remas pantat dan paha atas. Dilihatnya vagina bejembut lebat merekah dan bau khas seperti laut begitu merambah hidungnya membuat suasananya tambah merangsang. Dasar anak masih "ijo" dia tak tahu mau ngapain. Aku biarkan jarinya mendekat ke bibir vagina bejembut lebatku dan kutahan nafas mengantisipasi enak yang bakal kurasakan. Kutinggikan lagi pantatku dan terasa jarinya menyentuh dan mulai menggosok dengan rasa ingin tahu sambil takut dimarahi. Aku berbisik, "Terus Banu... paha dalam ibu itu perlu juga," aku memberanikan dirinya, dan aku lebarkan lagi pahaku sehingga betul betul sudah bebas terlihat belahan vagina bejembut lebatku dari belakang situ. Jari-jari Banu mulai mendekat lebih jauh ke lubang dan bibir-bibir kiri dan kanan vagina bejembut lebatku dan mengorek-ngorek. "Aduhhh... nikmat sekali..." Jari tengah Banu masuk ke lubang basah dan keluar-masuk, ia mengorek-ngorek tanpa tahu apa yang harus dikerjakan. Kutuntun tangannya dan kutangkupkan pada vagina bejembut lebatku dan jari telunjuknya aku letakkan di atas klitorisku "Gosok dan gelitik Banu!" kataku. Pantatku tambah tinggi sehingga aku hampir berlutut. Pantatku sudah hampir setinggi mulut Banu yang ternganga selebar pintu Tol.

Dengan pelan tanganku meraba paha Banu, seperti orang kena listrik ia mengejang. "Jangan takut Banu, Ibu tidak apain kok." Aku naikkan lagi dan penisnya yang sudah keras luar biasa terasa di luar celana pendeknya. Aku elus-elus dan ia seperti orang kesurupan, matanya terbalik-balik keenakan, dan kutarik celananya ke bawah, ia berdiri dan bebas merdeka batangnya itu. Kugenggam erat-erat dan aku bilang, "Banu kamu ke belakang situ dan tempelkan penismu ini ke mulut lubang vagina bejembut lebat." Aku menungging berlutut, pantatku tinggi ke atas dan posisi vagina bejembut lebatku sudah terbuka lebar. Banu mendekat dan sambil memegang penisnya ia mengarahkan ke vagina bejembut lebatku.


"Ahhh.. ahhh... enak Banu..."


"Iya Mbak enak sekali..."


Aku pegang penisnya dan pelan-pelan kuamblaskan ke dalam lubang vagina bejembut lebatku. Gila panas sekali batangnya itu. Dan aku mulai berayun-ayun ke depan dan ke belakang. Banu pegangan pada pinggulku, buah dadaku berayun-ayun menggelantung bebas. Dan pelan sekali kusedot penis Banu dalam vagina bejembut lebatku, kugerakkan otot dinding vagina bejembut lebatku bergelombang-gelombang. Di kaca aku melihat posisiku dan Banu, sungguh pemandangan luar biasa. Anak masih "ijo" itu antusias sekali dan kelihatan ia masih bingung-bingung. Terus kugenjot dan Banu mulai pintar mengikuti gerakannya, dan terasa batangya maju-mundur menggaruk-garuk dinding vagina bejembut lebatku dengan nikmat sekali.

Dan 2 menit kemudian meledak-ledak orgasmeku dan ia kujepit dengan kencang dalam vagina bejembut lebatku sampai terasa seperti kuperas batangnya sampai kering dari spermanya. Terdampar Banu di atas punggungku dan aku rebah ke ranjang. Penisnya masih setengah tegang dan terasa berdenyut denyut. Itu pengalaman Banu pertama.

Aku tertidur setelah itu dengan enak sekali, sungguh segar. Besoknya aku sibuk di kebun sampai sore, dan siangnya aku tidur lagi sebentar, rencanaku anak kostku yang lain akan kupetik perjakanya. Jam 06.00 sore aku mandi dan dandan sedikit, aku kenakan daster tipis. Setelah itu aku duduk di kamar tamu membaca koran sore menunggui anak-anak kost pulang kuliah sore. Di luar terdengar suara orang berjalan menuju pintu depan, hatiku berdebar menebak siapa yang datang. Ketokan pintu baru 2 kali dan aku sudah membuka dengan cepat sambil tersenyum manis. Eh Pak RT ayahnya Banu, aku kecewa dan terkejut. Apa Banu laporan ke Bapaknya? Tidak biasa-biasanya Pak Zainul kemari.

"Oh selamat sore Mbak Etty, maaf mengganggu," katanya.


Matanya liar melihat tubuhku dari atas sampai ke bawah, apalagi dasterku tidak bisa menyembunyikan buah dadaku dengan baik.


"Iya Pak mari masuk," undangku sambil melebarkan pintu.


"Ada apa Pak RT?"


"Oh ini Bu, ada surat ke sasar di rumah Pak Anwar pas saya lewat tadi mau pulang dan karena lewat rumah Mbak, ya saya bawa sekalian," katanya sambil menyerahkan sepucuk surat.


Matanya menatap wajahku dengan tajam kemudian turun ke arah buah dadaku yang separuh nongol di dasterku. Ih ganas juga orang ini pikirku.


"Oh terima kasih Pak, mari duduk!" kataku sopan dengan mengharapkan ia segera pergi.


"Ini Bu, tadi saya ketemu nak Andi dan titip pesan, anak-anak mau ke undangan pesta anaknya Pak Anwar ulang tahun Bu, mereka makan malam dan katanya mau nginap di sana."


Aku kecewa sekali mendengar itu.


"Ya, terima kasih Pak ngerepotin jadinya."


"Oh tidak kok," seringainya seperti serigala buas.

Umur Pak Zainul aku rasa sekitar 40 tahunan masih gagah. Kata orang-orang dulu dia atlet renang dan sekarang punya toko olah raga di jalan besar dekat rumahku.


"Mbak kok kayaknya agak pucat?" ujarnya lagi.


"Aah masa..." kataku.


"Saya belajar sedikit Mbak tentang pengobatan," katanya.


"Mau tidak saya pijat telapak kakinya?" katanya.


"Tidak lama kok, paling 10 - 15 menit."


Aku jadi iseng, "Iya deh Pak, silakan duduk Pak, saya dimana?"


"Oh itu Mbak duduk saja di kursi rotan itu dan saya pakai ya dingklik ini," katanya dengan sigapnya.

Aku duduk dan ia duduk di dingklik dan mulai meraba telapak kakiku. Kemudian ia mulai memijit dan... "Aduh sakit Pak! kataku. Pahaku terbuka karena terkejut tadi. Aku jadi merah karena ingat tidak pakai celana dalam. Celaka, batinku. Cepat kurapatkan lagi dan Pak Zainul tenang seperti orang tidak melihat padahal pasti dia lihat tadi. Ia meletakkan satu kakiku di atas pahanya dan mulai memijat dengan pelan, "Ah enak juga," kakiku satu lagi di bawah pahanya dan aku menikmati pijatannya. Pelan-pelan dari tapak kakiku tangannya naik ke atas kaki kemudian ke betisku dan didorongnya ke arah luar sehingga aku agak mengangkang lagi jadinya. Aku diam saja. Kakiku satu lagi sekarang pas di bawah buah zakar dan penisnya, pelan-pelan kunaikkan dan jempolku pas kena buah zakarnya kugeser-geser di situ. Pikirku, tidak ada akar rotan pun jadilah, lagi orangnya lumayan bersih dan tidak bau badan. Aku memejamkan mata dan membiarkan pijatannya naik ke betisku dan aku mulai merasa basah. Kuelus-elus buah pelirnya dengan jari-jari dan punggung kaki. Ahh, koq penisnya besar sekali terasa di kakiku. Pak Zainul pakai celana training dan kuintip, wah sudah jadi tenda tuh. Dan aku sudah berserah dan Pak Zainul sudah mendesak pahaku dan dasterku sudah tersingkap sampai ke atas, aku diam saja dan ia mulai menciumi dengkulku, aduh gelinya.
Kemudian ia menciumi dan menjilati pahaku. Dan kakiku diangkatnya ke atas sandaran tangan kursi rotan sehingga vagina bejembut lebatku terpampang menganga di depan mukanya. Ia masih duduk di depan dingklik tadi. Dan... dan... astaga... Pak Zainul dengan cekatan menciumi tepian bibir vagina bejembut lebatku. Aku sudah tak perduli apa-apa lagi hanya melenguh-lenguh keenakan. Ia menurunkan celana trainingnya dan berdiri, "Ini Mbak, obat untuk sehat," katanya sambil tersenyum dan diasongkannya penisnya ke mulut vagina bejembut lebatku. Dia berlutut dan "Bles..." seketika masuk penisnya seperti pisau panas membelah mentega. Dan tangannya merogoh buah dadaku dan diperasnya, ditariknya dasterku ke atas dan telanjang bulatlah aku. Tanganku terkapar di kiri dan kanan sehingga buah dadaku yang sintal menonjol, Pak Zainul menciumi kiri-kanan kiri-kanan sampai pentil buah dadaku keras sekali dan basah oleh ludahnya. Pantatnya maju-mundur maju-mundur menusuk vagina bejembut lebatku dan aku sudah keenakan tak perduli apa-apa. "ohhh... enaknya..." Aku sendiri mengempit kencang-kencang batang panas dan berurat-urat itu. Garukan maju-mundur dari kepala penisnya dengan seksama menggores dinding lubang vagina bejembut lebatku. Luar biasa enak. Tangan Pak Zainul meremas-remas buah dadaku dan pentil puting susuku terasa keras di telapak tangannya yang kasap.

"Pak Zainul, Paaakk... ayo Pak goyang terusss..."

Pinggul Pak Zainul dengan gesit maju-mundur.


"Pok plok plokk plok..."


Buah zakarnya tergantung-gantung menabrak bagian bawah vagina bejembut lebatku dan bulunya di sekitar base dari penisnya ikut masuk ke lubang, dan waktu keluar-masuk menambah geli tak terhingga. Aku menjerit-jerit kecil keenakan, dan kakiku seperti gurita mengempit di pinggang Pak Zainul. "Gila enak bukan main."

Ada 15 menit kami bertarung, dan kempotan vagina bejembut lebatku juga membuat wajah Pak Zainul merah dan urat-urat di keningnya menonjol keluar semua. Lubang vagina bejembut lebatku terasa agak pedih dan bibir vagina bejembut lebatku benar-benar ikut keluar-masuk dijepit oleh batang penisnya. Akhirnya Pak Zainul kejang-kejang dan penisnya dibenamkannya dalam-dalam dan aku segera meronta-ronta mengencangkan kempitan lubang vagina bejembut lebatku dan kakiku di pinggangnya juga dengan keras membantu. "Uahhh..." Meletus orgasme kami betubi-tubi. Mataku terbelalak dan nafasku sudah terengah-engah, dan tubuh Pak Zainul tumbang menimpaku di kursi itu. Hampir saja kursinya terguling. Diciumnya dengan mesra bibirku dan kubalas dengan gairah. Senut-senut vagina bejembut lebatku masih berdenyut dengan kuat dan batangnya terasa masih keras. Spermanya kurasa banjir keluar dari sela-sela penisnya dan mengalir ke arah pantatku dengan hangat dan kental. Wah tidak dapat si Andi aku dapat servis enak dari Pak RT, lumayan buat jajan sore. Aku jadinya menikmati anak dan bapak. Entah dia tahu tidak aku sudah memperjaka anaknya.

Tak lama Pak RT pulang setelah mencuci penisnya, dan katanya, "Mbak besok aku lanjutkan ya terapi pijetnya," katanya sambil meremas buah dadaku dengan tangan satunya dan tangan satunya menggosok-gosok vagina bejembut lebatku, aku senyum saja dan "Iya deh Pak RT." Dalam hati aku senang juga ada selingan dari orang yang berpengalaman. Kalau sama anak-anak muda aku jadi guru mereka, kadang ada enaknya dengan orang yang ada ilmu goyang yang seimbang. Aku mandi lagi, dan setelah makan aku berbaring dan tak lama aku dengar suara Andi, Herman dan Toni. Hmm, mereka sudah pulang, kulihat sudah jam 10.30 malam. Aku tidak keluar kamar membaca dan mendengarkan musik. Capai juga ngangkang di atas kursi tadi. Pinggulku agak nyeri juga. Ingat itu aku geli juga karena tidak menyangka.

Ketukan di pintu menyadarkan aku dan aku bilang, "Iya..." Andi masuk dan ia senyum-senyum.


"Ada apa Andi? nggak jadi nginap di rumah Anwar ya?" kataku manis.


Aku tak bangkit dari ranjang, dasterku agak tersingkap kubiarkan. Mata Andi segera melihat itu dan senyum lagi.


"Anu Mbak Etty. Perlu apa-apa tidak?" katanya sambil mendekat.


"Oh ini Mbak Etty..." katanya sambil duduk di sampingku dan tangannya memegang tanganku.


"Tapi tidak boleh marah ya... Herman, Toni kan masih SMA, mereka baru dapat pelajaran biologi dan sering nanya-nanya, aku tapi sulit juga menjelaskan kalau tidak ada peragaan."


"Lha iya, kamu kan di kedokteran bisa dong ngejelasin," kataku.


Elusan tangannya membuat hatiku berdesir lagi dan vagina bejembut lebatku langsung mendenyut. (Gila nafsuku besar sekali sih batinku).


"Lalu kenapa?"


"Ini lho, tapi bener ya tidak boleh marah?" kata Andi lagi.


"Iya sudah, apa sih susah banget mau ngomong. Kamu perlu uang buat beli peta biologi?"


"Eh tidak, sebenernya sudah ada tapi perlu bantuan Mbak Etty," kata Andi lagi.


"Gini Mbak, mereka ingin tahu tubuh wanita dan aku pikir paling gampang kalau Mbak Etty tidak keberatan aku pakai tubuh Mbak buat peragaannya."


"Ha.. ha.. ha... Andi kamu ada-ada saja, malu ah," kataku sambil berdebar-debar dengan pengalaman baru ini.


"Boleh tidak Mbak?" desak Andi lagi.


"Iya dah, tapi gimana? aku mesti apa?"

Baru aku bilang begitu pintu kamar sudah terbuka dan masuk Herman dan Toni. Kurang ajar dari tadi mereka nguping di pintu. Aku agak menjerit karena kaget. Herman dan Toni malu-malu dan mukanya merah. Andi mengajak mereka ke tempat tidurku dan katanya, "Mbak saya lepas ya dasternya." Aku malu, karena aneh rasanya ada 3 lelaki muda di kamarku. Tapi gemuruh di dadaku menggebu-gebu membayangkan tubuh ke-3 anak muda ini. Aku hanya bisa manggut-manggut, lidahku kelu dan duh vagina bejembut lebatku sudah langsung melembab dan lembek terasa hangat bibir vagina bejembut lebatku. Aku duduk dan kuangkat dasterku dan waktu tanganku ke atas buah dadaku langsung bebas menggelinjang sintal dan kulihat mata ke-3 anak itu membelalak. Aku menutup buah dadaku dengan daster yang sudah lepas dan Andi mendekat lagi. "Mbak baring ya, tangannya ke atas. Ini kita serius kok Mbak, mereka besok ujian. Jadi Mbak tidak usah malu karena membantu nih." Tanganku ditariknya kedua-duanya ke atas dan buah dadaku munjung dengan bebas dan seksi sekali. Kulirik dan duh mereka sudah pada tegang. Aku berbaring hanya bercelana dalam segitiga kecil sekali hampir tak bisa menutup vagina bejembut lebatku dan di depannya jelas sekali basah sudah.

Andi juga suaranya bergetar karena menahan nafsu, aku rasa. "Ton, Man sini kamu di sisi sana biar aku jelaskan tentang buah dada," katanya sok seperti dosen. Herman dan Toni berdesak-desak dengan gesit mendekat. Andi memegang buah dadaku dan menjelaskan bahwa ini adalah buah dada yang sehat dan terpelihara baik katanya sambil meremas, dan katanya, "Nah kamu coba pegang dan remas-remas! Herman kamu perah yang sini dan Toni kamu coba kekenyalan yang satunya, kemudian gantian dan bandingkan." Mata mereka jalang sekali dan kedengaran desah nafas mereka yang sudah tak beraturan. Aku sendiri begitu diremas Andi tak sadar mendesah enak. Dan seketika kedua anak itu rebutan meremas-remas kedua buah dadaku, dan banjirlah cairan di vagina bejembut lebatku.

"OK.. OK.. sudah sudah cukup!" seru Andi, "Sekarang lihat ini, ini adalah puting susu dan di sekitarnya ini disebut aerola," katanya sambil memelintir putingku ke kiri dan kanan, aku menggelinjang geli. "Ini kalau sehat akan bereaksi bila disentuh atau dirangsang sehingga mengeras," lanjutnya. "Nah coba kamu pegang puting seorang satu ya... dan pelintir seperti ini!" katanya sambil mencontohkan dijepitnya puting susuku di antara jempol dan jari telunjuknya dan diputarnya putingku. Aduh seketika aliran syarafku ke vagina bejembut lebat tambah enak rasanya. Vagina bejembut lebatku terasa kuyup dan mengalir ke sisi pahaku. Celana dalamku tak dapat menampung lagi cairan itu. Herman memelintir puting susu kiri dan Toni di buah dada kananku. Aku tak sadar kakiku sudah mengempit dan bergoyang-goyang menahan rasa geli dan pinggulku bergeser-geser di ranjang. Andi sendiri memperhatikan kedua anak itu praktikum di puting susuku dan keduanya asyik sekali. Diremasnya vagina bejembut lebatku dari luar celana dalam sehingga aku sudah kehilangan sadar dan rasa malu. Gelinjang-gelinjangku sudah seperti kuda liar.
"Andi... Andi... ooohh... Gila kalian ayo dongg..." Pelintir-pelintiran tangan Tony dan Herman masih terus dan mereka seperti anak kecil dapat mainan. "OK OK, stop dulu!" muka keduanya kecewa dan mereka menurut sekali. "Sekarang kita beralih ke bagian sini," katanya sambil meremas vagina bejembut lebatku. Aku senang sekali serasa akan mendapat pelepasan. Mereka semua jelas-jelas sudah ereksi penisnya tapi masih menahan diri. Sebenarnya aku yang sudah tidak tahan ingin sekali vagina bejembut lebatku dimasuki batang panas dan aku gembira sekali membayangkan ada 3 penis panas. "Ini namanya vagina bejembut lebat," kata Andi sambil meremas-remas terus dari luar CD-ku yang sudah kuyup. "Mas Andi, kenapa kok basah gitu sih?" tanya Toni dengan polos sambil agak bergetar dan parau suaranya. "Oh ini," kata Andi sambil memegang depan CD-ku. "Ini biasa kalau wanita sedang birahi maka akan keluar cairan-cairan seminal seperti ini. Dan maaf Mbak Etty, saya turunkan ya celananya!" Lagi aku tak bisa menjawab kelu lidahku dan aku hanya manggut cepat dan kuangkat pantat dan pinggulku. Andi menyelipkan tangannya ke samping CD-ku dan menariknya turun, seketika terbukalah vagina bejembut lebatku dan Herman maupun Toni tambah besar saja belalak mata mereka.

Andi mengelus-elus vagina bejembut lebatku dan mengatakan, "Ayo kalian pindah ke sini dekat paha Mbak Etty biar jelas," katanya. Nafas Andi pun mendengus-dengus, aku rasa kalau dibiarkan ia sudah mau menancapkan penisnya ke dalam lubangku. Andi menjepitkan jarinya pada bibir vagina bejembut lebatku yang tebal, empuk panas dan menyibak bibir vagina bejembut lebatku dan menariknya keluar, "Nah ini namanya labia, bibir vagina bejembut lebat," kata Andi. "Coba kalian rasakan, dielus-elus seperti ini!" katanya lagi. "Ahhh... nikmat sekali..." Herman dan Tony dengan gemetar memegang seorang sebelah dan menariknya. Kemudian mengelus-elus dengan ujung jari-jari mereka. Gila geli sekali, dan aku senang karena mereka serius dan semangat sekali (iya lah mana tidak semangat melihat vagina bejembut lebat begitu cantik). Ada dua menit mereka menarik-narik pelan dan mengintip-intip dari dekat, dengus nafas mereka geli sekali kena pahaku di atas. Dan Andi menghentikan mereka. "OK, berikutnya perhatikan bentuknya ini," katanya sambil menyibak rambut kemaluanku yang sudah kuyup oleh cairan vagina bejembut lebatku. Aduh, itu cairan mengalir kemana-mana terasa sampai ke lubang duburku. "Ini adalah klentit atau klitoris," katanya sambil menarik kacangku yang sudah keras sekali. Di dorongnya keluar di antara kedua jarinya dan lihat...!" katanya lagi. "Ini kalau disenggol akan mengeras seperti ini." Dan dimain-mainkannya dengan ujung jarinya klitorisku itu.

Mataku gelap rasanya seperti mau pingsan karena enak sekali. "OK, kamu coba Man," katanya ke Herman, dan Herman dengan semangat menggoyang klitorisku dan ia juga bereksperimen menjepit klitorisku dengan kedua jari dan memilin-milin. Pantatku menggelinjang-gelinjang liar dan Tony aku lihat sepintas ternganga melihat kelakuanku. Andi sementara itu tak tinggal diam, ia memeperhatikan kedua anak itu sambil meremas-remas memerah buah dadaku. Aku lemas dengan nafsu yang sudah memuncak sekali. Pahaku sudah ngangkang lebar sekali dan bau mesum dari vagina bejembut lebatku memenuhi kamar. Badanku terasa hangat sekali dan betapa lubang vagina bejembut lebatku mengharapkan batang panas, tapi aku masih mengikuti semua permainan anak-anak ini. "OK, sudah!" katanya setelah Toni juga mendapat giliran. "Sekarang seperti ini kalian harus tahu bahwa lubang vagina bejembut lebat ini sangat sensitif jadi tidak boleh kasar kalau mau memeriksa." Andi memasukkan jari tengahnya yang kasap ke dalam lubang vagina bejembut lebatku dan begitu masuk dinding vagina bejembut lebatku langsung mendenyut mencengkeram, "Senut... senuttt..."

"Usahakan kuku kalian harus sudah digunting dan tidak tajam, karena kalau sampai luka sulit nanti sembuhnya," katanya sok tahu seperti dosen sungguhan. "OK, kalian coba masukkan dan gosok gosok seperti ini keluar-masuk," katanya. Aku terbadai saja di ranjang dan kedua anak ini bergantian memasukkan jari tengahnya memasturbasi aku, entah berapa kali sudah aku orgasme. Seprei ranjang sudah kusut seperti kapal pecah. Andi terus meremas-remas buah dadaku sambil memainkan puting susuku. "Nah sekarang kita harus mengerti juga bau vagina bejembut lebat yang sehat seperti ini," kata Andi. Ia mendekatkan hidungnya ke lubang vagina bejembut lebatku dan hembusan nafasnya yang panas menambah bara nafsuku. Kalau aku tidak menahan diri sudah kuterkam si Andi ini dan kutunggangi penisnya. Aku masih play along dengan mereka. Kemudian Andi berbicara lagi. "Dan kita juga perlu menjilati untuk tahu rasanya cairan ini," katanya sambil bibirnya langsung menerkam vagina bejembut lebatku. "Ahhhh..." jeritku keenakan. Dan lidah kasapnya segera bermain di sekitar situ, kira-kira semenit ia dengan berat hati melepaskan dan..."OK, sekarang Toni kamu coba!" Toni dengan cekatan mendekat dan memasukkan mukanya di antara selangkanganku yang sudah kubuka lebar-lebar.

Aku ambil bantal dan kuganjal pantatku sehingga vagina bejembut lebatku munjung keluar. Mulut Toni terasa panas sekali dan dengan semangat ia menciumi dan seruput-seruput ia menjilati. Aku terbadai lagi dan orgasmeku memuncak untuk kesekian kalinya. Lidah Toni berkali-kali masuk ke lubang vagina bejembut lebatku dan cairan demi cairan dihisapnya. Kadang kadang ia menghisap dengan kencang dan pahaku sudah tak sadar mengempit kepala Toni. "Sudah Ton!" kata Herman menarik Toni dan membuka paksa pahaku, dia juga tidak sabaran jadinya. "Dan gantian Herman!" Aduh, gila digigitnya bibir kemaluanku, rupanya saking semangat tergigit sedikit bibir vagina bejembut lebatku, tapi ia juga semangat dan terasa lidahnya lebih panjang dan kasar lagi dari lidah Toni dan Andi. Aku menggeruskan vagina bejembut lebatku ke mulutnya dan pahaku mengempit kepala Herman di antara kedua pahaku yang sintal putih. Sementara Andi sudah membuka celananya dan penisnya sudah keras sekali, disorongkannya ke mulutku dan dengan rakus aku menerkam dan mengelomohi kepala penisnya. Toni juga tadi melihat Andi, ia meremas-remas buah dadaku dengan semangat. Kadangkadang aku agak menjerit karena sakit juga, mungkin gemes si Toni ini.

Herman masih asyik menyeruput vagina bejembut lebatku dan klitorisku, dia cari dan disedot. Toni tadi tidak sampai mengisap-isap klitorisku. Tak lama Andi meletup orgasmenya dan dengan rakus aku hisap kencang sambil meremas-remas batangnya dan mengocok-ngocok supaya spermanya keluar semua. Kutelan habis semua sperma itu. Toni ternganga lagi melihatku ganas seperti itu dan binal sekali. "Man, Man sudah Man!" kata Andi. Herman dengan segan mengangkat kepalanya dari vagina bejembut lebatku. Andi mengatakan, "Mbak Etty, kami perlu membuat eksperimen lanjutan, boleh tidak?" Aku sudah tidak bisa berpikir karena ingin sekali penis-penis ini kuremas dalam vagina bejembut lebatku.

Andi mengeluarkan pisau cukur Gillette dan katanya, "Man kamu ambil itu sabun untuk cukur kita cukur jembut Mbak Etty!" Toni masih terus meremas-remas buah dadaku dan kadang mempermainkan puting susuku, dan dihisap-isapnya juga. Tanganku memegang batang penisnya dari luar celana. Kemudian aku bilang, "Kalian tidak fair masak aku sendiri yang telanjang bulat kalian semua buka juga dong!" Aku rasa aku mesti lapor ke Jaya Suprana di MURI karena kalau ada rekor buka baju pasti mereka menang. Dalam sekejab sudah telanjang semua. Herman dan Toni bulu kemaluannya masih halus-halus, mereka baru SMU kelas I, kalau tidak salah ingatanku. Herman mengoleskan sabun di bulu-bulu kemaluanku sambil jarinya iseng mencubiti klitorisku. Dan Andi mulai mencukur dari mulai perut bawahku dengan hati-hati sekali, dan terasa bulu kemaluanku berjatuhan dan dingin di tempat yang sudah bersih. Terus Andi maju dan sekitar bibir tepi-tepi vagina bejembut lebatku juga. Ditariknya lembar bibir vagina bejembut lebatku dan dicukurnya pelan-pelan. Dan dalam beberapa menit gundul sudah vagina bejembut lebatku. Andi mengambil kaca kecil dan menyuruhku duduk. Aku mengangkang sambil duduk dan Andi meletakkan kaca itu di depan vagina bejembut lebatku, ha ha ha lucu sekali dan klitrosisku tampak jelas nongol, bibir vagina bejembut lebatku merekah dan kelihatan seperti kerang mentah.

"OK, sekarang giliranku," kataku, "Kalian bertiga tiduran, kita lihat siapa yang paling kuat, Mbak akan tunggangi kalian satu persatu dan yang paling kuat lama malam ini boleh tidur sama Mbak sampai pagi hadiahnya," kataku sambil senyum dengan buas dan binalnya. Ketiganya cepat berbaring dan aku bilang, "Ambil bantal semua, taruh bantal di bawah pantatnya!" Aku merasa liar sekali melihat ketiga tiang bendera dari daging itu sudah berdiri tegak lurus. Hmm, aku mulai dari Toni, dia berbaring di tengah dan aku jongkok di atas penisnya, kugenggam batang itu dan kugosok-gosok kepalanya di mulut vagina bejembut lebatku. Pelan-pelan aku jongkok lebih dalam dan kepala penisnya mulai masuk. Toni merem menikmati dan mulutnya terbuka dan mendesah-desah keenakan. "Bless..." masuk semua dan aku turun terus sampai terbenam dan aku mulai bergoyang berputar tanpa naik-turun dengan cepat, genggaman vagina bejembut lebatku kukerahkan dengan kuat, terus kuputar searah jarum jam. Buah dadaku yang montok bergoyang, satu di kiri diremas Andi dan yang kanan diremas Herman, mereka juga ikut terengah-engah. Aku mulai mengulek penis Toni ke depan dan ke belakang, berayun-ayun, pinggulku berputar-putar, dan terasa hangat dan kerasnya penisnya di dalam vagina bejembut lebatku dan mata Toni terbelalak ke atas sehingga kelihatan putihnya saja, dan badannya melengkung kejang.

Dalam 2 menit sudah orgasme dia dan semprotan maninya di dalam vagina bejembut lebatku panas sekali. Dan aku sendiri karena buah dadaku diremas-remas kedua anak ini di kiri dan di kanan juga tak lama ikut meledak. Suasana yang cabul ini menggelorakan birahi, dan aku mengejangkan badanku menikmati orgasme entah keberapa. Kempitan vagina bejembut lebatku membuat Toni agak kesakitan karena kuatnya otot dinding vagina bejembut lebatku. Terasa klitorisku menyentuh rapat ke penis Toni, dengan terengah-engah aku berlutut dan kucabut vagina bejembut lebatku dari penis Toni yang kuyup dengan sperma dan cairan kewanitaanku. Aku merangkak pindah menungging di atas penis Herman, buah dadaku bergantung bebas, aku ingin mengisap penis Herman dan menelan sumber awet muda, tadinya aku juga maunya Toni aku sedot dulu spermanya yang penuh protein itu, hanya vagina bejembut lebatku gatal sekali tadi. Dan setelah digaruk oleh kepala penis itu, enak sekali, agak mending walau aku masih penuh birahi. Terasa Andi menggosok vagina bejembut lebatku dengan tissue untuk melap mani Toni yang berleleran dan aku sudah tak perduli. Kuraih batang penis Herman yang kulihat agak gemetar menahan gejolak senangnya, ia membayangkan penisnya bakal aku sedot. Kuciumi dulu sepanjang batang penis dari satu sisi ke sisi lain. kemudian kulekatkan lidahku di bagian bawah kepala penisnya yang sudah berkilat-kilat basah dan kuputar sekitar penis itu dengan lincah dan seketika menggelinjang Herman keenakan.

"Aduh Mbak Ettyyy..." dan tangannya seketika mencengkeram rambutku dan mendorong agar penisnya masuk ke mulutku. Aku sengaja hanya menyentuh dengan ujung lidahku di atas kepala penisnya, dan tanganku mengelus-ngelus buah zakarnya yang sudah padat itu. Kuremas-remas buah pelir itu dan ciuman-ciuman ke batang penis sekitar pelir membuat ia tambah liar dan sudah seperti kuda liar. Menggeram minta agar aku menyedot. Ah anak muda perjaka. Aku masukkan kepala penisnya saja ke dalam mulutku dan kukelomoh seperti makan es krim Walls saja laiknya atau Lolipop. Pembaca wanita yang belum pernah nyoba anda kehilangan cara-cara yang menakjubkan ini untuk memberi nikmat pada pasangan anda (pasangan di rumah maupun di luar). Dan tanganku tetap menggocok pelir dan batang Herman sementara itu dari belakang Toni memelukku dan memerah-merah buah dadaku dan eh gila si Andi masuk ke selangkanganku yang sudah di lapnya dan ia menarik pantatku sehingga aku terduduk dengan vagina bejembut lebat di atas mulut Andi. "Uihhh geli sekalii..." dan Andi karena sudah lebih pengalaman (siapa dong gurunya) memberiku kenikmatan selangit. "Aahhh..."

Gila deh aku dan tiga anak muda-muda dan telanjang bulat semua. Sayang tidak ada kamera video waktu itu. Kuhisap kencang sampai pipiku kempot dan lidahku menyambar-nyambar kepala penis di dalam dan akhirnya Herman mengangkat tinggi-tinggi pantatnya dan aku hampir tersedak penisnya masuk ke dalam rongga mulutku yang dalam, dan... "Srot... srott..." Bertubi-tubi spermanya muncrat dan kusedot dan kutelan habis. Mbak-Mbak, ini dia obat awet muda, rahasia lho. Dan Andi menyedot terus klitorisku sehingga aku pun orgasme dan saking naik ke otak, mataku gelap dan aku duduk menekan vagina bejembut lebatku di mulut Andi sambil berputar di situ. Aku tumbang ke samping dan Andi bangun, mulutnya berbuih putih di sekitar bibirnya sehingga aku tertawa melihatnya sambil terengah-engah. Dan Toni sudah ereksi lagi, Andi juga dan Herman masih mencari nafas, penisnya separuh tegang. Kuambil air di gelas dan sambil menenangkan nafas aku minum, eh lagi duduk gitu susuku sudah diremas-remas lagi dan idih ini anak-anak, entah tangan siapa masuk mengorek-ngorek vagina bejembut lebatku dan aku dipeluk dari belakang, siapapun aku sudah tidak perduli.

Aku menikmati mereka malam ini. Ujian biologi? Hmm aku tahu mereka hanya buat alasan saja. Telingaku dicium dan dijilat entah oleh siapa, perutku juga diciumi salah satu anak, dan aku langsung spanning"Ayo Ton, maju-mundur, Mbak kepit dengan tetek nih penismu, enak tidak."


"Eeenakk... Mbakkkk..." gumamnya bingung.


Dia dengan canggung maju-mundur, keringat di buah dadaku menjadi pelincinnya.


"Man kamu berlutut di atas mulut Mbak dan sinikan penismu ke dalam mulut Mbak lagi," kataku.


Lalu akhirnya Andi menyemprotkan spermanya ke dalam vagina bejembut lebatnya, dan disusul Herman sambil mengerang kuhisap teras penisnya dan muncratlah spermanya memenuhi mulutku. Toni masih terus menggesek-gesek penisnya dikepit buah dadaku, lalu dia menyemprotkan spermanya sampai mengenai dagu dan muka.

Mereka lalu lemas berbaring di samping kanan dan kiriku, mereka benar-benar puas, dan ilmu mereka jadi bertambah, ilmu yang mana? Ah aku tidak perduli, pokoknya aku puas dan dapat pengalaman uang bermacam-macam. Sampai sekarang aku masih membutuhkan seks terutama yang muda-muda, agar awet muda, dan aku benar bahagia menikmati semuanya ini.

3 Artis
Pintu kamar mandi telah tertutup. Kudengar Weny bernyanyi-nyanyi kecil. Aku berjingkat mendekat ke depan pintunya. Aku mengintip dari celah yang sama dengan celah pengintipan Weny saat aku mandi tadi. Kudekatkan mataku ke celah itu. Kulihat Weny sedang membuka bajunya. Tangannya ke atas menarik kaosnya. Kulihat ketiaknya yang terbuka. Wow, ketiak perawan yang membuat darahku langsung naik. Dia tidak memakai BH. Mungkin sudah dilepas di kamarnya tadi. Saat menggantungkan kausnya ke dekat pintu, serasa buah dadanya mendekat ke wajahku. Kemudian tetap dengan nyanyi kecilnya, ia melucuti rok bawah. Nampak bokongnya yang besar masih terbungkus celana dalam putihnya. Sekilas ia mengelus sesuatu yang tembem di depan celananya. Sekali lagi, ketiak dan buah dadanya mendekat ke pintu. Tangannya menggantung rok bawahnya. Dan kini ia membuka celana dalam putihnya. Aku serasa dipamerkan sebuah pesona. Vagina berbulu lebat Weny yang menggembung. Jembut lebatnya membuat vagina berbulu lebat tersebut serasa memanggil lidahku yang berkesempatan menjilatinya untuk memberikan kenikmatan pada Weny.
Aku menatapnya dengan lebih terbeliak. Pada gundukan nikmat itu, bagian tengah atasnya mulai terbelah lembut. Semakin ke bawah, belahan itu semakin melebar karena desakan kelentitnyayang menggembung mengisi penuh belahan itu. Ingat hamburger yang berisi daging asap? Seperti itulah kira-kira penggambarannya. Kurasakan vagina berbulu lebatku yang mulai membasah. Kelentitnya adalah benar-benar kelentit perawan. Belum nampak lipatan-lipatan yang disebabkan oleh benda tumpul yang sering mendesaknya. Sedikit mendekati ujungnya, kelentit itu mencuat keluar. Itu mengindikasikan bahwa kelentit Weny berukuran sangat besar. Kelentit seperti itu pasti akan sangat nikmat jika dilumat. Kemudian karena Weny membelakangi pintu karena sedang menggosok giginya untuk beberapa saat, vagina berbulu lebatnya tidak tampak. Tetapi kini aku dapat menyaksikan pesona yang lain, yaitu pantatnya.

Ternyata anak muda sekarang ini tak pernah melewatkan mode dan trend. Weny memasang tatoo bergambar sebuah pesawat ulang-alik di ujung bokongnya. Entah apa maksudnya, tapi yang jelas tampak manis sekali. Saat tubuhnya sedikit membungkuk untuk bersikat gigi, belahan pantat Weny tampak merekah. Anusnya yang hitam manis itu sangat mulus. Sebuah paduan yang penuh harmoni. Pantat anak perawan yang begitu sensual dengan alur-alur halus menuju titik klimaksnya, bibir anus yang mulus kemerahan. Aku menahan air liurku. Selesai menyikat gigi, Weny mengambil gayung untuk mulai menyirami tubuhnya. Mula-mula tangan dan kemudian kakinya. Dia menghindari air yang dingin langsung menyiram seluruh tubuhnya.

Kini tubuhnya yang basah memperlihatkan kontras lekuk liku bukit dan lembah di tubuh Weny. Dia menyiram tubuhnya dari atas kepala. Rambutnya yang basah berserak melekat menutupi sebagian tubuhnya. Aku jadi teringat seorang sutradara Hollywood yang berkata tentang indahnya wanita. Dia mengatakan bahwa saat mandi, seluruh bentuk alami seorang wanita akan menunjukkan kapasitas keindahannya yang maksimal. Dan itulah sekarang yang sedang kunikmati. Weny menunjukkan keindahannya dalam basah tubuhnya. Kini dia mengambil sabun mandi. Dia usapkan ke bahunya yang bidang, lalu turun ke dadanya. Buah dadanya nampak sedemikian padat dan ranum saat tangannya yang halus meremas dan menggosoknya. Dia juga memilin-milin putingnya dengan sedikit mendesah.

Yang membuatku jadi setengah bertanya adalah, apakah peristiwa sebelumnya saat dia mengintipku mandi tadi telah mempengaruhi perasaannya, sehingga dia mendesah seperti itu? Perasaan erotisku menjalar ke ubun-ubun. Tanganku mengelus-elus rasa gatal dan panas di kemaluan berbulu lebatku. Cairan birahiku semakin terasa mendesak keluar. Weny mengambil gayung dan menyiram tubuhnya mulai dari kepala. Air yang mengguyur dan mengalir di seluruh tubuh menghapus 'busana' surganya. Weny berubah menjadi porselain China yang hitam manis berkilatan. Bibir Weny kembali mendesah dengan mulutnya yang setengah terbuka menghela nafas saat air dingin segar itu menyiram tubuhnya. Kemudian tangannya beralih menggosok bagian tubuh yang lainnya.
Diangkat satu tangannya ke atas dan tangan yang lain menyabuni ketiaknya yang terbuka, demikian bergantian. Lembah sensual di ketiak Weny sungguh sangat mempesona. Aku membayangkan aromanya saat basah oleh keringatnya seusai baris berbaris saat melakukan tugasnya sebagai mayoret. Kembali aku menelan air liurku. Dari ketiak, tangannya menyabuni perut hingga ke selangkangannya. Di sini jantungku berdegup dengan kencang. Perut perawan yang kencang dan langsing, dengan pusarnya yang nampak masuk ke dalam itu tampak begitu serasinya. Warna kulitnya justru memancarkan keindahan perut Weny ini.

Dimiringkan telapak tangannya saat menyelip dan membelah bibir kemaluan berbulu lebatnya. Tangannya masuk setengah, kemudian ditariknya untuk menggosok ke atas dan kemudian dengan cepat diturunkannya kembali, terus berulang-ulang. Bibir kemaluan berbulu lebatnya yang nampak demikian subur dan montok terdesak oleh jari-jarinya. Dengan wajahnya yang menatap langit-langit, Weny setengah menutup matanya. Dia seakan menarik nafas hendak mengendus aroma sesuatu, mungkin aroma sabun yang harum itu. Gosokan tangannya ke atas bawah itu kini juga telah lebih dalam memasuki celah kemaluan berbulu lebatnya. Samar-samar kudengar Weny mendesah. Tiba-tiba matanya langsung mengarah celah dimana aku sedang mengintipnya. Aku terkejut, apakah dia tahu bahwa aku mengintipnya? Ah biarlah, toh kalau sampai dia tahu pun, aku masih bisa berkilah bahwa dia juga telah mengintipku saat aku sedang mandi tadi. Tapi ternyata dia bukannya sedang menatapku.

Tangannya yang kini bergerak maju, mengambil sesuatu dari gantungan baju yang memang letaknya menempel di pintu itu. Tetapi, Weny meraih celana dalamku yang karena lupa, masih tertinggal di kamar mandi. Celana dalam itu sudah kotor dan aku telah berganti mengenakan celana dalam lain yang masih bersih. Yang membuatku lebih terkejut lagi adalah, dengan serta merta, celana dalamku yang bermotif bunga-bunga merah muda itu diciuminya. Dia tangkupkan ke hidungnya dan dengan matanya yang setengah tertutup, dia menghirupnya dalam-dalam selama bermenit-menit. Dia bolak-balik serta di gosok-gosoknya celana dalam kotor itu ke hidung dan wajahnya. Dia juga mengecap-ngecap dengan mulutnya hingga celana dalam tersebut tampak basah kuyup oleh ludahnya, khususnya di bagian menyempit yang pada saat dipakai akan menyelinap di celah pantatku. Wow, edan juga birahi anak ini, birahi si anak perawan cantik yang terobsesi dengan celana dalam kotorku hingga membuatku ikut blingsatan.

Selanjutnya, kulihat Weny mengangkat kaki kanannya untuk diinjakkan ke tepian bak mandi hingga nampak selangkangannya terbuka, kemudian satu tangannya kembali turun dan membelah bibir kemaluan berbulu lebatnya yang kini merekah di tengah selangkangannya yang terbuka. Dengan licin sabunnya yang masih tertinggal, jari-jarinya menembus lubang vagina berbulu lebatnya, kemudian mengocok-ngocok keluar masuk dengan cepat. Desahannya kini juga disertai dengan rintihan yang tertahan. Dia dalam keadaan sangat terhanyut. Birahi telah melanda nafsunya. Pantatnya kemudian juga ikut bergoyang maju mundur. Hal itu berlangsung cukup lama. Terkadang tangannya menusuk lebih dalam ke vagina berbulu lebatnya. Celana dalamku digigiti dan diisap-isapnya.

Saat ini Weny sedang merasakan kenikmatan layaknya orang bersenggama. Kulihat keringat mulai mengucur dari dahinya. Basah air di rambutnya yang nampak awut-awutan, berubah menjadi basah keringat. Wajahnya terus mendongak ke langit-langit. Matanya setengah tertutup dan mulutnya setengah terbuka. Terdengar desahannya, hingga tak ayal lagi, kenikmatan orgasme akan segera dialami oleh Weny. Dan benar saja, tak lama kemudian, akhirnya cairan birahinya muncrat. Weny berhasil meraih orgasme. Kuperhatikan dia saat menjelang orgasme, gerakan maju-mundur pantatnya, keluar masuk tangannya, hidungnya yang dengan penuh kegilaan menghirup aroma celana dalamku, semuanya berlangsung semakin cepat dan penuh nafsu. Weny kemudian rubuh ke lantai. Dia terduduk kelelahan.

Dan aku sendiri benar-benar telah terkena imbas badai birahinya. Aku benar-benar sudah tak tahan lagi hingga dengan setengah berlari, aku kembali ke kamar tidurku. Segera kukunci pintu untuk melucuti pakaianku. Kuambil dildo pemberian tetanggaku Indri dari laci rahasiaku. Aku merebahkan diri di ranjang. Kulipat pahaku hingga hampir menyentuh tubuh. Pantatku menghadap lurus ke dinding dan kemaluan berbulu lebatku terbuka. Dengan cepat, kusentuhkan kepala dildo itu ke bibir vagina berbulu lebat dan kelentitku, lalu kudorong agar memasuki kemaluan berbulu lebatku. Masih terasa agak sulit dan 'seret', hingga terpaksa kutarik kembali dan kuludahi. Kuludahi juga telapak tanganku untuk kemudian kuoleskan ke dalam vagina berbulu lebatku.

Kemudian kutusukkan kembali dildo itu ke dalam kemaluan berbulu lebatku hingga habis seluruh batangnya. Dan dengan cepat kukocokkan ke dalamnya hingga dinding-dinding vagina berbulu lebatku dapar merasakan setiap detail batang dildo itu. Nafsuku yang sudah sedemikan memuncak sejak mengintip ekspresi Weny pada saat dilanda orgasmenya tadi mempercepat datangnya orgasmeku sendiri. Aku menjerit tertahan menerima kenikmatan tak terhingga ini. Kupercepat kocokan dildoku hingga akhirnya segalanya reda. Aku terkulai sambil mengatur nafasku satu-satu. Ohh.. Weny, kaulah penyebabnya.

Kudengar Weny kembali menyiram tubuhnya. Tak lama kemudian, suara pintu kamar mandi terdengar berderit. Weny baru selesai mandi. Aku mencoba membayangkan saat dia baru keluar dari kamar mandi dengan menjinjitkan kakinya karena khawatir telapak kakinya akan membasahi lantai keramikku. Kubayangkan rambutnya yang masih basah dengan handuk yang melilit tubuh indahnya. Kubayangkan tetes-tetes air yang jatuh dari tubuhnya ke lantai, tercecer dalam kristal-kristal yang bening. Kubawa terlena semua bayang-bayangku hingga akhirnya aku tertidur.

Aku membayangkan diriku seolah penari striptease yang sedang berada di atas panggung hiburan. Kulepas busanaku satu persatu dengan gaya erotis. Pertama, kulepas ikat pinggang mantel handukku. Kemudian aku bergaya seolah menggulung rambutku. Gaya seperti ini akan tampak menggairahkan apabila terlihat dari arah samping. Oleh karenanya aku berdiri di dekat bak mandi secara menyamping dari arah pintu. Kemudian kulepas mantelku dan kugantung di gantungan baju di balik pintu. Aku yakin saat ini jantung Weny mulai berdegup kencang. Sebelum aku melepas BH-ku, kumasukkan tangan untuk menggaruk-garuk buah dadaku seolah gatal sambil sedikit mendesah. Aku juga menggosok leherku. Ini kulakukan untuk menunjukkan pada Weny betapa sensualnya leherku. Aku kemudian mengelus dagu, rahang hingga belakang telingaku. Tempat-tempat itu biasanya merupakan sasaran bibir dan lidah saat seseorang berkesempatan untuk mencium dan menjilatinya.
Kugosok juga ketiakku. Kuangkat tinggi-tinggi tangan kiriku kemudian kuelus dan kugaruk lembut lembah ketiakku. Teman dan tetanggaku Indri, sangat keranjingan apabila menyaksikan ketiakku karena menurutnya ketiakku indah dan harum seperti ketiak dewi dari surga. Maklum saja, itu menurut orang yang sedang keranjingan. Kemudian kedua tanganku meraih kancing BH di punggungku. Gaya membuka kancing BH ini adalah juga sesuatu yang sangat disenangi oleh para wanita dan pria hidung belang, karena saat membuka kancing BH, seorang wanita akan memperlihatkan lengannya yang mulus, sedikit ketiaknya, juga dadanya yang tertarik ke belakang hingga payudara akan tampak lebih kencang dan menggembung. BH itu kembali kusangkutkan di gantungan baju. Aku teringat celana dalam kotorku kemarin yang telah dilumat oleh bibir dan lidah Weny. Sekarang akan kutinggal BH-ku di gantungan ini. Aku ingin melihat ekspresi Weny saat menciumi BH-ku nanti. Kemudian kuamati perutku yang masih mulus tanpa lipatan.

Kini saatnya kurogoh celana dalamku. Dengan melewati 'tahi lalat' yang berada di tepi celana dalamku, kuelus kemaluan berbulu lebatku. Kumasukkan jari-jari ke belahan kemaluan berbulu lebatku dan menggosoknya. Kemudian kuperosotkan celana dalamku hingga terentang di kedua pahaku dan kembali dengan tangan kuelus bibir vagina berbulu lebatku yang kini sepenuhnya terbuka. Kulihat kaki Weny belum bergerak dari tempatnya. Kupikir, tentunya saat ini dia sedang mati-matian berusaha menahan gejolak birahinya. Aku tersenyum geli dengan permainanku sendiri.

Kemudian giliran pantatku. Aku merundukkan badanku setengah menungging kemudian menggosok-gosok pantat beserta belahannya. Kumasukkan jari-jariku pada belahan itu dan kutusukkan jari ke lubang analku. Aku memutar tubuhku hingga pantatku membelakangi pintu agar dari tempat Weny nampak gempalnya pantatku yang menurut Indri sangat seksi. Dan akhirnya kulepas sama sekali celana dalam dari pahaku. Kini saatnya aku mandi setelah sebelumnya kucuci tangan, jari-jari dan lenganku. Kemudian kucuci kakiku, jari-jarinya dan betis serta pahaku. Ini selalu kulakukan untuk menghindari keterkejutan tubuhku yang akan dengan tiba-tiba tersiram air yang dingin ini. Kemudian kuguyur seluruh tubuhku.

Gayung air kupenuhi kemudian mulai kuguyurkan dari kepalaku. Kusabuni seluruh bagian tubuhku. Aku bernyanyi-nyanyi kecil sambil melirik kaki Weny di sebelah pintu yang sama sekali tidak bergerak sejak awal aku masuk kamar mandi tadi. Entah apa yang sedang dilakukannya. Bukan tidak mungkin tangannya sedang mengocok vagina berbulu lebatnya. Setelah mandi aku menyambar handuk dari gantungannya untuk mengeringkan badan. Kemudian kukenakan mantelku. Setelah selesai, aku segera keluar kamar mandi dan langsung menuju ke kamarku. Kulihat Weny telah kembali duduk manis sambil berpura-pura membaca koran pagi di ruang keluarga.

Di kamar, aku memasang telinga. Beberapa saat kemudian kudengar Weny memasuki kamar mandi. Aku bergegas menuju ke pintunya. Kali ini gilirankuku yang dibuatnya blingsatan. Kali ini Weny bukannya langsung mandi tetapi malahan mengikuti dorongan birahinya dulu. Dia memeriksa apa-apa saja yang kutinggalkan di gantungan baju di balik pintu. Dia pasti telah menemukan BH dan celana dalam kotorku. Pertama, dia raih BH-ku dan diciuminya. Di sini aku melihat adegan yang sangat erotis.

Weny mengangkat baju kausnya hingga ke atas buah dadanya yang montok dan ranum itu. Kemudian sambil menciumi BH-ku, tangannya meremasi payudaranya dengan penuh birahi. Tangannya begitu erat meremas payudaranya. Jari-jarinya memilin puting-putingnya secara bergantian antara kiri dan kanan. Weny mendesah dan merintih nikmat. Kemudian diraihnya celana dalamku untuk kembali diciuminya. Celana dalam beserta BH-ku telah berada di tangannya untuk secara bergantian dicium dan dilumatnya hingga basah kuyup oleh air liurnya, sambil memilin puting susunya.

Rupanya karena baru saja mengintipku mandi tadi, birahi Weny dengan cepat naik hingga ia tak mampu lagi menahannya. Dia segera bergerak merangkak di lantai. Kutunggu apa yang akan diperbuatnya. Diraihnya gayung air plastik dari tepi bak mandiku. Tangkainya yang berupa plastik licin membulat itu dijadikannya dildo untuk merangsang kemaluan berbulu lebatnya. Tangan kanannya memegang bibir gayung air itu dan menempelkan tangkainya ke vulvanya, kemudian ia mencoba memasukkan ke lubang surganya. Dia terus menusuk-nusukkannya hingga akhirnya pelan-pelan tangkai itu berhasil menembus vagina berbulu lebat dan tenggelam ke dalamnya.

Dia mengaduh dan merintih tertahan. Kulihat kini dia mulai mengocok tangkai gayung air itu ke lubang kemaluan berbulu lebatnya. Sementara itu pantatnya bergerak maju mundur menyongsong tangkai itu. Mungkin dia membayangkan dirinya sebagai anjing betina yang sedang digasak oleh jantannya. Dia melakukan manuver anjing betina itu dalam waktu yang cukup lama dan semakin cepat gerakannya. Aku benar-benar dibuatnya blingsatan. Vagina berbulu lebatku terasa berdenyut-denyut hingga cairan birahiku mengalir dengan sangat deras.

Nampaknya dia sedang berusaha meraih puncak kenikmatannya. Weny mengubah posisinya hingga gayung air yang berbentuk segi empat dengan tangkainya yang bulat panjang seukuran penis itu tegak lurus ke lantai. Dia pegang dan dicoba didudukkannya, kemudian diposisikannya lubang kenikmatannya agar tepat berada di atas tangkai itu. Dan setelah beberapa kali dia bergerak menekan-nekan ke bawah, akhirnya tangkai gayung air itu amblas ditelan vagina berbulu lebatnya. Weny kini menggenjot tangkai itu naik turun seperti layaknya sedang menyetubuhi penis lelaki. Tangan kanannya terus menahan gayung air itu agar tetap berada di tempatnya sambil menyandarkan wajah dan memiringkan tubuhnya ke dinding untuk memberikan kesempatan pada tangan kirinya agar dapat menahan BH dan celana dalamku untuk dapat terus menciuminya.
Akhirnya, dengan diakhiri desah dan rintihannya yang memburu, cairan birahi muncrat dari vagina berbulu lebatnya. Weny meraih orgasme untuk kedua kalinya di bawah sorotan mataku. Aku kembali sangat terkesan melihat apa yang telah diperbuat Weny hingga membuat birahiku kambuh lagi. Dan seperti halnya kemarin, aku segera bergegas ke kamarku. Aku terus teringat dan terbayang saat Weny menjadi anjing betina dan melakukan masturbasi dengan tangkai gayung air kamar mandi tersebut. Aku seakan mendengar desah dan rintihannya kembali. Aku mengulangi melakukan masturbasi dengan dildoku hingga aku juga akhirnya meraih orgasmeku berkat tontonan erotis Weny tadi.

Saat sedang sendirian seperti ini, pikiranku selalu menuju ke arah seksual. Dan akhir-akhir ini Weny telah merampas seluruh lamunanku. Aku sering membayangkan sedang duduk bersamanya di sofa ini. Kemudian kami saling mengelus paha, saling melumat bibir, saling menjilati payudara, maupun ketiak kami. Kami akan saling bertukar celana dalam. Aku akan melepas celana dalamku untuk kuberikan padanya, demikian pula sebaliknya dengan dia.

Kulihat Weny sering melirikku dengan ekor matanya. Biasanya kalau sudah begitu, kudengar dia menarik nafas panjang dan aku sendiri sulit untuk berlagak acuh saat menghadapi hal seperti itu. Aku juga sering mencuri pandang padanya saat dia sedang duduk santai dengan hanya memakai pants-nya. Saat kakinya sedang mengangkang tanpa disadarinya, atau saat sedang menyilangkan kakinya. Aku suka sekali pada kakinya yang sensual itu hingga aku sering membayangkan mengulum jempol, jari-jari maupun betisnya. Terkadang dia menggunakan blus yang menggantung hingga menampakkan pusarnya. Sulit bagiku untuk tidak menikmati keindahan pusar seksi itu.

Sekarang akan kujalankan skenario yang telah kupersiapkan. Skenario ini adalah dildo yang kukesankan seolah dengan sengaja kusembunyikan dalam kamar mandi. Aku membuka dan mengangkat tutup kloset. Dildo tersebut kurekatkan dengan selotip di balik penutup kloset. Kukesankan bahwa itu memang tempat rahasiaku, agar Mas Adit tidak pernah mengetahuinya. Kulepas selotipnya dan kuambil dildo itu. Kemudian kuguyur dan kucuci dengan air. Dildo ini adalah pemberian Indri, terbuat dari silikon bening warna biru yang kenyal, agar saat memegang terasa seperti memegang penis sungguhan. Bentuknya besar dan memanjang, dengan setiap ujungnya persis menyerupai kepala penis, hingga dildoku ini sangat merangsang dan akan membuat "dag dig dug" setiap perempuan yang mendambakan penis super besar.
Dildo itu kucium, kemudian kujilat-jilat sepanjang batangnya dan kemudian ujungnya kukulum.

Mulutku maju mundur mengulum batangnya yang erat berada dalam genggamanku. Aku melakukan gerakan seakan sedang memompa penis ke mulutku. Mataku terbuka terpejam merasakan betapa nikmatnya penis ini hingga aku mendesah. Kemudian kubawa dildo itu menyentuh leherku, menyusuri bawah dagu, ke samping rahang dan turun ke jenjang serta lipatan leherku. Kuperlihatkan ekspresiku yang menahan kenikmatan birahi. Terus kualihkan dildo itu ke dadaku. Kutuntun kepalanya menelusuri lekuk-lekuk buah dadaku. Kubenam-benamkan ke putingku. Aku menjerit tertahan sambil menggigit bibirku menahan nikmat. Kepala dildo itu juga kutuntun ke ketiakku untuk kugosok-gosokan di sana. Pandanganku mengarah ke langit-langit sambil mataku berkejap-kejap.
Kubawa dildo tersebut lebih ke bawah lagi, ke perut dan pusarku serta menggosok bulu-bulu kemaluan berbulu lebat halusku. Dan lebih ke bawah lagi, kueluskan dildo tersebut ke kanan dan kiri selangkanganku sebelum akhirnya menyentuh vagina berbulu lebatku. Dan saat dildo tersebut mendesak bibir vagina berbulu lebatku, kembali aku menjerit tertahan. Betapa nikmat rasanya saat dildo itu menyentuhi klitorisku. Kutusuk-tusukkan kepala dildo itu ke ambang vagina berbulu lebatku. Kini aku tidak lagi berpura-pura. Aku merasa benar-benar terangsang. Cairan birahiku keluar hingga melicinkan bibir vagina berbulu lebatku. Terjangan kepala dildo itu lama-lama semakin menusuk kemaluan berbulu lebatku. Kenikmatan vagina berbulu lebatku tak bisa lagi kupungkiri. Kini aku benar-benar mendesah dan merintih. Kini aku ingin agar kemaluan berbulu lebatku melahap dildo itu hingga akhirnya kakiku kuangkat hingga berpijak ke tepi bak mandi. Dengan selangkangan yang terbuka, dildo itu mulai kupompakan secara ritmis dengan disertai desahan dan erangan nikmat yang melandaku.

Belum juga reda nafsu birahiku, kini aku merangkak ke lantai kamar mandi. Aku menungging. Kumasukkan dildo itu ke liang surgaku dari arah belakang. Tangan kananku kembali memompanya. Pantatku kugoyang-goyangkan agar dapat lebih membantu menyongsong pompaan dildo itu. Kini aku benar-benar dilanda nafsu. Aku menginginkan agar orgasmeku lekas hadir. Tangan kananku mempercepat pompaan tersebut. Rasanya aku ingin telentang di lantai. Dengan menyenderkan sebagian kepalaku ke dinding yang menghadap ke arah pintu, aku telentang di lantai dengan paha yang kubuka lebar. Dari arah depan, tanganku kembali memompakan dildo itu ke kemaluan berbulu lebatku. Samar-samar kulihat kaki Weny di celah bawah belakang pintu. Ternyata itu bukan kaki melainkan lututnya. Rupanya Weny juga telah terhanyut oleh apa yang sedang disaksikannya. Mungkin kini tangannya juga sedang meremasi payudaranya atau mengocok kemaluan berbulu lebatnya.
Akhirnya dengan posisiku yang telentang di lantai kamar mandi ini, aku meraih orgasme. Aku nyaris tak mampu lagi untuk menahan teriakan karena nikmat yang melandaku. Cairan birahiku muncrat keluar dari vagina berbulu lebatku. Perasaan kelegaan langsung hadir menenangkan gelombang libidoku. Aku mulai menarik nafas panjang. Setengahnya aku merasa geli di hatiku. Permainanku ternyata seperti senjata makan tuan. Aku sendirilah yang setengah mati dikejar nafsu birahiku. Pelan-pelan aku berdiri. Kuletakkan kembali dildoku di atas kloset. Dan kemudian aku mandi. Sebelum keluar, kukembalikan dildoku ke bawah tutup kloset dan kurekatkan kembali selotipnya.

Aku berusaha agar tampak biasa-biasa saja. Tak kulihat Weny, mungkin sedang berada di kamarnya. Aku menuju ke kamarku sendiri kemudian menyisir rambut dan mengenakan daster malam. Saat keluar, kulihat pintu kamar mandi sudah tertutup kembali. Kini adalah giliran Weny untuk mandi. Sebenarnya aku tidak begitu berminat lagi untuk mengintip Weny karena gejolak birahiku sudah mereda. Tetapi toh, aku ingin juga melihat apa sebenarnya yang dilakukan oleh Weny di kamar mandi sekarang ini.

Aku berjingkat mengintip. Kulihat dia tinggal mengenakan BH dan celana dalamnya. Kemudian kulihat Weny memerosotkan setengah celana dalamnya kemudian berjongkok ke lantai untuk pipis. Kuperhatikan air kencingnya yang sangat deras, mancur dengan kuat dari lubang vagina berbulu lebatnya. Cairan kekuningan yang pekat bening itu, ingin rasanya kucoba agar membasahi tanganku, mencuci tanganku dengannya dan kemudian akan kujilati tanganku yang basah. Biar tanganku menadahinya, agar dapat kucuci mukaku dengan air seni Weny yang cantik ini. Akan kujilati lantai yang basah oleh air seninya. Begitu melihat air seninya, birahiku yang telah reda kembali terbakar.

Selesai pipis, dia bangkit sambil mengembalikan celana dalamnya. Kemudian dengan sangat perlahan dia merunduk untuk membuka penutup kloset. Diraih kemudian dilepaskannya dildo yang kutempelkan di balik penutup itu. Dia tidak mencucinya lagi, walaupun sebelumnya dia juga melihatku membiarkannya belum dicuci setelah kupakai untuk memuaskan birahiku tadi. Bahkan dijilatinya bekas-bekas dari cairan birahi kemaluan berbulu lebatku. Diciumnya dildo bekas pakaiku itu. Dia jilati sepanjang batangnya, kemudian bibirnya mengulum-ngulumnya.

Dikeluarkannya buah dadanya dari BH-nya, kemudian digosok-gosokkannya dildo itu di sana. Dia gesek-gesekkan ke putingnya secara bergantian, kanan dan kiri sembari mendesah pelan. Belum puas juga, dia masukkan dildo itu ke BH-nya dari arah bawah dan digosok-gosokkannya kembali. Selanjutnya seolah mengikuti route yang telah kulakukan tadi, ia menggosokkannya ke ketiak, perut, bulu kelamin, selangkangan dan pusarnya. Wajahnya menengadah ke langit-langit dengan matanya yang sayu menahan kenikmatan.

Aku sangat terpesona melihat bibirnya yang setengah terbuka sambil menampakkan desah nafasnya yang memburu. Kemudian tangan kirinya menyibakkan tepian celana dalamnya. Dia sentuhkan kepala dildo itu ke vagina berbulu lebatnya. Kupikir, pasti kelentit dan bibir vagina berbulu lebat Weny saat ini sangat kegatalan karena birahi. Dengan tanpa membuka celana dalamnya, kini dildo itu dia dorong masuk ke dalam vagina berbulu lebatnya.

Dengan tanpa kesulitan sama sekali, Dildo sepanjang 25 cm itu setengahnya tertelan masuk. Pelan-pelan dan dengan sepenuh perasaan, kini Weny memompa kemaluan berbulu lebatnya. Sambil mendesah dan menggigit bibir, pantatnya maju mundur menerima tusukan ritmis dari dildo itu. Nafsu birahiku yang sudah menyusut reda kemudian kembali terbakar setelah menyaksikan Weny membuang air seninya, kini menggelegak kembali menyaksikan pemandangan yang sangat mempesona itu hingga aku meneguk air liurku.

Tanpa melepas dildo dari kemaluan berbulu lebatnya, Weny mengubah posisinya. Seperti posisi kemarin, dia merangkak dan menungging dengan pantatnya menghadap ke pintu. Dilanjutkannya mengeluarmasukkan dildo ke vagina berbulu lebatnya. Pantatnya kini maju mundur dengan cepat mirip seperti anjing kawin. Tangannya mengocok dildo itu dengan cepat ke lubang surganya. Aku tidak tahan lagi mendengar Weny merintih seperti itu. Kudengar dia sangat menderita. Tangannya yang mengocok dengan kencang belum juga membuatnya mencapai kepuasan. Dia kembali bergeser dan telentang ke lantai. Pantatnya diangkat hingga lututnya terlipat ke arah tubuhnya. Aku kembali melihat lubang pantatnya hingga membuat air liurku mengalir keluar. Vagina berbulu lebatnya kini terbuka ke atas menantikan kembali tusukan dildonya. Kemudian sesudah menempatkan kepala dildo itu tepat pada bibir kemaluan berbulu lebatnya, tangannya menekan hingga sebagian dildo itu amblas menghunjam vagina berbulu lebatnya. Kemudian Weny memompanya kembali. Nampak bahwa dia begitu merasakan setiap tusukan dildo tersebut.

Pada setiap tusukan dan tarikan selalu disertai dengan desah nikmatnya sampai dengan akhirnya dia mempercepat frekuensinya. Dan tak ayal lagi, kini Weny nampak mulai menapaki titik orgasmenya. Dia percepat tusukan dan tarikan dildonya. Tanpa sadar tanganku ikut memeras buah dadaku. Aku juga mengerang tertahan, sambil menggigit bibir karena menahan nikmat nafsu yang datang melanda. Akhirnya kulihat Weny menggelepar di lantai kamar mandi. Semua bagian tubuhnya menggelinjang liar tak karuan menyertai vagina berbulu lebatnya yang memuncratkan cairan birahi. Aku menahan nafasku. Aku beranjak ke depan untuk duduk di ruang tamu menyandarkan tubuhku di sofa karena dengan melihat ulah Weny yang sedemikian liar dan kehausan, aku jadi ikut lelah.

Aku mendapatkan celana dalam dan BH Weny yang tertinggal dan tergantung di dekat pintu kamar mandi. Hal ini terjadi mungkin karena mandi pagi Weny yang terburu-buru tadi. Wajahku tersirap. Aku menggigil karena birahi yang langsung menamparku. Aku terpana. Segala skenarioku tidak kuperlukan lagi. Di kamar mandi ini aku menemukan opsi lain yang jauh lebih menggetarkan.

Mendekati celana dalam Weny, aku langsung limbung. Membayangkan bahwa hidungku akan menikmati aromanya. Dengan memandang BH kotor Weny, mataku jadi nanar. Aku akan memuaskan birahi dengan menjilati dan menciumi aroma keringatnya. Berat rasanya menahan diri untuk tidak menyentuh sebelum saatnya. Tetapi kudekatkan juga wajahku, kuamati celana dalam juga BH-nya yang tidak baru itu. Nampak warna pekat kekuningan pada celah sempitnya. Kudekatkan hidungku untuk mengendusnya. Kulirik kaki Weny yang ternyata sudah bersiap mengintipku lagi dari balik pintu. Kini saatnya "live show" dimulai. Pemain dan penonton tunggal sudah siap berada di tempatnya masing-masing. Birahi "exhibitionist"-ku telah mengantarkanku ke arena pertunjukan.

Aku menggosok dan mengelus leherku, kemudian turun ke buah dadaku. Kukeluarkan payudaraku dari BH dan kupilin putingnya, kemudian kugosok dan kuelus ketiakku. Di sela-sela itu, wajahku terkadang menyeringai sambil menggigit bibir, entah menggambarkan apa, yang penting aku berusaha menunjukkan ekspresi erotis agar dapat dinikmati dan dapat merangsang birahi Weny.

Aku memikirkan cara yang atraktif dan efektif saat cebok. Pertama, saat tangan kiriku meraih dan menghapus kotoran dari analku, terlebih dahulu kuangkat dan kuamati serpihan yang masih menempel di jari-jari, kuendus sekilas sebelum kembali ke anal sambil tangan kananku menyiram dengan air ke tempat itu. Kemudian saat aku mencuci vagina berbulu lebat, aku berusaha mengekspose penampilannya dengan cara yang tak kentara memposisikan diriku agar caraku menceboki vagina berbulu lebatku menjadi nyata dan jelas saat diintip dari celah pintu. Sebelum memasuki episode berikutnya, kutarik handle pelepasan air hingga klosetku bersih kembali. Kuperhitungkan bahwa tindakanku ini akan membuat Weny merasa sangat kecewa.

Selanjutnya kubuka pakaianku kecuali celana dalam dan BH. Dan inilah kejutan yang telah kupersiapkan untuk Weny. Tanganku meraih BH kotornya dari gantungan baju. Kurentangkan, kucium dan kemudian kujilati serta kulumat-lumat hingga kuyup oleh ludahku. Mulutku berusaha menyedot basah ludah di kain BH itu hingga setelah puas, kukalungkan ke leherku. Kini tanganku meraih celana dalamnya. Sebagaimana sebelumnya, kembali kucium dan kemudian kurentangkan. Nampak warna pekat kekuningan di bagian sempitnya yang biasa terjepit di bibir vagina berbulu lebat dan belahan pantat Weny. Aku tidak sabar lagi hingga kembali kuciumi bagian itu dan kulumat hingga kuyup.

Rasanya aku tidak puas-puas juga. Sambil terus menyedot bagian kuyup itu, tangan kiriku mengocok kemaluan berbulu lebatku. Kumasukkan jari ke lubang vagina berbulu lebatku. Kukorek-korek untuk mengurangi gatal birahi yang demikian mendesak-desak nafsuku. Tiba-tiba rasa birahi yang menyeruak membuatku ingin pipis hingga sekalian saja celana dalam Weny kupipisi juga. Sungguh sangat erotis nampaknya. Dan kembali kucium dan sedikit kuhisap basah air seniku di celana dalam itu sebelum akhirnya kugantungkan kembali bersama dengan BH-nya ke dekat pintu.

Wajahku demikian nanar memandang ke arah pintu dimana celana dalam dan BH Weny masih tergantung di dekatnya. Kemudian aku meraihnya BH dan celana dalam sambil menciuminya dan mendesahkan nama Weny. Aku menjadi benar-benar sangat menjiwai dan terangsang. Dengan terburu-buru, sambil sangat gemetar kubuka tutup air kloset. Kuambil dildo yang kuletakkan menempel di sana. Dengan tetap menjilati dan melumat celana dalam kotornya, kupompakan dildo tersebut ke vagina berbulu lebatku.

Aku sudah tak sempat lagi mencari gaya-gaya yang atraktif karena kini aku sedang dikejar gejolak birahiku. Aku melakukan apa saja yang dapat demikian kuat mendorongku. Aku rebah ke lantai kamar mandi yang basah dan melipat kakiku ke arah tubuhku hingga pantat dan vagina berbulu lebatku terpampang dengan jelas. Kumasukkan dildo menembus vagina berbulu lebatku. Aku menjerit kecil saat dildo itu telah melewati bibir vagina berbulu lebatku. Kemudian aku mulai memompanya sambil mencium dan melumat celana dalam Weny.
Terjangan dildoku semakin cepat memompa vagina berbulu lebat. Aku mendesah dan meracau dengan memanggil-manggil nama Weny. Ketika panas birahiku sudah demikian memuncak dan rasa ingin pipis yang sangat mendesak sebagai tanda orgasme akan datang, pantatku menyongsong gerakan dildo dengan cepat. Nafasku yang memburu dengan desahan-desahan yang menyebut nama Weny semakin intens dan berkepanjangan. Aku nampak sangat memelas dalam kehausan birahiku. Dan akhirnya saat orgasme itu datang, aku menggelepar. Kudempetkan kepalaku ke dinding untuk menahan jejakan kepalaku ke lantai karena menahan nikmat yang muncrat bertubi-tubi. Aku mengerang tertahan cukup lama sebelum akhirnya aku kelelahan dan lunglai di lantai porselain yang basah ini. Setelah itu aku baru benar-benar mandi.

Saat aku keluar, kulihat Weny sudah ada di depan TV kembali. Aku langsung masuk ke kamarku. Aku tahu bahwa maksudnya sekarang adalah gilirannya untuk mandi dan bukannya memintaku mengintipnya, tetapi secara tersirat ia menempatkan pengertian agar aku tidak mencurigainya karena setiap aku selesai mandi kemudian dia segera menyusulnya. Kurasa ini adalah saat yang penting karena ada sesuatu yang "luar biasa" sedang menunggunya di kloset. Begitu kudengar Weny telah menutup pintu kamar mandinya, aku bergegas dan berjingkat menuju ke depan pintunya dan mengintip.

Kulihat, dengan penuh nafsu dia mendekati kloset, berjongkok di depannya dan membuka tutupnya. Wajahnya mendekat dan terlihat matanya mengamati isi dalam kloset tersebut. Kemudian pelan-pelan matanya menutup dan dengan hidungnya dia mengendus isi kloset dengan penuh perasaan. Dia tampak sangat menikmatinya dengan menghirup bau pipisku dalam-dalam. Dia melakukan tarikan nafas panjangnya yang mendalam itu berulang-ulang. Dia seperti sedang melayang dalam kenikmatan yang sangat tinggi. Kemudian kulihat tangan kanannya bergerak ke dalam kloset itu untuk meraih air seniku. Dia amati cairan bening kekuningan di cekungan tangannya. Kembali dihirupnya dengan sangat dalam sambil menutup matanya. Itu juga dilakukannya berulang kali sebelum akhirnya membawa cairan itu untuk membekap mulut dan hidungnya dan kemudian mencuci mukanya dengan cairan pipisku. Aku gemetar menyaksikan Weny yang merasa sedemikian nikmatnya merasakan pipisku.

Kemudian dia sendokkan lagi cairan kloset itu dengan tangannya. Kini bahkan dengan kedua tangannya. Dan diraupkannya ke mukanya kembali. Dia melakukannya berulang-ulang hingga mukanya benar-benar kuyup dengan air seniku dan tubuhnya basah oleh cipratan cairan kuning bening dari wajahnya itu. Bermenit-menit dia berjongkok di depan kloset itu dengan tangannya yang sibuk menyendoki dan sesekali mengaduk genangan pipisku di kloset itu. Dan terakhir kulihat klimaksnya saat dia kembali menyendok dengan tangannya untuk kemudian dibawa ke mulutnya. Diawali dengan lidahnya yang menjilat-jilat, Weny meminum air kencingku dari tangannya. Entah sudah berapa banyak yang diminumnya sebelum akhirnya dia beranjak dari depan kloset untuk mandi. Itulah kejadian paling eksklusif yang kulihat dari perilaku Weny dalam menyalurkan obsesinya padaku. Setelah itu dia benar-benar mandi dan aku kembali ke kamarku. Aku menjadi sangat 'horny'. Vagina berbulu lebatku basah oleh cairan birahi, tetapi sengaja kutahan untuk menghemat energi hingga aku tidak melakukan masturbasi.
Didorongnya aku hingga tergeletak di sofa. Dia berlutut ke lantai. Dibukanya kancing blusku. Dia benamkan wajahnya ke payudaraku. Dia keluarkan payudaraku dari balik BH. Dia sedot puting-putingku. Aku mendesah. Dia lepaskan rok bawahku hingga tinggal tersisa celana dalamku. Dia elus lembut pahaku dengan tangannya. Dia benamkan wajahnya ke perut dan pusarku. Bibir dan lidahnya terus menyedot dan menjilati bagian-bagian sensitifku. Aku merintih. Sambil memeluk pahaku, dia terus bergerak ke arah selangkanganku. Dia benamkan wajahnya ke selangkanganku. Hidungnya mengendus celana dalamku kemudian mendesak ke tepiannya. Lidahnya menjilat-jilat mencari bibir vagina berbulu lebatku. Aku menjerit kecil sambil meraih kepalanya dan menjambak rambutnya. Nafasku menyesak. Aliran darahku memacu dengan cepat.

Weny beringsut kembali ke arah dadaku. Dilepasnya BH-ku. Kemudian tanganku diraih dan dibawanya ke atas kepalaku. Kini ketiakku terbuka. Dibenamkannya wajahnya ke lembah ketiakku. Bibir dan lidahnya mengecup dan menjilati seluruh sudut-sudut sensual ketiakku. Dengan tangan-tangannya yang seolah berlaku sebagai kemudi, bibir dan lidah Weny merambah seluruh tubuh bagian atasku, baik sebelah kiri maupun kanan. Kemudian dia kembali memagut bibirku. Lumatannya menjadi sangat memabukkanku. Aku tak mampu lagi menahan desahan maupun rintihanku sendiri. Kenikmatan birahi telah menenggelamkanku dalam gelombang nafsu yang dahsyat. Aku menikmati kepasrahanku padanya. Kubiarkan Weny menumpahkan obsesinya dan memuaskan birahinya atas tubuhku. Aku menjadi sandera dan tawanannya karena perilaku teman-teman kantor. Aku hanya dapat melenguh dan sesekali merintih menanggung siksa yang sangat nikmat.
Weny berbisik di telingaku, " ke ranjang saja, yuk".
" Eva Arnaz, aku sudah lama sekali mengimpikan saat-saat seperti ini".

Kembali dia membenamkan diri di ketiak, dada, payudara, puting payudara, perut bahkan pusarku. Dia buka celana dalamku. Dia cium dengan lembut bulu-bulu lebatku. Dia jilat memekku. Digigitnya dengan lembut bibir vagina berbulu lebat dan kelentitku. Aku menjerit karena nikmat.

Kemudian dia merangkaki kembali tubuhku dan kembali bibirnya menjemput bibirku. Kali ini dia melumat-lumatku sambil tangan kanannya mengelus vagina berbulu lebatku. Dia mainkan jari-jarinya pada bibir vagina berbulu lebat dan kelentitku. Kemudian jari-jarinya mulai berusaha menembus lubang kemaluan berbulu lebatku. Aku tahu, ini akan menghasilkan kenikmatan bersama.

Saat jari-jarinya telah masuk menusuk, vagina berbulu lebatku di putar-putarnya. G-spotku yang merupakan titik pusat saraf-saraf peka birahi dalam lubang vagina berbulu lebatku menerima sentuhan jari-jari indah Weny. Aku tak kuasa untuk tidak menggelinjang. Pantatku menjadi gelisah dan meliar. Kunaik-naikkan pinggul dan pantatku untuk menyongsong jari-jari Weny.

Aku mulai dapat merasa akan timbulnya "pipis enak". Dari dalam vagina berbulu lebatku, keinginan kencing ini mendesak-desak keluar. Kutarik kepala Weny yang masih terus menggeluti bibirku. Kudorongnya ke bawah, ke memekku. Aku ingin agar Weny memainkan jari-jarinya dalam kemaluan berbulu lebatku di barengi dengan ciuman dan jilatannya pada bibir vagina berbulu lebatku. Weny cepat memahami. Tanpa melepaskan jari-jarinya dari lubang vagina berbulu lebatku, Weny melepas bibirnya dari bibirku untuk kemudian meluncur ke dada, perut, ke pusar ke jembut dan akhirnya menuju vagina berbulu lebatku.

Dengan meluruskan badannya agar berada di antara pahaku, dan dengan jari-jarinya yang terus menari-nari merangsang G spot-ku, Weny mendaratkan bibirnya ke vagina berbulu lebatku. Dia menciumi, menyedot dan menjilat-jilat bagian atas vagina berbulu lebatku.


Rasa ingin kencingku akhirnya meledak. Aku mendapatkan orgasme dari perilaku Weny yang sangat obsessive dan liar itu. Banyak sekali cairan birahi yang tumpah dari dalam vagina berbulu lebatku dan mengalir keluar. Untuk melampiaskan emosi birahiku, kutangkap kepala Weny, kuremas-remas rambutnya hingga dandanan rambutnya berantakan. Weny menjadi semakin liar saat menyedot cairan birahiku. Kepalanya digeleng-gelengkan dan ditekan-tekannya ke selangkanganku. Sedemikian bernafsunya bibirnya menyambut cairan kemaluan berbulu lebatku. Seperti orang makan buah semangka yang merah ranum hingga kudengar mulut Weny mengeluarkan bunyi. Mulutnya yang indah menjilati dan meminum semua cairan birahiku yang meleleh keluar. Agar dapat lebih banyak menyedot cairan lendir itu, lidahnya menyeruak mengorek seluruh isi liang vagina berbulu lebatku.

Setelah orgasme, aku merasa lemas sekali. Seakan otot-ototku dilolosi dari tubuhku. Aku lunglai. Sebaliknya dengan Weny, yang dengan meminum semua cairan birahi dari lubang vagina berbulu lebatku, nafsunya bahkan semakin memuncak. Dia membiarkanku lunglai di ranjang, tetapi dia sendiri tidak menghentikan serangan nafsunya pada tubuhku. Ciuman dan lidahnya merambati seluruh permukaan pahaku. Dia tinggalkan cupang-cupang sedotannya pada pahaku. Sedotan-sedotannya terasa pedih pada kulitku, hingga terkadang kuangkat kepalanya dan menariknya untuk melepaskan bibirnya yang terasa seperti vacuum cleaner yang menancap di pahaku. Kemudian tanpa ayal dibalikkannya tubuhku agar tengkurap.

Dia benamkan mukanya ke celah bokongku. Dia cium habis-habisan bokongku. Dia masukkan lidahnya ke celah belahan pantatku. Dia berusaha menjilati duburku hingga aku sangat kegelian. Rasa lunglaiku jadi hilang. Birahiku pelan-pelan kembali timbul. Dia angkat pantatku hingga aku tertungging. Dengan posisi itu, di hadapan Weny kini telah terpampang pantatku dengan analnya yang menguak terbuka. Kubayangkan lubang pantatku yang kuncup dilingkari garis-garis lembut kemerahan menuju titik pusat lubang duburku. Tak ayal lagi hidung, bibir dan lidah Weny langsung merangsek pantatku untuk meraih kenikmatan. Aku bergetar dan merinding. Nafsu Weny menjadi sangat binal. Dia mendesah dan mendengus-dengus seperti anjing yang rakus saat menghadapi makanannya hingga tidak mau ada anjing lain yang mendekat karena khawatir akan merebut makanannya itu.

Sementara itu aku mulai kembali terbakar birahi. Lidah Weny yang terus menjilat duburku dan menusuk lubangnya membuatku diserang kegatalan erotis yang amat sangat di seluruh tubuhku. Weny sangat pintar mendongkrak libidoku.

Dengan menggerakkan tanganku ke belakang, aku berusaha meraih kepalanya. Saat akhirnya kudapat, kuremas kembali rambutnya yang memang sudah teracak-acak olehku sejak tadi. Kutekankan wajahnya ke analku. Aku ingin agar Weny lebih dalam lagi melahap duburku. Rupanya saat ini dia sedang menapaki puncak birahinya, racauan mulutnya tak henti-henti.

"Oohh.., oh, ohh, enakk.., enhakk.., Eva Arnaz...".


Kulihat, entah dari mana, tangan kirinya telah menggenggam plastik bening panjang, semacam pipa padat. Itu adalah dildo. Dia tusukkan dildo itu pada lubang vagina berbulu lebatnya. Dia mencium dan menjilat analku sambil membayangkan kontol lelaki yang menusuk memeknya. Nampak tangannya mengocok-ngocokkan dildo yang besar dan panjang itu ke vagina berbulu lebatnya sendiri. Rintihan dan desahan erotis yang menandakan derita dan siksa nikmat sedang melanda sanubari Weny. Aku tidak bisa berbuat banyak untuk membantunya, kecuali dengan ikut mengerang dengan suaraku yang histeris.


"Teruss Weny.., teruuss.., ".

Saat puncak itu datang, Weny menjepitkan dildonya di antara kedua kakinya yang dirapatkan. Kemudian seakan sedang menyetubuhi kontol lelaki yang telentang di ranjang, dia naik turunkan pantatnya untuk membenamkan dildo ke memeknya. Sementara itu tangannya merengkuh erat-erat pinggangku untuk memantapkan posisi wajahnya hingga bibir dan lidahnya terus menciumi dan menjilati duburku. Dia meremas dan menancapkan kuku-kukunya ke bukit pinggulku ketika orgasmenya datang. Dia menjerit dengan keras. Tanganku memperkeras jambakan pada rambutnya untuk membantu mendorong birahinya ke puncak yang paling tinggi. Kemudian Weny rubuh, demikian juga denganku. Aku telentang menghela nafas. Untuk beberapa menit kami saling diam. Sunyi.

"Terima kasih Eva Arnaz, kamu cantiik sekali".


Masih dalam keadaan telentang, Weny mengeluarkan suara sambil melepas senyumnya dan menengok ke arahku. Aku sambut dengan tanganku yang meraih tangannya. Kami saling bersentuhan dan saling meremas.


"Aku lapar,", kata Weny.


Aku berusaha bangun. Aku sendiri juga lapar dan haus. Kami bersama-sama bangkit dari ranjangku. Dengan kain dan handuk seadanya yang kusambar dari kamarku untuk menutupi tubuh kami, kami menuju dapur dan membuka lemari es.


Kuambil juice orange dingin. Kutuangkan segelas untuk Weny dan segelas untukku sendiri. Kami beristirahat dan minum. Weny lalu mengeluarkan bungkusan dari kantong plastik Carrefour yang dibawanya. Ada kue kering yang siap saji. Dia buka dan kami melahapnya.

Pada kesempatan itu kamu kembali saling pandang dan saling melempar senyum. Kulihat Weny mengamati bagian-bagian tubuhku. Dan aku juga mengamati bagian-bagian tubuhnya. Kami saling mengagumi. Kami saling meraba bagian-bagian tubuh pasangan kami dengan penuh semangat birahi. Aku sangat mengagumi pahanya yang sangat sintal itu. Sebelum bergerak terlalu jauh dan menyadari bahwa badan kami harus tetap tampil segar, kami sepakat untuk makan dulu. Kami beranjak melihat bahan makanan yang tersedia. Melihat oleh-oleh Weny, kami sepakat untuk membuat sirloin steak kesukaanku. Kunyalakan kompor untuk menumis bumbu dan sayuran pelengkapnya. Weny merendamnya dalam saus daging steak kemudian membakarnya. Dengan 2 gelas red wine, 2 gelas juice apple yang kutemukan masih tersedia di lemari es, kami melahap sirloin steak 200 gram kami hingga kenyang. Sebagai penutup kusediakan irisan buah mangga dingin seporsi besar. Kami tertawa, mengingat betapa rakusnya kami di ranjang maupun di meja makan. Weny mengatakan kalau dirinya makan banyak masih masuk akal. Tetapi kalau dia melihatku juga makan sebanyak yang dia makan, dia merasa heran, kemana saja makanan yang telah kutelan hingga perutku tetap langsing?


"Atau di sini, ya?", kelakarnya sampil tangannya meraup vagina berbulu lebatku yang memang montok menggembung.


Aku tertawa. Kami saling berseloroh. Usai makan dan puas berseloroh, Weny berdiri dari kursinya menuju ke belakang kursiku dan kurasakan saat hidungnya mencium kepalaku.

"Sayang, aku ingin lagi, sayang..", sambil tangannya turun ke dadaku meremas payudaraku dan terus memilin-milin puting-putingku.


Aku melenguh pelan. Aku mendongakkan wajahku ke belakang hingga menghadap wajahnya. Wajahnya langsung menjemput wajahku hingga bibirku bertemu bibirnya. Kami saling mencium. Tangan kanannya turun ke selangkanganku untuk meremas vagina berbulu lebatku yang menggunung itu, sementara tangan kirinya tetap meremas payudaraku. Aku menggelinjang kembali. Birahiku terbit kembali. Ciuman Weny yang semakin penuh perasaan dan mendalam semakin mendongkrak libidoku. Suara desahan kami saling bersahutan.

Kini aku ingin mengekspresikan diriku. Aku ingin mengekspresikan obsesiku. Aku ingin meraih sendiri kenikmatan madunya Weny. Aku ingin menciumi buah dadanya yang nampak sangat ranum di balik blusnya itu. Aku juga ingin menciumi ketiak, perut, pahanya yang sangat sintal, selangkangan, celana, kelentit maupun vagina berbulu lebatnya. Aku jadi terbakar. Aku berdiri dari kursiku. Kembali kubimbing Weny ke peraduanku. Aku tak tahan lagi menahan gejolak libidoku sendiri. Aku ingin menumpahkan seluruh obsesiku.

Kodorong dia agar telentang di tempat tidur. Dia langsung memahami keinginanku. Dia menunggu. Tanganku menarik lembaran handuk yang membungkus tubuhnya. Tubuh jangkung indah itu kini telanjang bulat di hadapanku. Aku meneguk air liurku. Aku merangkaki tubuhnya. Kulumat bibirnya sepenuh perasaan. Kunyanyikan "gita cinta" dari gebu birahiku. Kutenggelamkan wajahku ke buah dadanya yang besar. Lidah dan bibirku dengan liar mengecup dan menjilat bukit-bukit sensual milik Weny itu. Kuhisap-hisap puting payudaranya. Dia kini mendesah dan menjerit kecil. Dia angkat kedua tangannya ke atas hingga nampak ketiaknya yang terbuka. Dia menginginkanku agar menjilati ketiaknya. Aku menyambutnya dengan sepenuh geloraku. Kubenamkan wajahku ke lembah ketiaknya. Bau kecut alami ketiaknya seketika menyergap hidungku.
Weny mengeluarkan desah dan rintih yang sangat mengundang birahi. Kemudian aku mulai merayap ke bawah. Kujilat perutnya yang langsing. Pusarnya kuhisap-hisap. Ludahku kuyup menutupi dataran perutnya yang lembut itu. Aku turun lagi hingga kurasakan jembut halusnya pada lidahku. Aku turun lagi kemudian bangkit. Aku ingin memulainya dari yang paling bawah. Aku turun ke lantai. Kuraih kakinya. Inilah kesukaanku. Kujilati kaki-kakinya, jari kakinya, telapak kakinya. Kemudian aku merayap naik menjilati betisnya. Kusedot pori-porinya. Kubuat agar kuyup dengan ludahku.


Aku terus naik ke pahanya. Aku serasa menghadapi lapangan luas untuk bibir dan lidahku bermain. Paha si jangkung yang sangat sintal kini terpampang bebas di hadapanku. Aku merebahkan diri di situ. Aku mulai mencium dan menjilatinya. Aku tak ingin satu titikpun terlewat dari kecupan dan jilatanku. Aku bergetar dan menggigil. Aku menikmati lembah birahi yang sangat kudambakan. Saat wajahku sampai di selangkangannya, aroma dan semerbak wangi vagina berbulu lebatnya demikian menusuk hidungku. Aku terus menjilat dan mengendusnya.

Kini kutemukan kemaluan berbulu lebatnya yang menggelembung indah di antara selangkangannya. Bibirku langsung merasakan demikian getas kemaluan berbulu lebatnya. Bibir-bibirnya merekah keras menahan darah yang mengalir di sana. Kelentit atau itilnya juga mengeras. Itilnya yang besar dan kencang itu kukulum. Lidahku menembus lubang vagina berbulu lebatnya. Kembali Weny mendesah dan merintih dengan sangat menggairahkan. Dia menggelinjang. Tubuhnya menggeliat kuat-kuat hingga aku sering terlempar. Pantatnya terangkat menjemput lidahku agar menjilat lebih dalam lagi ke vagina berbulu lebatnya. Tangannya meremasi bantal.

Dan kini kubalikkan tubuhnya. Dia telah tengkurap. Aku merangkaki punggungnya. Kujilati kuduknya hingga dia menjerit kecil. Kujilati punggung dan kedua belikatnya. Dia mengaduh. Kemudian kujilati pinggulnya hingga dengan liarnya dia menggelinjang. Dan saat kujilati bukit bokongnya serta kumasukkan lidahku ke belahan bokongnya, dia tak mampu lagi menahan diri. Dia ingin agar aku menjilatinya lebih dalam lagi. Dengan kepalanya yang masih bertumpu pada bantal, dia mengangkat pantatnya tinggi-tinggi hingga seluruh pantatnya terbenam ke wajahku.


"Mbak Eva Arnaz.., jilati iniku.., jilati pantatku. Jilati lubangnya.., ayoo.., jilati...

Ah, Weny nampak sangat menderita. Sangat tersiksa. Dia merintih. Dia memohon padaku untuk menjilati pantatnya. Menjilati lubang duburnya, seperti saat dia menjilati lubang duburku tadi. Rupanya dia juga memintaku untuk melakukan hal yang sama sebagaimana dia telah melakukannya padaku. Aku segera memahaminya. Dan bagiku, hal itu adalah bentuk kepasrahan Weny yang dipercayakannya padaku. Weny ingin membagi kenikmatan birahi bersamaku. Aku tenggelam dalam deritanya, dalam siksanya, dalam rintihnya. Aku larut dalam permohonannya. Aku terseret dalam alun birahinya.

Kujilati dubur Weny hingga birahiku langsung melonjak. Sambil kujilati pantatnya, tanganku meraih vagina berbulu lebatnya dan kuelus, sambil jari-jariku menusuk lubang vagina berbulu lebatnya. Rupanya kombinasi kenikmatan yang kulimpahkan padanya membuat Weny benar-benar tak mampu bertahan. Dengan serta merta dia berbalik bangkit, kemudian tangannya meraih dildo yang berkepala dua.


"Ayoo Mbak. Mbak masukin ke vagina berbulu lebat Mbak. Aku yang di sebelah sini".


Maksudnya adalah agar aku bersama dengannya menggunakan dildo untuk saling bermasturbasi. Aku belum berfikir panjang saat dia langsung memeluk, melumatku dan dengan tangannya langsung memasukkan dildo itu ke memeknya. Dan berikutnya dia mendekatkan batang dildo yang sama ke memekku dari ujung yang lain. Ah, biarlah aku mencobanya.

Kemudian seperti layaknya pasangan jantan dan betina, dia mulai memompa. Dia melakukan gerakan memompa dengan dildo berkepala dua itu. Dan efeknya padaku sungguh mempesona. Aku serasa mendapatkan pelukan yang demikian cantik dan lembut, sekaligus mendapatkan rasa kontol yang besar dan panjang. Aku ikut mengayun. Kegatalan vagina berbulu lebatku tak lagi mampu kubendung. Aku ingin pipis yang teramat sangat. Nafasku memburu. Nafas Weny juga memburu. Pompa dan ayunan kami semakin cepat. Akhirnya, aku dan Weny meraih orgasme bersamaan. Kami mengeluarkan air mata karena nikmat tak terkira ini. Kami masih saling berpelukan dan melumat hingga cairan-cairan kami betul-betul tuntas mengalir keluar. Selera dan nafsu biseksku semakin subur sejak bertemu Indri, tetanggaku yang istri pelaut itu. Dan aku sungguh merasakan kebahagiaan pada saat bertemu Weny ini. Aku tidak sendiri. Aku ingin memenuhi harapan Indri. Suatu saat nanti, aku akan berkumpul bertiga untuk bersama-sama mengarungi kenikmatan ini.

Akhirnya, seperti kebiasaan rutin di kantornya, Weny pulang tepat pada pukul 5 sore dari rumahku. Kami memiliki banyak rencana untuk mengarungi kenikmatan bersama di hari-hari nanti. Seharian bersama Weny ini sangat menggairahkan dan merupakan kenangan indah yang tak akan pernah kulupakan.

"Baik. Saya akan berusaha datang jam 9 pagi ke rumah kamu", aku menjawab permintaanya tanpa reserve.

Setiap kali aku berhadapan dengan wajah Vive Vi ini, aku selalu teringat dengan Michele Yeoh, bintang laga yang cantik dan sangat cerdas dari Malaysia itu. Hari ini Vive Vi tampil dengan pakaian santainya yang sangat menunjukkan kecantikan alaminya. Dengan celana pendek "hot pan" cossy-nya, paha dan betisnya nampak sangat sensual dan indah. Dengan blus "u can see"-nya sesekali Vive Vi menunjukkan pesona ketiaknya yang berbulu tipis itu saat beliau menunjukkan sesuatu hal atau berbicara sambil memberikan contoh-contoh yang mengharuskan tangannya bergerak lebih tinggi dari kepalanya.

Bahunya yang bidang, yang mulai nampak sejak pada batas blusnya, begitu mempesona pula. Bagian ini sering menjadi obyek sentuhan awal saat seseorang yang dekat padanya ingin mengungkapkan hal-hal yang hanya perlu dibisikkan dalam suara yang lembut yang sangat pribadi sifatnya. Dan tidak jarang pula, bahu seseorang juga seakan mencerminkan tingkat inteligensinya. Dari akhir bahu itu, nampak awal lengan tangannya yang bersih mulus, padat sintal dan sangat terawat pula. Jari-jari tangannya yang lentik dengan kuku-kukunya yang tak pernah absen dari salon perawatan manicure langganannya mengingatkanku pada keindahan dewi Aphrodite dari Yunani. Rambutnya yang panjang dan lurus lebih sering di lepas ke bawah, dalam ikatan bando di kepalanya, layaknya seorang model yang sedang memperagakan shampoo. Sepintas, mungkin orang akan menebak bahwa usia Vive Vi masih berusia 25 tahunan, beberapa belas tahun di bawah usia sebenarnya.

"Jeng Eva Arnaz", begitu duduk Vive Vi langsung mulai bicara.


Tentunya untuk rencana acara nanti sore, begitu pikirku.


Dia melihatku dengan tenang berikut semburat senyum manis di bibirnya. Aku langsung serasa seakan disambar geledek.


Pandanganku nanar. Aku tak kuasa menahan diri. Seketika aku limbung. Aku jatuh ke pangkuannya. Aku menangis dalam perasaan malu, ketakutan, kekhawatiran dan penyesalan. Aku merasa berdosa pada Vive Vi yang selama ini selalu baik padaku. Kurasakan tangannya yang mengelus rambutku.

"Sudah, Jeng, sudah. Saya nggak apa-apa, kok. Bahkan saya senang kalau Bapak bisa mendapatkan kesenangan dari Eva Arnaz. Dia telah banyak berbuat untuk keluarga. Dia berhak untuk mencari kesenangan di luar rumah. Saya sangat rela. Sudah,  jangan khawatir".

Akhirnya dia mengambil minuman untukku. Kuminum sedikit untuk menenangkan diri. Mataku masih terasa merah berkaca-kaca oleh air mataku. Vive Vi meraihku agar bersandar di dadanya. Duh, baiknya ibu ini. Aku yang telah berselingkuh dengan suaminya tidak membuatnya marah atau benci. Dia menghapus air mataku dan kembali mengelus rambutku.
Yang kurasakan hanya tangan Vive Vi yang kembali mengusap air mataku. Dan tiba-tiba terasa ada seperti tiupan nafas yang halus dan ada sesuatu yang lembut sekali menyentuh bibirku. Bukan, bahkan bukan sekedar sentuhan. Sentuhan lembut itu berlanjut dengan lumatan pada bibirku dengan cara yang lebih lembut lagi. Dan lumatan itu tak kunjung berhenti. Kurasakan lumatan itu disertai dengan sedotan yang halus pula. Aku jadi terhanyut. Refleksku merespons lumatan itu. Aku merasakan betapa menyejukkannya. Aku merasakan betapa teduh dan nikmatnya. Nikmat yang sungguh tak terperi manakala paduan aroma alami dari bibir seseorang yang menerpa hidung dan lidahku merasakan sesuatu yang manis dari bibir lembut yang melumat bibirku itu.

Aku baru tersadar saat kudengar pula suara desahan halus. Aku membuka mataku. Aku melihat dari dekat. Aku melihat wajah Vive Vi dengan sangat jelas. Ternyata Vive Vi telah sepenuhnya memelukku dan mencium serta melumat bibirku.

Aku sangat menikmati lumatan bibir Vive Vi yang sangat lembut ini. Vive Vi, dekaplah aku lebih erat lagi. Aku juga selalu mengagumimu selama ini. Aku selalu terpesona akan kecantikan dan kelembutanmu. Dengan penuh kesadaran, kini tanganku meraih kepala Vive Vi dan menekan lebih lekat bibirnya ke bibirku. Aku membalas lumatannya dengan penuh birahi. Dan bermenit-menit kemudian kami saling melumat dan mendesah-desah. Tak ada lagi air mata. Tak ada lagi rasa malu, kekhawatiran dan ketakutan. Kini yang ada adalah dua anak manusia berjenis kelamin perempuan yang sedang bersama-sama mengayuh kenikmatan birahi sesaat untuk mendapatkan kepuasan biologis seksualitasnya.

"Vive Vi, aku juga selalu mengimpikan saat-saat seperti ini bersama Ibu. Aku selalu memendam birahi pada Vive Vi yang selalu tampil cantik".


Vive Vi tidak menjawabnya dalam kata-kata. Tangannya langsung menyusup ke blusku, meremas payudaraku dan memainkan jari-jarinya pada putingku. Aku menggelinjang menerima kenikmatan darinya. Aku cenderung menyerahkan diriku sepenuhnya untuk memenuhi kehausan birahi Vive Vi.

Dan secepatnya pula dibenamkannya wajahnya ke dadaku. Bibir dan lidahnya menyedot dan menjilati payudaraku beserta putingnya yang kemudian juga merambah terus hingga ke lembah ketiakku.

" Eva Arnaz, kamu cantik sekali.., aku rasanya bersedia jadi budakmu Eva Arnaz.., biarkan aku memandikan Jeng Eva Arnaz dengan lidahku. Aku akan sangat menikmati keringat-keringatmu. Ooohh..".


"Aku bersedia menceboki vagina berbulu lebat dan pantat Jeng Eva Arnaz setiap hari selesai membuang beban pagimu, sayang..".


Begitulah Vive Vi meracau tak karuan sambil terus menjilati putingku. Tangan kanannya bergerilya ke pahaku. Dielusnya pahaku dengan penuh kegemasan. Kemudian berpindah ke selangkanganku. Dicari-carinya celana dalamku. Dielusnya celana dalamku yang lembab oleh keringat. Dia gosokan tangannya seakan hendak memindahkan lembab celana dalamku ke tangannya itu. Kemudian dia cari tepiannya. Dia susupkan jari-jarinya agar menjangkau kemaluan berbulu lebatku. Aku tergetar dengan hebat saat jari-jarinya menyentuh bibir vagina berbulu lebatku. Aku mendesah.

"Vive Vio, aku merinding..".


Vive Vi memandangku nanar penuh arti.


"Jeng, kita pindah ke ranjang, yuk".


Dia membimbingku untuk pindah ke ranjangnya yang indah itu. Aku didorongnya hingga tergolek diatas seprei sutra yang sangat lembut di ranjangnya yang besar. Vive Vi langsung menindihku. Kembali dia melumat bibir, leher, dada, puting dan bahkan ketiakku. Birahiku menyala terbakar berkobar-kobar. Aku menikmati kepasrahanku untuk melayani hausnya nafsu Vive Vi. Kenikmatan ini membawaku melayang terlempar dalam alun birahi samudra lepas. Aku menutup mataku sambil merasakan Vive Vi yang sedang melucuti rok, BH maupun celana dalamku hingga aku benar-benar telanjang bulat. Kemudian Vive Vi juga melucuti pakaiannya sendiri.

Kami saling memeluk dan bergulingan tanpa pakaian selembarpun yang menghambat. Saling sedot, saling gigit, saling cakar dan saling menjilat. Kurasakan betapa rakus dan binalnya perempuan ini. Umurnya yang hampir 2 kali umurku sama sekali tidak mempengaruhi semangat birahinya untuk meraih kepuasan seksualnya.

Dia sekarang merosot ke selangkanganku. Dia sangat obsessive dalam mencium dan menjilati vagina berbulu lebatku. Lidahnya berusaha agar sejauh-jauhnya menjilat ke dalam vagina berbulu lebatku. Diangkatnya pantatku hingga pahaku terlipat menempel di dadaku. Kemudian dibenamkannya kembali lidahnya ke liang vagina berbulu lebatku sambil sesekali menyapu bibir kemaluan berbulu lebatku dan mengisap kelentitku. Melihat anusku yang merah ranum, lidahnya pun berusaha menjangkaunya. Agar lebih memudahkannya, kuangkat lebih tinggi lipatan bokongku.

Vive Vi ingin agar aku mengubah posisi. Dia berbisik dengan penuh getar birahi. Ungkapannya dalam kata-kata yang sangat "erotis, seronok, jorok, tak senonoh", merupakan ungkapan betapa dorongan birahinya telah didominasi oleh bentuk kenikmatan nafsu birahi hewaniah yang telah sedemikian rupa merendahkan martabat, harga diri serta penampilan kesehariannya yang istri boss besar dan putri ningrat yang cantik dan ayu. Bisikan itu diucapkannya dengan sedemikian gamblangnya walaupun masih terdengar terbata dalam suara yang serak karena gelora birahinya.


"Nungging, yaahh.., A..ku p.., penasaran dengan lubang tt.., tai Jeng Eva Arnaz. Aku pengin menciumi sepuas-puasku. Aku ingin mengendus Eva Arnaz.., lidahku ingin merasakannya. Kk.. kalau Jeng mauu, aku juga mau ma..kan tt.., ta..".


Aku sudah tidak lagi mendengar lanjutannya. Betapa vulgar dan tak senonohnya. Di telingaku, kata-kata Vive Vi menjadi sensasi erotik yang langsung mendongkrak birahiku. Aku sedemikian terhanyut dan meliar mendengar kata-kata yang di keluarkan dari bibir putri ningrat yang cantik dan ayu itu. Aku mengikuti keinginannya. Aku menungging setinggi-tingginya. Dan kini aku benar-benar menjadi obyek Vive Vi untuk menyalurkan naluri dan sifat hewaniahnya. Lidahnya mencuci habis-habisan lubang pembuanganku yang sangat ranum ini. Aku sungguh tenggelam dalam gairah dari kata-kata pujaan seronok Vive Vi tadi. Pada kesempatan berikutnya, kulihat bagaimana dengan sangat histeris, jari-jari tangannya di masukkannya ke liang vagina berbulu lebatnya sendiri dan dikocoknya. Rupanya Vive Vi benar-benar sedang tersiksa oleh gejolak birahinya sendiri.

Kemudian dia berubah menjadi sangat liar. Di gulingkannya tubuhku. Dia kembali menyeruak ke tengah selangkanganku. Kembali disedotnya vagina berbulu lebatku. Kembali digigitnya bibir vagina berbulu lebat dan kelentitku. Kedua pahanya menjepit paha kananku. Jempol dan jari-jari kakiku yang berada tepat di bibir vagina berbulu lebatnya dia bayangkan seolah penis lelaki. Dia gosok-gosokkannya vagina berbulu lebatnya ke jempol jari kakiku. Dan kemudian dimasukkannya ke lubang vagina berbulu lebatnya sendiri. Vive Vi mengentot jempol kakiku, benar-benar seperti serigala betina yang kelaparan.
"Enak, Eva Arnaz Enaak sekali... ".
Kemudian kulihat tubuhnya mulai meregang seakan dialiri listrik ribuan watt. Tubuhnya mengejang. Pahaku dicakarnya dan kukunya seakan hendak ditanamkannya ke daging pahaku. Saat itu juga aku langsung meraih rambutnya. Kujambak dan kuelus secara berbarengan. Akhirnya Vive Vi memperoleh orgasmenya. Dia berteriak histeris tanpa mempedulikan kemungkinan bahwa suaranya akan terdengar oleh para pembantunya. Nafasnya terus memburu saat kurasakan kedutan-kedutan vagina berbulu lebatnya yang beruntun disertai cairan hangat dari lubang vagina berbulu lebatnya yang menyirami jari-jari kakiku.


Akhirnya tubuhnya rebah. Dia lepas semua pegangan tangannya dari tubuhku. Dia tergolek kelelahan. Tetapi dari wajahnya nampak senyum penuh kepuasan. Kini ganti aku yang blingsatan. Serbuan histeris Vive Vi telah membuatku terjerat tanpa mampu lagi menghindar dari seretan nafsu birahiku.

Aku melihat Vive Vi telentang, dan kuperhatikan juga bibirnya yang ranum dan seksi itu. Aku merunduk ke wajahnya. Kujilat sesaat bibir itu, kemudian kukulum dengan sepenuh nafsu birahiku. Vive Vi tidak merespons lumatan bibirku. Mungkin saking lelahnya. Tetapi aku justru sangat menikmati kepasifan dan kepasrahannya itu. Kusedot mulutnya yang terus mengalirkan ludah yang tak habis-habisnya dari kelenjar air liurnya. Kemudian dengan leluasa, kuciumi tubuhnya yang sangat wangi alami itu. Kucium dan kujilati ketiaknya yang berbulu lembut hingga kuyup oleh ludahku. Kusedot juga payudaranya yang besar membukit. Seperti layaknya bayi, kuisap puting-putingnya. Kuciumi perutnya yang lembut, kusedot pusarnya. Kuisap pula jembutnya yang samar-samar itu. Kemudian aku menyeruak ke selangkangannya. Kubuka lebar-lebar pahanya untuk kutenggelamkan wajahku ke selangkangannya.

Kutemukan kelentitnya di antara bibir vagina berbulu lebatnya. Kelentit yang tumbuh menjepit liang vagina berbulu lebatnya itu sedemikian besar dan mengeras oleh tekanan darah yang naik ke urat-uratnya. Bibir vagina berbulu lebat dan kelentit itu kukulum dan kuisap demi memuaskan kehausan bibir dan lidahku. Cairan vagina berbulu lebatnya yang membasah setelah orgasmenya tadi masih mengalir dari liang vagina berbulu lebatnya. Aku tak tahan untuk tak menciuminya. Kubenamkan bibirku hingga kuyup oleh cairannya. Kujilat dan kunikmati rasa sedap dan gurihnya cairan Vive Vi. Aku semakin menggila. Aku ingin menirukan apa yang telah dilakukan Vive Vi kepadaku. Kujepit paha kanannya dengan kedua pahaku. Kumasukkan jari-jari kakinya ke lubang kemaluan berbulu lebatku. Kupompakan ke dalamnya. Kubayangkan jari-jari kaki Vive Vi yang seakan penis lelaki. Kubayangkan kontol Basri yang sebesar pentungan itu sedang menembus memekku. Aku menjadi lupa diri.

Sambil terus menjilati vagina berbulu lebat, pantatku naik turun semakin cepat mengentot jari-jari Vive Vi. Makin cepat. Dan akhirnya datang juga. Rasa kencingku kemudian mendesak dan langsung meluap ke permukaan. Cairan birahiku menyembur-nyembur membasahi kaki Vive Vi. Aku ngos-ngosan hingga tetes terakhir cairanku tumpah. Aku langsung rebah ke samping tubuh Vive Vi.

Beberapa saat kami masih terlena, hingga terdengar ketukan halus di pintu. Serta merta aku menarik seprei sutra ranjang itu untuk menutupi tubuhku. Vive Vi sendiri bangun dengan tenangnya, masih dalam keadaan telanjang berjalan menghampiri pintu. Dia mengintai dari lubangnya. Kemudian pelan-pelan dibukanya pintu. Aku sungguh-sungguh terkejut. Weny.., dia adalah Wenyku. Dia sempat melihatku sekilas sebelum Vive Vi membuatku lagi-lagi terkejut.., dia langsung memeluk dan menciumi leher serta bibir Weny. Sekali lagi aku terkejut, ternyata Weny nampak telah terbiasa.

Aku akhirnya tahu. Daya analisisku dengan cepat menangkap makna apa yang kini sedang terjadi di depan mataku. Semua ini ternyata adalah sebuah konspirasi erotis antara Weny dengan IVive Vi. Ini bukanlah sebuah kebetulan.


Kehadiran Weny di rumahku adalah awal skenario konspirasi mereka. Weny bertugas melakukan kondisioning. Weny mengkondisikan dan memastikan bahwa aku bisa digauli oleh istri bossnya, tempat dimana dia mengabdi. Aku kemudian dapat dengan jelas melihat "asap dan api"-nya. Ah, dasar serigala-serigala betina.

Kini kulihat Vive Vi dengan sangat tergesa-gesa mulai melucuti pakaian Weny. Dilemparkannya begitu saja pakaian Weny ke lantai. Celana dalam dan BH Weny sengaja ditinggalkannya. Walaupun baru kemarin selama hampir seharian penuh aku menggumuli Weny, tetapi belum bosan-bosannya aku mengagumi indahnya tubuh Weny. Dadanya yang bidang dengan buah dadanya yang sangat besar dan ranum itu sungguh mengundang birahi bagi siapapun yang melihatnya, bahkan untuk sesama wanita sekalipun. Pantatnya yang sintal membukit terhubung dengan pahanya yang sangat kokoh sensual, hingga membuat khayalku terbang jauh ke langit kenikmatan birahi. Dan dengan melihat betisnya itu, aku tak bisa berhenti dari keinginanku untuk terus menjilatinya.
Vive Vi nampak sangat binal. Dia berjongkok dengan sedikit mendongak menghadap celana dalam yang membungkus kemaluan berbulu lebat Weny. Kemudian kulihat Vive Vi tampak seperti anak sapi yang menyusu puting induknya. Pasti hidungnya sedang berusaha menghirup sebanyak-banyaknya aroma celana dalam tersebut. Terdengar desahan dan rintihan dari mulut-mulut mereka. Tangan Weny mengelus rambut Vive Vi. Mereka sedemikian asyiknya, seakan aku tidak hadir di ruangan itu. Adegan yang sekarang kulihat ini merupakan peristiwa pertama bagiku, dimana ada 2 perempuan bercumbu langsung di depan mataku. Aku ingin tahu, bagaimana kelanjutannya nanti. Dan merupakan hal yang sangat erotis bagiku untuk melihat dan mendengar desahan dan rintihan mereka dalam mengarungi lautan nikmat yang sedang melanda mereka saat ini.

Setelah cukup puas, Vive Vi bangkit dan kembali menciumi leher dan melumat mulut Weny. Kemudian pelan-pelan mereka bergeser ke ranjang. Kemudian aku menepi. Saat tiba di tepi ranjang, Weny menjatuhkan diri telentang di ranjang. Dia nampak bersikap pasif untuk melayani Vive Vi selaku dominatornya. Kulihat bagaimana binalnya Vive Vi merangsek selangkangan Weny. Seperti halnya serigala yang lapar, mulut sang putri ayu yang ningrat itu menggeram-geram karena khawatir makanannya di rebut serigala lain. Dan Weny sendiri dengan cepat meraih bantal dan tepian ranjang untuk diremasnya dalam upaya menahan nikmat yang melandanya.

Aku semakin tidak tahan mendengar desahan dan rintihan pilu tapi sekaligus erotis mereka. Kedengarannya mereka sedang tersiksa dan penuh derita. Aku jadi tergoda untuk mendekati Weny. Kuperhatikan wajahnya membalik ke arah "back drop" tempat tidur sambil menyeringai mengeluarkan rintihannya. Lehernya yang jenjang itu, nampak bersih mulus mengundang bibirku. Aku menelan air liurku. Buah dadanya yang bulat, besar dan sangat ranum tergoncang-goncang karena geliat blingsatannya dalam menahan kegatalan vagina berbulu lebatnya dalam lumatan Vive Vi. Kulihat tangan Vive Vi menyingkap pinggiran celana dalam Weny dan lidahnya menjilati bibir vagina berbulu lebat dan klitorisnya. Begitu nikmat nampaknya. Dan aku sangat merinding melihat ulah Vive Vi ini.

Aku mulai terseret dalam arus gelora birahi mereka. Aku kembali melihat wajah Weny yang tengadah dengan bibirnya yang terus mengeluarkan desahan dan rintihan. Dengan melihat bibir yang menggairahkannya itu, aku terdorong untuk mendekatkan wajahku. Dan kuputuskan untuk ikut 'nimbrung' dengan mereka. Kujemput bibirnya dan segera kulumat.


Weny langsung menerimanya dan merespons lumatanku dengan penuh kehausan. Mungkin dia memang telah menunggunya dari tadi. Aku kini ikut mengerang. Tanganku bertemu dengan tangan Vive Vi yang sama-sama meremas buah dada Weny. Jari-jariku, juga jari-jari Vive Vi memainkan puting-puting payudara Weny.

Kini ada 3 perempuan yang sama-sama mengayuh nafsu birahi di ranjang Vive Vi.

"Ludahi aku Eva Arnaz.., ludahi aku.., tolong.., aku hauss.., tolong..", Weny meracau kehausan birahi.

Bibirku bergeser melumat lehernya yang jenjang itu. Kepalanya yang masih mendongak ke "back drop" ranjang membuatnya lehernya yang jenjang demikian terbuka. Bibir dan lidahku menyisir seluruh lekukan dan lipatan-lipatan leher indah itu. Harum leher Weny yang alami dengan semburat parfumnya terus terbawa hingga tidurku selama ini.


Aku kemudian bergesar ke dadanya. Berebut dengan tangan Vive Vi, aku mencium buah dada Weny dengan penuh perasaan birahiku. Buah dada Weny juga menebarkan aroma alami serta berbaur lembut dengan aroma parfumnya. Aku mengisap-isap setiap milimeter buah dada ranum itu seakan ingin memindahkan sisa keringatnya ke lidahku. Aku kulum puting-putingnya.

Weny terus meracau kehausan birahi. Aku beringsut menuju ketiaknya yang terbuka karena tangannya ke atas dan kepalanya meremasi bantal dan tepian ranjang. Aku sangat ketagihan bau ketiak seperti ini. Semburat bau bawang dari keringatnya bercampur dengan aroma pewangi di ketiaknya. Aku serasa tak ingin pergi dari lembah indah nan sensual milik Weny ini. Bermenit-menit aku asyik masyuk dalam ciuman dan jilatan pada ketiaknya. Kali ini tangan Weny dengan paksa meraih kepalaku untuk dipagutnya. Aku mengikutinya dengan kepasrahan nikmat. Weny dengan penuh kehausan melumat dan mengisap ludahku.

" Eva Arnaz, aku sangat haus Mbak.., tolong Mbak..", dia berbisik padaku kemudian mengangakan mulutnya.


Aku tidak tega akan permintaannya yang sedari tadi terus dia rintihkan. Aku mengumpulkan air liurku ke bibirku. Kuludahi mulut Weny yang segera mengenyam-enyamnya dan menelannya. Dia benar-benar kehausan. Beberapa gumpalan air liur dari bibirku kuludahkan ke mulutnya, hingga Weny tenang. Sementara itu rangsekan mulut Vive Vi di kemaluan berbulu lebat Weny belum kunjung berhenti juga. Weny menjambak rambut Vive Vi dan menariknya ke mulutnya, kembali dia membisikkan hal yang sama seperti pada permintaannya padaku sebelumnya.

Mungkin Vive Vi sudah terbiasa dengan permintaan Weny ini. Berkali-kali dia mengumpulkan ludah di bibirnya dan kemudian diludahkannya ke mulut Weny. Aku melihat pemandangan yang sungguh luar biasa itu. Tidak tahu dari mana asalnya, tiba-tiba tangan Vive Vi telah menggenggam dildo yang telah siap dimasukkannya ke lubang vagina berbulu lebat Weny. Aku dimintanya membantu mengarahkan tongkat kenikmatan itu ke lubangnya. Wow, aku kini melihat sebuah "close up" dari vagina berbulu lebat Weny yang telah memberikan kenikmatan baik padaku maupun Vive Vi.

Dengan sedikit jembut di vagina berbulu lebatnya, kemaluan berbulu lebat Weny sungguh sangat ranum. Bibir-bibirnya yang menggumpal padat saat dilanda birahi, nampak kencang dan getas hingga pasti akan membuat setiap lelaki ingin segera menyetubuhinya. Dan kelentitnya itu, sangat merangsang. Lidahku tak bosan-bosannya mengulum dan melumatnya. Kini tanganku telah siap menusukkan dildo berkepala 2 itu ke kemaluan berbulu lebat Weny. Kulekatkan salah ujung kepalanya ke bibir vagina berbulu lebat Weny, kemudian kutekan.


Weny menjerit nikmat, "Aacchh, Mbakk.., terusin, Eva Arnaz..".


Dengan berlumuran lendir lengket cairan birahi Weny, dildo di tanganku pelan-pelan amblas ditelan vagina berbulu lebat Weny. Kemudian aku mencoba memompakannya. Kulihat mata Weny terpejam-pejam menikmati tusukan dan pompaanku sambil tangannya lebih meremas dan menjambak rambut Vive Vi yang masih terus asyik melumat buah dada Weny. Nampaknya antara Vive Vi dan aku sejalan seperasaan. Vive Vi dan aku ingin agar Weny segera meraih kepuasan birahinya. Dan rasanya hal itu juga sangat diinginkan oleh Weny sendiri.

Saat pompaan dildo di tanganku menembus memeknya, Weny mulai histeris mengangkat-angkat pantatnya menjemput batang nikmat itu.


"Terus Eva Arnaz.., cepat lagi, Eva Arnaz.., teruusshh..", Weny meracau.


Aku mempercepat pompaanku. Seperti layaknya perempuan yang hendak melahirkan, tangan Weny memegang kisi-kisi ranjang di belakang kepalanya dengan wajahnya yang menyeringai menahan kenikmatan gatal birahi di seluruh tubuhnya.


Vive Vi terus secara intensif melumat-lumat buah dada, puting dan mencengkeram ketiak Weny. Sementara pompaanku tak juga mengendor, bahkan semakin cepat.

Dan tak ayal lagi, dengan teriakan tertahan karena takut akan kegaduhan yang ditimbulkannya, kulihat dalam jarak dekat, cairan vagina berbulu lebat Weny menyemprot berceceran mengalir keluar terbawa oleh batang tongkat dildo yang keluar masuk kupompakan ke dalam vagina berbulu lebatnya. Vive Vi dan aku langsung ikut terseret dalam arus birahi Weny. Kami ikut menyala terbakar. Vive Vi menunjukkan kekuasaanya dalam ruangan sempit kamarnya itu. Direnggutnya dildo dari tanganku. Dicabutnya dari lubang vagina berbulu lebat Weny kemudian dikulum-kulumnya. Mulutnya menyedot lendir Weny yang masih menempel di batang nikmat itu. Kemudian disodorkannya kembali mulutnya ke vagina berbulu lebat Weny yang sedang kebanjiran cairan birahinya. Dengan penuh kerakusan, Vive Vi menjilat dan menyedot serta meminum seluruh cairan itu.

Aku sebenarnya juga sangat ingin bertindak seperti Vive Vi. Sejak aku memompakan dildo ke kemaluan berbulu lebat Weny tadi, aku sudah membayangkan menyedot cairan Weny langsung dari lubangnya. Tetapi, Vive Vi lebih berkuasa. Aku hanya dapat menelan air liurku melihat kerakusannya. Tetapi sementara itu, justru aku merasa mendapat 'kompensasi' saat melihat pantat Vive Vi yang menungging dengan indahnya. Kulihat anusnya yang masih kuncup, dilingkari garis-garis tipis hingga ke titik pusatnya. Dan tak jauh dari itu, tepat di bawahnya, kulihat vagina berbulu lebatnya yang merekah tembem di hiasi jembut-jembut tipisnya.

Seperti tertarik medan magnit yang sangat kuat, aku langsung menubruk pantat Vive Vi. Kujilati anal, vagina berbulu lebat dan sekelilingnya. Kupuas-puaskan lidah dan bibirku menciumi anal Vive Vi yang wangi itu. Hidungku mengendusi aroma yang khas dari analnya. Rupanya aku tidak dapat berlama-lama menggeluti anal Vive Vi.


"Tolong Eva Arnaz.., tolong.., masukin dildo ke vagina berbulu lebatku.., ayoo.."


Sekali lagi aku tak bisa menolak permintaan nyonya boss besar ini. Rupanya dalam keasyikan menyedot cairan birahi dari vagina berbulu lebat Weny itu, nafsu Vive Vi kembali melonjak. Kemudian jilatanku pada anal dan vagina berbulu lebatnya bahkan mendongkraknya lebih jauh lagi.

Aku harus puas dengan apa yang sudah kuraih. Kusambut dildo dari tangan Vive Vi. Dengan tetap menungging sambil tetap menjilati cairan vagina berbulu lebat Weny, memek Vive Vi kutusuk dengan dildo besar panjang itu. Dia menjerit kecil saat kepala dildo itu berhasil menembus gerbang vagina berbulu lebatnya. Kemudian kupompa sedikit demi sedikit, hingga separuh dildo panjang itu terlahap habis ke mulut rahim dalam vagina berbulu lebat Vive Vi.


"Ampun nikmatnya .., nikmat sekali... terusshh.."


Kini Vive Vi menghentikan jilatan pada vagina berbulu lebat Weny. Dengan kedua tangannya yang bertumpu pada kasur, dia gerakkan maju mundur pantatnya dalam upaya menjemput dildo di tanganku yang memompa vagina berbulu lebatnya. Mendengar rintihan haus dan pilu serta erotis dari mulut Vive Vi, Weny yang baru saja meraih orgasmenya bangkit membantu Vive Vi dalam bisikan erotis di telinganya.

Mungkin karena desahan dan racauanku, Vive Vi semakin mempercepat gerakan pantatnya untuk menjemput dildo di tanganku. Dan melihatku yang juga telah ikut terseret dalam nafsu menggebu, Weny segera mengambil alih. Pompaan dildo di kemaluan berbulu lebat Vive Vi dipercepatnya hingga Vive Vi menggelepar-gelepar, memegang keras-keras tangan Weny agar lebih mempercepat dan memperdalam tusukan dildonya dan akhirnya Vive Vi kembali mendapatkan orgasmenya, demikian pula aku. Begitu Vive Vi menumpahkan cairannya yang mengalir keluar dari vagina berbulu lebatnya, dan begitu dipikirnya tugas dildo dalam vagina berbulu lebatnya telah usai, Weny melepasnya keluar.

Dildo yang basah kuyup oleh cairan vagina berbulu lebat Vive Vi itu disumpalkannya ke mulutku. Kudapatkan sensasi birahi yang bukan main hebatnya. Kujilati dildo bekas vagina berbulu lebat Vive Vi. Cairan birahi yang masih menempel pada batang itu kutelan habis membasahi tenggorokanku. Kemudian oleh Weny, dildo itu dimasukkannya lagi ke vagina berbulu lebatku. Dia pompakan ke dalamnya menggantikan kocokan jari-jariku. Kemudian nafsuku mendorongku untuk meraih vagina berbulu lebat Vive Vi. Aku menyedot seluruh cairan birahinya. Yang meleleh keluar dan jatuh ke seprei sutra ranjang, kusedot hingga bersih. Dan dengan sensasi birahi yang melandaku dengan hebat, keinginan kencingku kembali mendesak untuk tumpah keluar. Aku menggelinjang mengangkat pantatku menjemput dildo di tangan Weny. Dan di saat yang paling puncak, kutarik wajah Weny. Aku minta 'imbalan' yang sama atas apa yang telah kuberikan padanya.


"Weny, ludahi mulutku, ayyoo Weny..."

Ternyata bukan hanya Weny, melainkan Vive Vi juga langsung merunduk ke wajahku. Gumpalan-gumpalan liurnya yang terkumpul di bibirnya diludahkannya ke mulutku, bergantian dengan ludah Weny yang juga terus menghujaniku. Aku merasa sangat tersanjung. Sepertinya mereka berdua memanjakanku. Mereka berdua melayaniku untuk meraih kepuasan nafsu birahiku. Dan akibatnya rasa kencingku serasa meledak, tumpah ruah. Kulihat Vive Vi dan Weny berebut untuk mengisap vagina berbulu lebatku. Suara-suara geraman mereka seperti serigala-serigala yang berebut makanan. Serigala-sergala betina yang kelaparan. Dan kini, aku sendiri telah mengalami "metamorphose", telah berubah menjadi salah satu kawanan mereka.

Beberapa saat kemudian kami terlena di kamar tidur Vive Vi yang ber-AC dingin itu. Kami baru terbangun saat pelayan Vive Vi memberi tahu bahwa makan siang sudah terhidang di ruang makan. Kami sepakat untuk mandi sebentar, merapikan pakaian dan bersama-sama turun. Jam telah menunjukkan pukul 12.20 siang. Di meja makan, Vive Vi mengingatkan beberapa "point" materi yang perlu disampaikan dalam pertemuan bersama ibu-ibu pada pukul 4 sore nanti. Semua point itu menjadi catatan Weny selaku sekretaris boss, untuk menjadi perhatiannya. Dan aku ternyata tidak perlu melakukan apa-apa, karena semua masalah sudah dapat diselesaikan oleh pengurus yang lain.

Setelah selesai makan siang, Vive Vi mengisyaratkan pada pelayan yang juga merangkap sebagai kepala rumah tangganya agar tidak menerima telepon sampai dengan pukul 3 sore nanti. Pesannya, kami bertiga harus segera menyelesaikan tugas-tugas penting di kamar Vive Vi. Ah, ternyata belum juga kenyang makan siang para serigala betina ini. Sebelum beranjak kembali ke kamar beliau, Vive Vi memberikanku minuman sehat dalam kemasan botol seperti minuman sehat yang banyak beredar itu.


"Jeng, ini buatan Amerika, minumlah. Aku secara rutin minum ini untuk menjaga staminaku. Aku juga sudah memberikannya pada Weny. Kalau Jeng Eva Arnaz suka, nanti akan selalu kusediakan buat Jeng".


"Tapi jangan kaget Jeng, kalau nanti sehabis minum ini Jeng Eva Arnaz merasa ngantuk sekali. Tetapi itu hanya sebentar. Sesudah itu Jeng Eva Arnaz akan segar kembali, bahkan akan merasa sangat bergairah".


"Dan Jeng, nanti Jeng Eva Arnaz akan pipis banyak sekali. Itu berarti ginjal Jeng berfungsi dengan baik, mencuci segala kotoran untuk dibuang menjadi air seni yang banyak itu".


Aku percaya saja dengan perkataan Vive Vi. Kuterima pemberian Vive Vi. Kuamati sebentar kemasannya sebelum kuminum habis hingga tetes terakhir. Vive Vi secara konsisten dan konsekuen tetap sedemikian memperhatikanku sebagaimana yang telah terjadi selama ini. Hal-hal yang telah terjadi pada hari ini sama sekali tak mempengaruhinya.

Sementara itu Weny menyenggolku dan bertanya.


"Aku kok nggak dikasih tahu sih, kapan si Satpam itu kontrol rumah?".


Dia mulai dengan tersenyum dan mengakhirinya dengan terbahak. Vive Vi yang mendengarnya dari seberang meja melepas senyum manisnya. Selesai makan siang, Vive Vi mengajak kami untuk duduk di taman beranda kamarnya di lantai 2. Ternyata taman itu sangat luas dan indah. Dibangun di atas beton di lantai 2, taman itu diisi tanaman yang indah penuh bunga. Masuk ke taman itu serasa berada di pedesaan. Ada air gemericik yang jatuh dari bebatuan, ada kolam ikan mas. Dan di taman itu Vive Vi bisa berjemur matahari dengan telanjang tanpa harus khawatir dilihat orang. Di sekeliling taman dibangun tembok tinggi. Tetapi berkat penutup tanaman rambat yang subur, tembok itu tidak terasa membatasi pandangan.

Kami memilih duduk di bawah payung taman itu. Kepalaku terasa ringan melayang. Aku ingat minuman buatan Amerika tadi. Rupanya efeknya sedang berproses dalam tubuhku. Aku mengantuk sekali dan aku juga merasakan keinginan akan adanya seseorang yang memeluk dan membelaiku. Aku jadi teringat akan semua kenikmatan yang baru saja kualami bersama Vive Vi dan Weny. Aku ingat betapa nikmatnya saat tangan-tangan mereka menjamah buah dadaku. Aku ingat betapa nikmatnya lidah-lidah mereka menjilati ketiakku. Aku ingat betapa nikmatnya saat dildo itu menyodok saraf-saraf peka di vagina berbulu lebatku. Aku juga ingat betapa nikmatnya saat-saat menjelang orgasme. Aku ingat wajah Weny yang menyeringai dilanda kenikmatan birahi yang diperoleh dari jilatan Vive Vi di vagina berbulu lebatnya. Aku juga teringat saat aku menjilati anus Vive Vi dan mencium aromanya. Ahh.., aku sedikit limbung.

Sekarang, tiba-tiba aku telah dalam keadaan telanjang bulat. Tetapi aku tidak ingat, sejak kapan aku telanjang. Aku juga tidak ingat siapa yang telah melepas pakaianku. Aku juga tidak ingat, bagaimana bisa aku berada dan telentang di bangku taman yang tipis ini, dengan kedua kakiku yang mengangkang ke kanan dan ke kiri pada dudukan bangku yang tipis itu, terjuntai ke tanah. Yang kini dapat kurasakan hanyalah lumatan-lumatan lembut di bibirku. Aku juga merasakan ada lidah yang sedang menjilati vagina berbulu lebatku.

Kurasakan kenikmatan yang tak terkira. Aku merasa seakan terbang jauh. Aku sepertinya terbang tinggi. Kurasakan saraf-sarafku menggelinjang di sekujur tubuhku. Aku merasakan keinginan yang amat sangat akan adanya seseorang yang bersedia menciumi seluruh pori-pori tubuhku. Aku tahu mataku agak berat untuk dibuka. Tetapi aku memang tak ada keinginan untuk membuka mataku. Kenikmatan lumatan di bibir dan jilatan di kemaluan berbulu lebatku akan terasa lebih nikmat kurasakan dalam keadaan mataku yang setengah tertutup ini. Aku mendengar suara desahan, kucoba mengingat suara siapa itu. Kemudian aku juga mendengar suara rintihan, aku mencoba mengingat siapa yang merintih itu.

Kini, pelan-pelan kurasakan ada cahaya. Aku mulai ingat. Aku bersama Vive Vi dan Weny pergi ke taman ini. Dimanakah mereka saat ini? Apakah mereka yang kini sedang melumati bibir dan menjilati vagina berbulu lebatku? Apakah desahan itu desahan Weny. Dan rintihan itu rintihan Vive Vi? Rasa gatalku memusat ke selangkanganku di mana seseorang tengah asyik menjilat vagina berbulu lebatku. Kegatalan itu coba kutepis dengan mengangkat-angkat pantatku. Aku ingin agar jilatan lidah itu lebih merasuk ke dalam lagi. Aku ingin agar jilatan itu menyentuh hingga dinding vagina berbulu lebatku. Kemudian aku juga merasakan tenggorokanku yang sangat kering. Dan aku dilanda rasa haus yang sangat. Aku berusaha menguranginya. Aku coba membalas lumatan lembut di bibirku. Aku berusaha menyedot air liur dari bibir yang tengah melumatku itu.


Kemudian saat seluruh tubuhku akhirnya tak mampu lagi menahan kehausan yang amat sangat tersebut, kucoba meringankannya dengan merintih dan mendesah. Aku mencoba terus merintih dan mendesah.

Kini, aku semakin dapat mengingat. Desahan itu adalah desahan Weny yang sedang melumat bibirku. Dan di bawah sana adalah rintihan Vive Vi yang sedang menjilati kemaluan berbulu lebatku. Ah, rupanya mereka sedang berpesta menikmati tubuhku.


Rasa kantuk yang sangat berat itu rupanya hanya gejala awal dari minuman pemberian Vive Vi yang mempengaruhi tubuhku. Kini aku merasakan hal yang lain. Kantukku pelan-pelan menghilang. Kini aku juga ingin berpesta bersama mereka. Kini aku ingin berpesta menjilati vagina berbulu lebat Vive Vi dan melumati buah dada Weny. Aku mencoba untuk bangun. Tetapi aku belum bisa. Weny mulai melumat buah dada dan puting payudaraku. Tangannya memeluk dan mengelus-elus pinggulku. Desahannya makin terdengar jelas di telingaku.


"Duh, Eva Arnaz, payudaramu sangat nikmat..".


Vive Vi meninggalkan cupang-cupang di sekujur pahaku. Tangannya mengelus bokongku. Rintihannya makin jelas di telingaku,


"Eva Arnaz...  aku sudah lama mengimpikan seperti ini.., sudah lama ingin menjilati vagina berbulu lebatmu.., sudah lama aku ingin agar kamu pasrah padaku, untuk kujilati.., untuk kulumat.., untuk kukecup seluruh tubuhmu".

Seharusnya aku yang berkata begitu, karena aku juga sudah lama menginginkan saat-saat seperti ini. Kucoba untuk menggerakkan tanganku. Kuraih kepala Vive Vi di selangkanganku. Kutarik rambutnya dan kuremas. Pantatku terus menggelinjang naik turun. Rupanya dengan mengangkang di bangku taman yang tipis dan dengan kakiku yang berjuntai ke tanah membuat lubang vagina berbulu lebatku terkuak merekah. Lidah Vive Vi tak perlu bersusah payah lagi untuk menembus ke dalamnya. Sedari tadi Vive Vi belum bergeser dari lubang yang terkuak itu. Dia ingin mengeringkan dengan lidahnya semua cairan dan lendir birahiku yang kurasakan mulai hadir di vagina berbulu lebatku.

Tanganku yang lain kucoba untuk mengelus kepala Weny yang kini tengah berada di atas bukit buah dadaku. Ciuman dan jilatannya pada payudaraku dan puting-putingnya membuat saraf-saraf peka di sekujur tubuhku seakan mendapat giliran terkena aliran stroom ribuan watt. Aku menggelinjang dengan hebat. Aku berontak dari ketidakberdayaanku. Aku kembali memiliki kekuatanku. Aku kembali memiliki keinginan-keinginanku. Aku kembali merasakan sepenuhnya gelegak birahiku. Aku kembali ingin meraih kepuasan orgasmeku. Aku kembali ingin menyetubuhi perempuan-perempuan ini.


Kutolak tubuh Weny dari buah dadaku dan kutarik kembali agar dia mengangkang di atas tubuhku yang masih telentang di bangku tipis ini.

Weny melangkahkan paha kanannya menyeberangi tubuhku. Kini dia berposisi setengah berdiri dengan vagina berbulu lebatnya berada tepat dia atas wajahku. Tak ayal lagi aku bergetar menyambutnya. Kubenamkam mulutku ke vagina berbulu lebatnya yang terkuak merekah lebar itu dan kusedot isinya. Cairan birahinya kujilati dengan penuh kerakusan. Kini tangan-tangan Weny berganti meraih kepalaku, menariknya agar jilatanku lebih meruyak dalam ke liang vagina berbulu lebatnya. Aku dan Weny bersama-sama menjadi histeris. Aku mendesah liar sementara Weny merintih dan mengaduh-aduh tak terkendali. Pantatnya dinaik-turunkan layaknya sedang memperkosa mulutku. Aku meremas dan menghunjamkan kuku-kukuku ke daging pahanya. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku agar dapat meraih lebih banyak lendir vagina berbulu lebat di selangkangannya. Aku diburu nafsuku. Aku diburu ledakan birahiku. Kenikmatan yang teramat sangat dahsyat.

Sementara itu kegatalanku di bawah sana, di kitorisku menjadi paduan kenikmatan yang dahsyat melandaku. Vive Vi melihat perkembanganku dan Weny hingga ikut terbawa arus. Nafsu birahinya juga ikut mengganas. Dia menyambar dildo dua kepala yang rupanya telah dipersiapkan sebelumnya. Diangkatnya kakiku hingga ke pundaknya. Pantatnya digeserkan ke depan mendekat ke pantatku. Dimasukkannya salah satu kepala dildo itu ke kemaluan berbulu lebatku yang langsung melahapnya. Kemudian dia masukkan kepala dildo sisi yang lain ke kemaluan berbulu lebatnya sendiri. Dalam waktu yang sangat singkat, dia sudah mengayun-ayun dan memompa dildo itu ke kemaluan berbulu lebatnya dan ke kemaluan berbulu lebatku. Sungguh sangat sensasional.

Dua perempuan cantik itu kini sedang menggarap tubuhku. Dia atas bangku taman yang tipis memanjang ini, Weny mengangkang dengan vagina berbulu lebatnya yang getas dan membasah dalam lumatan mulutku, sedangkan di belakangnya, Vive Vi menggarapku dengan dildonya. Kini kami bertiga berpacu bersama menapak puncak-puncak kepuasan kebetinaannya. Kini kami bertiga sedang dipacu dan diburu gelombang dahsyat untuk meraih orgasmenya. Kurasa taman alam pedesaan yang penuh bunga itu telah berubah menjadi hutan yang dihuni serigala-sergala betina yang haus dan lapar. Yang lolongannya memenuhi belantaranya hingga ke ujung-ujungnya. Kegaduhan erotis dalam bentuk desahan, rintihan dan racauan liar memenuhi hutan itu.

Rasa seperti ingin kencingku sudah kembali hadir kini. Aku yakin aku sudah berada di ambang orgasmeku. Dan tak ayal lagi gerakan bagian-bagian tubuh sensitifku membuas tak terkendali. Weny memperketat jambakan tangannya pada rambutku. Dan Vive Vi mempercepat ayunan dildonya ke memekku hingga aku tak kuasa lagi membendungnya. Dengan jeritan yang membahana di taman hutan itu, kurasakan cairan orgasmeku muncrat-muncrat. Kubenamkan lebih dalam kukuku ke paha Weny untuk menahan kenikmatan dahsyatku. Kuangkat tinggi-tinggi pantatku untuk menjemput dildo Vive Vi agar dapat lebih meruyak lagi ke dalam vagina berbulu lebatku. Setelah itu segalanya kulepaskan. Aku terjatuh lunglai. Aku merosot ke tanah di taman penuh bunga itu. Aku merasakan kelegaan yang amat sangat setelah melewati badai nafsuku yang sempat melemparkanku terombang-ambing dalam gairah birahi. Nafasku yang tersengal mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya.

Aku merasakan tubuhku dibangunkan dan diangkat ke sofa di taman itu. Aku disenderkan di tempat empuk di sana. Kakiku mereka rentangkan terbuka. Aku dapat melihat dan merasakan bahwa Vive Vi langsung kembali merangsek vagina berbulu lebatku. Dia ingin meminum cairan orgasmeku. Sementara kulihat Weny menjilati dildo dua kepala itu. Dia menjilati cairanku dan juga cairan yang mulai membasah dari kemaluan berbulu lebat Vive Vi. Weny dan Vive Vi masih belum berhasil meraih orgasmenya. Dan kini tubuhku sepenuhnya menjadi obyek pemuasan birahi mereka. Ada rasa tersanjung yang menyelinap dalam relung hatiku. Vive Vi dan Weny sangat menggilai diriku. Mereka sangat merindukan apapun yang keluar dari tubuhku. Mereka akan melumatnya, meminum dan bahkan memakan apapun yang keluar dari tubuhku. Mereka menatapku dengan nyalang dan dengan penuh kehausan serta kerakusan birahi pada tubuhku.

Aku masih kelelahan akibat orgasmeku tadi. Aku yang kini telah tersadar sepenuhnya mencoba mengingat-ingat, bagaimana caranya hingga aku sempat terbius oleh minuman dari Vive Vi tadi. Rupanya begitu aku terserang kantuk, mereka melucuti pakaianku hingga telanjang bulat. Dan mereka juga melucuti pakaiannya sendiri. Kemudian mereka letakkan tubuhku ke atas bangku tipis panjang itu. Mereka ingin agar seluruh tubuhku terbuka. Tanganku yang jatuh terkulai membuka ketiak dan dadaku. Kakiku yang terjuntai ke tanah membuka selangkanganku dan juga membuat kemaluan berbulu lebatku merekah terbuka lebar-lebar. Dengan cara begitu, Weny dan Vive Vi benar-benar dapat menikmati pesona tubuhku secara habis-habisan. Kembali perasaan tersanjung menyelip di dadaku hingga terlontar senyum di bibirku. Aku sangat menikmati kekaguman dan kegilaan mereka pada tubuhku.

Saat ini kulihat Vive Vi memegang dildo yang lain, memasukkannya ke kemaluan berbulu lebatnya dan mengocok-ngocoknya sambil mulutnya terus melumat kemaluan berbulu lebatku. Sementara itu Weny masih menjilati dildo berkepala dua yang baru saja kupakai bersama Vive Vi tadi. Rupanya cairan cintaku masih banyak menempel pada dildo itu. Juga cairan birahi Vive Vi yang mulai mengalir dari vagina berbulu lebatnya masih nampak membasah pada ujung kepala sisi yang lain dari dildo itu. Dan erangan dari mulutnya terus meracau karena kocokan dildo yang lain lagi pada kemaluan berbulu lebatnya. Mereka berdua kulihat sedang bermacu mengejar kepuasan tertingginya. Mereka ingin meraih orgasmenya masing-masing. Dan ternyata tak lama kemudian, secara hampir bersamaan, Weny dan Vive Vi berteriak histeris. Kulihat tangan-tangan mereka dengan sangat cepat mengeluar-masukkan dildo ke vagina berbulu lebatnya masing-masing. Akhirnya mereka semua berhasil meraih orgasmenya.
Kemudian hening, yang terdengar hanyalah nafas-nafas kelelahan dari 3 perempuan yang semuanya telanjang bulat di taman indah ini. Dan ketiganya bermandi keringat setelah bekerja keras mengejar kenikmatan nafsu birahinya.

Tante Juliet

Namaku Sony, wajahku lumayan ganteng, tubuh tinggi dan sexy. Tetapi keadaan ekonomiku kurang mencukupi. Makanya aku pergi ke kota untuk mencari pekerjaan yang dapat memenuhi masa depanku. Pada waktu aku sedang mencari pekerjaan, kulihat ada papan iklan di sudut jalan, "DICARI COWOK DAN CEWEK UNTUK JADI MODEL.." Aku tertarik dan langsung pergi ke tempat yang ditunjukkan papan iklan itu. Setelah sampai, kulihat tempatnya ramai dengan orang yang ikut mendaftar menjadi model. Aku langsung saja masuk ke tempat itu.
Setelah giliranku mendaftar, aku ditanya sama Mbak yang mengurus bagian pendaftaran. Orangnya cantik dan tubuhnya wuih..
"Namanya siapa Mas..?" katanya.
"Sony, Mbak.." kataku sambil melihat wajahnya yang ayu.
"Boleh lihat kartu identitasnya Mas..?" katanya lagi.
"Ini Mbak.." kataku sambil menyerahkan KTP.
"Ok.., sekarang Mas masuk ke ruangan test ya.. Mas jalan aja lurus, terus belok kanan.., nach disitu Mas masuk aja ya..!" katanya.
Lalu aku pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh Mbak itu.
Aku duduk menunggu giliran. Ketika aku sedang menunggu, ada beberapa cewek-cowok yang keluar dari kamar itu dengan kepala tertunduk. Pasti mereka tidak lulus test.. aduh aku jadi takut dan badanku jadi gemetar tidak karuan.
Lalu.., "Mas Sony.." tiba-tiba ada suara memanggil namaku.
Langsung saja aku masuk ke ruangan test. Disitu ada 2 cewek cantik, mereka berdua memakai baju ketat, sehingga susu yang besar terlihat seperti menyembul, dan di bagian bawah mereka hanya memakai rok mini sekitar 10 cm dari 'anu'-nya.
"Mas Sony ya..? Aduh gantengnya. Sudah pernah jadi model sebelumnya..?" katanya.
"Belum pernah Mbak.. Saya baru aja datang dari desa.." kataku lugu.
"Ooo.. sekarang coba buka baju dan celananya Mas ya..?" katanya.
"Lho kok pake buka baju segala sih Mbak..? Emangnya Sony mau diapain..?" kataku.
"Mas mau jadi model nggak..? Kalau mau jadi model, ya harus nurut..! Ya.., ayo cepet gih buka bajunya.. sini biar kami bantu." katanya sambil terus menuju ke arahku untuk melepaskan bajuku, sementara temannya yang satunya melepaskan celanaku.
Lalu sekarang aku sudah setengah telanjang di depan mereka berdua yang cantik itu. Gundukan batang kejantananku di balik celana dalamku terpampang dengan jelas di depan mereka.
"Wow, besar juga ya kontol Mas. Mas Sony udah pernah ngeseks sebelumnya..?" tanyanya ketika melihat gundukan senjata kemaluanku di balik celana dalamku.
"Belum pernah Mbak.. Emangnya kenapa sih Mbak kok nanya yang gituan..?" kataku sambil memandang mereka yang kelihatannya tertarik dengan batang kejantananku yang lumayan besar.
"Begini Mas, kami mencari beberapa model yang masih 'hijau' pengalamannya.."
"Apa hubungannya Mbak jadi model sama pengalaman.. khan lebih banyak pengalamannya maka semakin bagus dia nantinya.." kataku.
"Kami hanya mencari cowok dan cewek yang setengah perawan begitulah.. sekarang saya mau ngetest kontol Mas.. ok..?" katanya sambil terus membuka pakaiannya satu-persatu, sementara yang satunya mendekatiku.
Dia memeluk tubuhku, menciumiku dan meraba-raba tubuhku. Sementara Mbak yang satunya sudah melepas baju ketatnya, sehingga susunya yang besar tergantung bebas. Rupanya dia tidak memakai BH. Wow.., ukurannya besar sekali. Baru kali ini kulihat susu sebesar itu. Lalu dia melepas rok mininya, dan.. ohh.., terpampanglah bentuk kemaluannya yang gundul dan montok itu. Setelah itu dia mendekatiku sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya yang bulat. Aku jadi teransang, dan akhirnya batang kejantananku menegang dan bertambah besar gundukannya di celana dalamku. Dia menggoyangkan tubuhnya sambil menempelkan kemaluannya ke gundukan batang kejantananku. Ohh.., batang kejantananku bertambah keras saja mendapatkan perlakuan seperti itu.
"Mas Son, CD-nya dibuka ya..? Kasihan yang di dalam pengen ketemu temennya.." katanya sambil dipelorotkannya celana dalamku.
Seketika itu juga batang kejantananku berdiri dengan kokohnya bagaikan "Pedang Nagapuspa".
"Aduh Mas.., kontolnya besar sekali.. eehhmm.." katanya lagi sambil mengurut batang kemaluanku.
Akhirnya aku hanya bisa pasrah, dia terus dengan lembutnya mempermainkan kemaluanku. Lalu aku disuruh tidur telentang. Sementara aku tidur di lantai yang dingin, Mbak itu dengan agresifnya terus mengulum batang kemaluanku.
Sementara itu Mbak yang satunya yang baru saja selesai membuka pakaiannya, langsung saja mengangkangkan kakinya di atas wajahku. Kemaluannya yang dikelilingi bulu lebat itu ditempelkannya di wajahku, lalu digeser-geserkan dengan irama lembut.
Lalu.., "Jilatin dong Mas Son.. eehhmm.." katanya memelas.
Akhirnya kudekatkan juga kepalaku ke lembah kemaluannya. Tercium bau khas vagina, dan kujulurkan lidahku menjilati kemaluannya yang sudah basah itu. Dia mengerang dan menggelinjang kecil menahan nikmat. Kulihat dia meremas sendiri buah dadanya dan memuntir-muntir sendiri puting susunya.
"Oh.. yess.., jilat terus Mas.., ohh.. yess..!" katanya sambil tangannya diangkat sebelah, sempat terlihat olehku bulu ketiaknya yang lebat sekali.

Mbak ini sungguh maniak sekali.
Beberapa saat kemudian dia meronta dengan kuat, "Aaahh.. ohh.. yess.. aargghh..," lalu dia menjepit kepalaku dengan pahanya, lalu menekan tubuhnya ke bawah agar kepalaku menempel lebih kuat lagi ke vaginanya. Aku jadi susah bernafas dibuatnya. Dia tambah mengerang, sementara Mbak yang satunya masih terus mengulum batang jenatananku yang tambah mengeras.
"Lagi Mas.. arghh.. sshh.. yah.. yah.. lagi.. oohh.." makin menggila lagi dia ketika aku mencoba mengulum klitorisnya dan memainkannya dengan lidahku di dalam mulut.
Aku memasukkan lidahku sedalam-dalamnya ke dalam lubang kemaluannya. Bau cairan kewanitaan semakin keras tercium. Vaginanya benar-benar sudah basah. Tiba-tiba dia menjambak rambutku dengan kuat, dan menggerakkan badannya naik turun dengan cepat dan kasar. Lalu dia menegang, dan tenang. Saat itu juga aku merasakan cairan hangat semakin banyak mengalir keluar dari liang kewanitaannya. Kujilati semuanya.
"Ohh.. God.. Bener-bener hebat kamu Mas Son.. ahh.. ngak kuat lagi deh untuk berdiri.. shitt..!" dia terbujur lemas di sampingku.
Aku hanya tersenyum, lalu Mbak yang tadi mengulum batang kejantananku kini mulai mengangkangkan kakinya di atas senjataku. Dan, "Bless.." dimasukkannya batangku pada lubangnya yang hangat dan sudah basah sekali.
Dia pun mulai menggoyangkan tubuhnya perlahan-lahan. Pertama dengan gerakan naik turun, lalu disusul dengan gerakan memutar. Wah.., Mbak ini rupanya sudah profesional sekali. Lubangnya kurasakan masih sangat sempit, makanya dia juga hanya berani gerak perlahan-lahan tetapi teratur.
Dengan posisinya itu, Mbak itu terlihat sangat cantik dan seksi, buah dadanya tergantung sangat menantang. Aku dengan posisi setengah duduk berusaha untuk menghisap susunya. Dia mengerang dan gerakannya bertambah cepat, jariku berusaha mencari lubang pantatnya yang saat ini menganga karena posisinya yang sedang berjongkok di atas batang kejantananku. Dengan mudah aku memasukkan jari tengahku ke dalam lubang pantatnya. Cairan dari vaginanya dan penisku membasahi lubang pantatnya, dan terasa sangat licin dan lengket. Aku mempermainkan jariku mengikuti irama turun naik badannya, dia terlihat menikmati sambil melempar kepalanya ke belakang.
Dia kemudian mengerang, "Ooocchh.. aachh.. yess..!"
Aku mencoba memasukkan jari kedua ke dalam lubang pantatnya, dan berhasil dengan mudah, lubangnya basah dan licin sekali. Dengan dua jari memasuki lubang pantatnya, dan batang kejantananku di vaginanya, dia setengah berteriak bilang, "Mas Son.., aku mau keluar.., ohh.. yess..!"
Dia berhenti naik turun dan menekan vaginanya keras-keras ke pangkal batangku, dan tidak lama terasa lubang kemaluannya berdenyut dengan keras. Dia mengerang dengan keras sambil memelukku dengan kuat. Dengan pijitan vaginanya, aku tidak dapat menahan diri dan bilang ke dia kalau aku juga akan keluar.
"Please.., give it to me, I want to feel it inside me.." katanya menjawab desahanku tadi.
Semprotan spermaku terasa sangat kuat dan banyak sekali. Bersamaan dengan semprotan itu, dia bilang, "Aku keluar lagi Mas Son.., oocchh.. it so goodd.."
Pantatnya ditekan keras-keras ke bawah, seakan-akan batang kejantananku kurang dalam memasuki liangnya. Kedua jariku kutekan dalam-dalam ke lubang pantatnya sambil digoyang-goyangkan di dalamnya. Terasa batang kemaluanku di dalam dibatasi oleh dinding pantat dan vaginanya. Dengan tetap memeluk tubuhku, dia merebahkan diri ke lantai yang dingin itu. Kakinya melingkar di pinggangku dan penisku tetap berada di dalam vaginanya.
Wajah, mata, dahi, hidung, pokoknya seluruhnya habis diciumi oleh Mbak itu sambil berkata, "Terima kasih Mas.. Mas Sony memang perkasa."
Melihat aku sudah selesai dengan temannya yang sudah tertidur itu, Mbak yang satunya mulai beraksi. Setelah selesai membersihkan batang kejantananku, Mbak yang tadi tertidur langsung menjilat batang kemaluanku lagi. Dengan tetap bersemangat, batang penisku dihisap dan dimasukkan ke dalam mulutnya.
Dengan cepat batang kejantanku menjadi keras lagi, dan dia berkata, "Mas Son, please fuck me from behind."
Dia terus membelakangiku, dan pantat serta vaginanya terlihat merekah dan basah. Sebelum aku memasukkan bnatang kemaluanku, kujilat dulu vaginanya dan lubang pantatnya. Tercium bau sabun LUX di kedua lubangnya, dan sangat bersih.
"Boleh juga nih cewek.." kupikir.
Cairan dari vaginanya mulai membasahi bibir kemaluannya, ditambah dengan ludahku.
Dari ujung penisku terlihat cairan menetes dari lubangnya. Kuarahkan penisku ke lubang vaginanya, dan menekan ke dalam dengan perlahan sambil merasakan gesekan daging kami berdua. Suara becek terdengar dari penisku dan vaginanya, dan cukup lama aku memompanya dengan posisi ini. Dia kemudian berdiri dan bersandar ke dinding sambil membuka pahanya lebar-lebar. Satu dari kakinya diangkat ke atas, dari bawah vaginanya terlihat sangat merah dan basah.
"Ayo Mas.., masukkan kontolnya.. please now." katanya sudah tidak sabaran.
Aku dengan senang hati berdiri dan memasukkan penisku ke vaginanya. Dengan posisi ini aku bergerak mememasuk-keluarkan penisku.
Sambil memeluk tubuhku dan berciuman, dia bilang, "Mas Son aku mau keluar, kita sama-sama Mas.. ohh.. yess..!"
Vaginanya diperkecil dan memijat penisku, dan dengan bersamaan kami emncapai puncak kenikmatan itu. Aku masih dapat juga keluar, walaupun tadi sudah keluar banyak sekali. Dan yang kali ini sama enaknya.
Kami bertiga tertidur, aku dipeluk sama dua Mbak-Mbak yang asoy itu.
Tetapi tiba-tiba.., "Sari.. Mira.., apa-apaan ini..? Disuruh kerja kok malah tidur. Ayo bangun..!" tiba-tiba suara itu muncul.
Aku terbangun dan melihat wanita cantik yang umurnya mungkin diatas Mbak-Mbak itu. Langsung saja kedua Mbak-Mbak itu berpakaian.
Ketika aku mau berpakaian, "Kamu anak muda.. cepet masuk dan jangan dipakai dulu bajunya.. kamu belum selesai ditest.. ngerti..? Ayo cepet masuk ke ruanganku..!" katanya.
Setelah itu aku masuk ke ruangannya, tante cantik itu pamit ke kamar mandi.

Setelah menunggu sendirian di ruang kerjanya, aku iseng-iseng membuka album foto di depanku. Setelah kubuka, betapa terkejutnya diriku, semua foto disitu membuat batang kejantananku menjadi naik lagi. Ada foto seorang cewek dan cowok telanjang. Aku takut nanti ketahuan, maka langsung kututup album itu. Di ruangan itu terdapat rak-rak audio-video. Setelah kuperiksa, ternyata ada beberapa keping CD dan VCD. Aku curiga dengan dua keping VCD yang tidak ada sampulnya. Maka, langsung saja kumasukkan CD-nya, terus kuputar. Saat muncul opening scene, disitu tertulis, "SEX Intertainment, Ltd"
"Aduh..! Pasti film biru.." pikirku.
Dan ternyata benar, isinya film BF, judulnya "Daun Muda". Disitu adegan antara cewek seusia tante-tante yang vaginanya dimasuki penis para perjaka muda. Terus ada juga adegan 69, tante-tante itu dengan rakusnya melahap batang kemaluan para cowok-cowok muda.
Karena teransang, aku mengelus-elus batangb kejantananku yang sudah tegang. Lalu tiba-tiba terdengar tawa kecil di belakangku. Aku kaget, malu dan salah tingkah, karena tante cantik itu sudah berada di belakangku. Langsung saja kumatikan TV-nya, lalu aku tertunduk malu sambil melihat batang kemaluanku yang mulai mengecil.
"Kamu suka juga ya rupanya. Aduh besar juga ya punyamu. Kamu benar-benar cowok yang masih hijau Sayang.."
Aku tersenyum, dan tidak berani melihat wajahnya.
"Eee.. siapa namanya tadi..?" katanya.
"Sony, tante.." kataku.
"Ooo.., Sony. Sony sayang, kamu udah sering gitu juga kan..?" katanya.
"Eee.. cuman sekali Tante, dengan pacar Sony di kampung." kataku.
"Satu apa dua.. hayoo ngaku aja dech. Tadi ama pegawai Tante kamu ngeseks juga khan..?" katanya.
"Oh.. ya.. ya.. Sony lupa.. hee.. hee.." jawabku sambil menatapnya.
Tante itu memakai baju ketat, sehingga susunya yang lebih besar dari kedua Mbak tadi seakan memanggilku untuk menyentuhnya. Bagian bawahnya hanya memakai rok super mini, sehingga kedua kaki jenjangnya terlihat begitu putih dan mulus. Kemudian tante cantik itu duduk di sebelahku. "Tante tadi lagi buang air, tapi terus terdengar suara TV masih nyala. Tapi suaranya kok ah.., uh.., ah.., uh. Terus tante intip kamu lagi ngocok punyamu. Kamu nggak tahu ya..?"
"Ya Tante.." kataku.
"Sony sayang, kamu benar-benar ingin jadi model..? Apa sih tujuanmu Sayang..?" tanyanya.
"Sony cuman butuh uang dan pekerjaan, Tante." kataku.
"Cuman itu, nggak ada yang lain, Sayang..?" katanya."Ya Tante.. cuman itu." kataku.
"Kamu mau kalau Tante suruh apa aja..?" katanya lebih mengorek.
"Sony akan nurut ama Tante, asalkan Sony dapat uang, Tante.." kataku.
"Kamu betul-betul cowok lugu Sony sayang.. Tante akan menolong kamu. Kamu mau Tante ajarin sex tingkat tinggi, Sayang..?" katanya.
"Sony akan lakukan apa yang Tante suruh, tapi Sony ingin tahu nama Tante dulu, khan kita belum berkenalan tadi.." kataku.
"Nama lengkap Tante, Juliet atau biasa dipanggil Nyi Ringin Ireng.." katanya.
"Kok namanya aneh Tante.. apa maksudnya nama itu..?" tanyaku.
"Begini Syang, 'Nyi' itu 'cewek dewasa', terus 'Ringin' itu 'pohon beringin' atau bisa dimaksudkan 'hutan', yang artinya bulu-bulu di tubuh Tante, di ketek, di kemaluan, dan lain-lain.. terus 'Ireng' itu 'hitam'. Kamu khan tahu bulu itu warnanya hitam.. begicu Sony, ngerti khan..?" katanya.
"Sony ngerti Tante. Oh ya, Tante jadi nggak ngajarin Sony ilmu sex tingkat tinggi..?" kataku.
"Tentu Sony sayang. Tante akan tunjukin kebisaan Tante yang telah membuat cowok-cowok di seluruh nusantara ini ketagihan.."
Tangannya memegang kedua pipiku, "Son kamu ganteng dech.."
Lalu kupeluk dia, kucium pipinya, lalu keningnya.
"Ayo Tante.., ajarin Sony, bimbing Sony.., kasih tau Sony harus gimana saja. Tante khan juara dunia sejati. Tante khan udah punya jam terbang banyak. Tunjukin itu dong Tante..!" kataku.
"Sabar Sony sayang.., Tante akan ajarkan bagaimana ngesex dengan benar.." katanya seraya mencium bibirku.
"Ayo peluk Tante, Sony sayang..!"
Lalu aku mengangguk, terus memeluknya dan mengelus rambutnya yang indah itu. Tante Juliet berdiri, dan menghampiri rak audio, terus dia memutar CD lagu-lagu House.
Lalu tante kembali menghampiriku.
"Sony sayang..," bisiknya.
"Mm.., beri Sony ilmu itu, Tante..!"
Lalu kupeluk Tante Juliet dengan erat.
"Apa yang harus Sony lakukan, Tante..?" kataku.
"Sony pingin merasakan sesuatu yang indah bersama Tante..? Tante juga Sony sayang, Tante ingin merasakan batangmu itu merobek punya Tante." katanya sedikit bermanja.
"Sony sayang, menurut kamu Tante masih menarik nggak sih..?"
Aku agak bingung dan hanya dapat mengangguk memberi jawaban.
"Sony sayang, ayo cium bibir Tante sayang..!"
Lalu adegan pagutan ke bibir, leher, telinga dan tengkuk mulai kulancarkan. Tubuh Tante Juliet mulai bergetar.
Dengan instingku yang baru saja dipupuk, kuraba puting kirinya perlahan.
"Uhh, ya gitu Sayang, teruskan..!" dengusnya.
Kurasakan debar jantungnya meningkat. Lantas hidungku dan mulutku mulai mengecup bahunya yang terbuka, karena baju atasnya kubuka sedikit. Dia menggeliat.
"Nikmat sekali Sayang.. kamu pinter Son..!" bisiknya sambil matanya tetap terpejam.
Kini kedua tangannya memegangi tanganku. Matanya masih terpejam. Lalu tangan Tante Juliet memegangi tanganku. Sekarang matanya terbuka. Dia tersenyum. Kukecup bibirnya lembut, lalu pipinya, telinganya, dan tengkuknya.
"Apa lagi sekarang, Tante..?" bisikku.
"Ayo ciumi leher Tante yang jenjang ini Sony sayang..!" katanya.
Lalu kucium lehernya, kurasakan debar jantungnya dan bunyi nafasnya yang mengeras. Lalu tangan kirinya diangkat untuk memegangi tengkuknya sendiri. Saat sekilas kutatap bagian ketiaknya, kulihat sesuatu yang luar biasa. Bulu ketiak Tante Juliet ternyata lebat sekali. Aku terkesiap. Wow..! seperti tidak percaya melihat bulu hitam rimbun itu menghiasi bagian bawah lengannya. Kuangkat tangan kanannya. Sama lebatnya. Wow..! Aku belum pernah melihat bulu ketiak selebat itu. Dengan lembut kuraba kedua ketiak itu.
"Nggak pernah dicukur ya Tante..?" kataku penasaran.
"Sony sayang, seorang cewek yang bulu keteknya lebat itu berarti nafsunya tinggi sekali sayang.. Coba kamu rasakan nikmatnya.." katanya.
Lalu kucium ketiak berbulu lebat itu. Wow..! Enak e rek..! Bau asli tubuh aduhai itu menyergap hidungku. Bau alami itu bertambah dengan bulu lebat, sepanjang hampir 6-9 cm. Dari ketiak kanan, aku pindah ke ketiak kiri. Sama, ternyata aroma dan sensasi bulunya yang sebelah kiri dengan yang kanan tidak berbeda. Aku terangsang sekali, sehingga batang kejantananku tambah menegang. Dengan hidung dan mulut di ketiak kirinya, kedua tanganku meraba kedua puting susunya. Keras sekali. Kupegang lembut susunya yang tergantung itu. Kenyal sekali. Nafsuku semakin berkobar.
Akhirnya baju atasnya itu kulepas. Dan, wow..! Susunya besar dan kencang, dengan puting mungilnya yang mengeras. Puting itu berwarna kecoklatan.
"Ayo remas susu Tante, Son..!" katanya.
Lalu kuremes pelan kedua susunya.
"Oh yess..! Nikmat Son.., teruskan Sayang..!"
Kuciumi lehernya, tengkuknya, telinganya, bahunya, dan ketiaknya sambil mempermainkan puting dan payudaranya.
"Tante, Sony suka ketek berbulu lebat Tante, tetek dan puting Tante juga, ehm.."
Tante Juliet tersenyum, kupandangi tubuh indah itu yang sekarang tinggal bercelana dalam tipis.
Baru kusadar, di bawah pusarnya tampak segitiga warna hitam. Bentuknya mirip celana dalam, jadi bila tante tidak pakai celana dalam, itu bukanlah masalah, karena bulu-bulu kemaluannya sudah membentuk celana dalam. Itu pasti bulu kemaluannya yang dia bilang seperti hutan beringin. Aku jadi tambah penasaran. Aku tambah begitu bernafsu ingin tahu, dan Tante Juliet rupanya tahu hal itu.
"Sony sayang, kamu pingin liat 'hutan Kalimantan'-ku yang lain ya..?"
"Biar Sony lihat sendiri ya Tante..?" kataku.
Lalu aku menciumi pusarnya, dan turun ke bawah tanpa membuka celana dalamnya, hingga kurasakan bulu tebal tergesek ke hidungku, hingga jadi geli ingin bersin. Setelah itu kusisipkan jariku ke celana dalamnya. Kurasakan ketebalan bulu kemaluannya yang lebat. Aku tidak tahu dimana klitoris dan labia mayoranya.
"Rasakan Son, pasti kamu tahu, ayo.. do it..!" katanya.
Berkat tuntunannya, jemariku mulai tahu mana yang klitoris, mana yang labia mayora. Jemariku basah sekali karena cairan dari vagina yang berbulu lebat itu. Celana dalam tante jadi basah, sehingga semakin menempel ke vulva, dan bulu lebat itu makin terlihat jelas.
"Ayo sekarang buka CD Tante.. please..! Tante udah nggak tahan nich..!" katanya.
Lalu dipeganginya kepalaku yang setengah plontos, lalu digesek-gesekkan ke celana dalamnya yang basah kuyup dengan aroma yang khas dari vaginanya itu.
"Stop Son.. Tante udah nggak tahan Son..!" katanya.
Tiba-tiba dia melepas celana dalamnya, dan melemparkannya ke lantai. Lalu, wow..! Luar biasa, benar dugaanku.. bulu lebatnya membentuk segitiga seperti celana dalam. Lalu kunaikkan kaki kanannya ke kursi kerjanya. Wah..! Luar biasa. Kelebatan bulu kemaluannya menutupi vulva. Kusibakkan bulu kemaluannya itu, lalu tampaklah vulva yang berwarna agak gelap, kecoklatan, bukan kemerahan, bukan coklat muda. Aku terkesima. Kusibak dan belai bulu kemaluannya yang sedikit basah itu. Aku terus memandanginya. Lalu kuraba klitorisnya yang menyembul keras dan agak gelap itu.
"Ohh.. hhmm.. kamu nakal ya..!" katanya.
Batang kemaluanku kian menegang, kulihat ada tetesan maniku. Aku menghela nafas.
"Sekarang giliran batangmu ya, Sayang..?" kata Tante Juliet yang kemudian duduk di kursi kerjanya itu.
Aku yang dari tadi sudah telanjang dengan batang kejantanan yang menegak lalu mendekat ke tempat Tante Juliet duduk. Tante Juliet terkesima, terus dipandanginya batang kemaluanku. Tante Juliet langsung menggenggam batang kejantananku dengan kedua tangannya sekaligus, sepertinya dia mengukur panjang batang kemaluanku.
"Wow.., Son punya kamu dua kali genggaman tanganku.." katanya.
Kemudian dia menggenggamnya, tidak terlalu keras, sesaat saja, lalu dilepas.
"Panas sekali punyamu Son.." bisiknya mesra.
Tidak lama kemudian, batang kejantananku mulai dilahap oleh Tante Juliet. Mulutnya yang sensual itu seperti karet, mampu mengulum hampir seluruh batangku, membuatku seakan-akan terlempar ke langit ke-7 merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Dengan ganasnya, mulut Tante Juliet menyedoti penisku, seakan-akan ingin menelan habis seluruh isi batangku. Tubuhku terguncang-guncang dibuatnya. Dan Tante Juliet nan rupawan itu masih menyedot dan menghisap batang kejantananku tersebut. Belum puas dengan yang itu, Tante Juliet mulai menaik-turunkan kepalanya, membuat penisku hampir keluar setengahnya dari dalam mulutnya, tetapi kemudian masuk lagi. Begitu terus berulang-ulang dan bertambah cepat. Gesekan-gesekan yang terjadi antara permukaan penisku dengan dinding mulut Tante Juliet membuatku hampir mencapai klimaks untuk kedua kalinya. Apalagi ditambah dengan permainan mulut Tante Juliet yang semakin bertambah ganasnya. Beberapa kali aku mendesah-desah.

"Ohh.. yess.. Tante sungguh hebatt.. ohh.. Tante udah ya.. Sony nggak tahan nich..!" kataku.
Kami menuju sofa, terus duduk berdua berhadapan telanjang. Terus kucium bibirnya, pipinya, dan keningnya. Terus dia berdiri.
"Mau kemana Tante..?" tanyaku.
"Ambil minuman Sayang.., tenggorokanku kering habis ngemut punyamu.."
Tante Juliet berjalan menuju kulkas, mengambil botol besar Coca-Cola. Aku sangat teransang sekali sewaktu dia berjalan membelakangiku. Dia berjalan dengan menggoyangkan pinggulnya sambil kedua tangannya diangkat ke atas, sehingga kedua ketiaknya yang lebat itu terlihat samar. Ohh.. pantatnya yang bulat dan besar itu seakan membuatku jadi salah tingkah, sehingga kemaluanku bangun lagi. Lalu saat dia kembali ke sofa, terlihatlah sekarang dengan jelas bulu ketiaknya dan bulu kemaluannya yang lebat itu, dan lagi susunya yang besar itu, ohh..
Lalu kami minum bergantian dari botol yang sama. Kemudian bersandar ke sofa, sama-sama diam.
"Gimana Tante, udah segar sekarang..?" tanyaku.
"Ya dong Sayang.. aduhh.. punya kamu koq kecil lagi..?" katanya sambil mengelus kemaluanku, dan aku hanya tersenyum.
"Sony sayang, jilatin punya Tante dong Sayang..!" katanya sambil terus berdiri di depanku.
Lalu kucium paha kanannya, lalu kiri, lalu kanan, lalu kiri lagi, lalu pusarnya.
"Ohh.. yeess.. teruskan Sayang.. ohh.. sedepp.. ahh..!" katanya.
Karena nafsunya, akhirnya Tante dengan tidak sabar langsung menarik kepalaku dan wajahku ditempelkannya ke bibir kemaluannya yang penuh dengan bulu lebat itu. Kunaik-turunkan lidahku di vagina yang lebat bulu itu. Lantas dia mengangkat satu kakinya di sofa.
"Ayo jilat lebih dalam Sony sayang..!" katanya.
Dengan lembut kugesekkan lidahku ke klitorisnya, lalu labia mayoranya. Aku merasakan begitu banyak cairan yang keluar.
"Ayo sayang sedot cairan Tante.. ohh.. yeess..!" katanya sambil mendesis.
Lalu langsung saja aku menyedotnya, "Slurping.., lumayan juga ya Tante.. segar juga.."
Mungkin inilah jamunya seorang pria, cairan vagina wanita lajang yang masih virgin. Tante Juliet tidak tahan dengan perlakuanku, badannya terutama kakinya sampai gemetar bagai terkena setrum, lalu dia duduk di sofa dengan kakinya dibukanya lebar-lebar.
"Ayo sayang, bikin Tante keluar.. ohh.. yess..!" katanya.
Kepalaku menyeruak masuk ke dalam, terus kedua kakinya kuangkat, sehingga terkuaklah bagian bibir kemaluannya. Kujulurkan lidahku ke liang senggamanya yang basah itu. Kujilat.., lepas.., jilat.., lepas.., kudiamkan, berulang-ulang, Tante Juliet jadi gemas dibuatnya.
"Ayo dong Sayang. Kamu jahat deh.., Son. Tante udah nggak tahan nich..!" katanya.
"Ya Tante, maafkan Sony.." kataku.
"Ayo Son, tunggu apa lagi.. cepet bikin Tante keluar..!" katanya sambil mendesis lagi.
Dengan kedua jempolnya, tante merentangkan bibir vaginanya agar lebih terbuka. Merah tua kecoklatan dan mengkilat basah terlihat jelas warna vaginanya. Klitorisnya mengeras, seperti biji kacang garing cap "Garuda".. ini kacangku.
Lalu dengan lembut kutempelkan ujung lidahku ke klitorisnya yang mulai keras itu. Terus kulanjutkan dengan ilmu jilatan ala Shaolin seperti yang diajarkan Tante Juliet.
"Ahh.. yess.., nikmat.., terus dong Sayang..!" katanya.
Sekarang lidahku mulai bermain dengan kecepatan 350 km/jam.. Klitoris itu kujilati terus.. terus.. dan terus.. Hingga tubuh tante bergetar hebat. Lidahku terus menjelajah ke labia mayora, sampai banjir permukaan vaginanya.
"Ouhh.. yess.. Son.. kamu pintar deh.." katanya.
Lalu aku sekarang duduk di sofa dan tante langsung jongkok di depanku dan menyuruhku membuka kaki lebar-lebar. Batang kejantananku yang sudah tegang itu tepat berada di depan wajahnya. Lalu dia mulai menjilati kakiku, mulai dari jempol kakiku dan yang lainnya. Dia naik ke betisku yang berbulu lebat, persis hutan di Kalimantan. Ohh.. lalu naik lagi ke pahaku, dielusnya dan dijilatinya, ohh.. setelah itu dia berpindah ke lubang anusku. Diciumnya, dijilatinya dan ohh.. dimasukkannya jari tengahnya ke lubang anusku. Ohh.. nikmatnya. Lalu dia mulai mengelus-elus batang kemaluanku dan tangan satunya memijit-mijit 'my twins egg'-ku. Aahh.. aku mengerang kenikmatan.

Kemudian dia memasukkan batang kejantananku ke mulutnya, dia hisap batang penisku, terus diemut-emutnya. Dia gerakkan kepalanya naik-turun dengan batang kemaluanku masih berada di dalam mulutnya. Terasa ujung kepala kemaluanku menyentuh tenggorokannya dan masih terus dia tekan. Semua batang kejantananku ditelan oleh Tante Juliet, lidahnya menjilat bagian bawah penisku dan bibirnya dibesar-kecilkan. Sebuah rasa yang tidak pernah kubayangkan. Batang kemaluanku kemudian dikeluar-masukkan, tetapi tetap masuk seluruhnya ke tenggorokannya.
Setelah beberapa lama dihisap dan dikeluar-masukkan sambil tangan yang satu memeras biji kemaluanku dan tangan yang satu lagi dimasukkannya ke dalam lubang pantatku, terasa aku sudah mau keluar, dan kubilang sama Tante Juliet, "Tante.. Sony mau keluar.. ohh.."
Dikeluarkannya batang penisku dan bilang, "Go on come in my mouth. I want to taste and drink your cum, Sony.. hhmm..!"
Batangku dimasukkannya lagi, dan sekarang dia memasukkan dengan lebih dalam dan dihisap lebih keras lagi.
Setelah beberapa kali keluar masuk, cairanku keluar di dalam mulut tante, dan langsung ke dalam tenggorokannya, terasa tengorokannya mengecil dan jari di lubang pantatku lebih ditekan ke dalam lagi, sampai semuanya masuk. Aku benar-benar merasakan enak yang sulit dikatakan. Perlahan-lahan dikeluarkannya batang kemaluanku.
"Punya kamu enak Sony sayang.. Tante suka..!" katanya.
Lalu kuangkat tubuh Tante Juliet ke lantai, dan kubaringkan. Perlahan kubuka pahanya lebar-lebar. Liang senggamanya yang tertutup bulu lebat itu mungkin sudah terbuka agak lebar, habis pandanganku tertutup bulu yang lebat itu.
"Tante, Sony udah nggak tahan nich..!" kataku memohon.
"Sabar dong Sayang.. biar Tante yang memasukkan batangmu, ya..?" katanya.
Lalu tangan tante memegang penisku, dan membimbingnya ke lubang kenikmatannya.
"Tekan disini Son.. pelan-pelan yaa..!"
Lalu dengan hati-hati dia membantuku memasukkan penisku ke dalam liang senggamanya. Belum sampai setengah bagian yang masuk, dia sudah menjerit kesakitan.
"Aaa.. sabar Sayang.. oohh.. pelan-pelan Son..!" tangan kirinya masih menggenggam batang kejantananku, menahan laju masuknya agar tidak terlalu keras, sementara tangan kanannya meremas-remas rambutku.
Aku merasakan batang kejantananku diurut-urut di dalam liang kewanitaannya. Aku berusaha untuk memasukkan lebih dalam lagi, tetapi tangan tante membuat panisku susah untuk memasukkan lebih dalam lagi. Aku menarik tangannya dari batang penisku, lalu kupegang erat-erat pinggulnya.
Kemudian kudorong batang kejantananku masuk sedikit lagi, "Ohh.. yeess.. ohh.. sshh.. aachh.. ohh.. Sayang..!" kembali tante mengerang dan meronta.
Aku juga merasakan kenikmatan yang luar biasa, tidak sabar lagi kupegang erat-erat pinggulnya supaya dia berhenti meronta. Lalu kudorong sekuatnya batangku ke dalam lagi. Kembali tante menjerit dan meronta dengan buasnya.
Aku berhenti sejenak, menunggunya tenang dulu, lalu, "Lho koq berhenti.., ayo goyang lagi donk Son..!" katanya.
Lalu aku menggoyangkan penisku keluar masuk di dalam vaginanya. Tante terus membimbingku dengan menggerakkan pinggulnya seirama dengan goyanganku. Lama juga kami bertahan diposisi seperti itu. Kulihat dia hanya mendesis sambil memejamkan mata, menikmati irama permainan kami.
Tiba-tiba kurasakan bibir kemaluannya menjepit penisku dengan sangat kuat, tubuh tante mulai menggelinjang, nafasnya mulai tidak karuan, dan tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.
"Ohh.. ohh.. Sayang.., Tante udah mo keluar nich.. sshh.. aahh.." katanya dengan goyangan pinggulnya sekarang sudah semakin tidak beraturan, "Kamu kuat sekali Sayang..!" sambungnya.
Aku semakin mempercepat goyanganku.
"Aaahh.. Tante.. keluar Son.., ohh.. endangg..!" dia mengelinjang dengan hebat, kurasakan cairan hangat keluar membasahi pahaku.Aku semakin bersemangat menggenjot.
Aku juga merasakan bahwa aku akan keluar tidak lama lagi, dan akhirnya, "Ahh.. sshh.. ohh..!" kusemprotkan cairanku ke dalam liang kenikmatannya.
Lalu kucabut batang kemaluanku dan terduduk lemas di lantai.
"Kamu hebat Sayang.. udah lama Tante nggak pernah klimaks.. oohh..!" katanya girang.
"Ohh.. Sony cape' Tante.., udah tiga kali baginian.. uhh..!"
Tante kemudian ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sehabis tante dari kamar mandi, dia menuju ke arahku lagi dan membersihkan batang kejantananku dengan lap.
Sambil membersihkan penisku, dia berkata, "Son.., kamu belum selesai ditest.. sekarang kamu kerjain Tante dari belakang ya..?" katanya.
Dia terus membelakangiku dan pantat serta vaginanya terlihat merekah dan basah, tetapi bekas-bekas spermaku sudah tidak ada.
Sebelum kumasukkan batang kejantananku, kujilat dulu kemaluannya dan lubang pantatnya. Tercium bau sabun di kedua lubangnya, dan sangat bersih. Cairan dari vaginanya mulai membasahi bibir kemaluannya, ditambah dengan ludahku. Dari ujung penisku terlihat cairan menetes dari lubangnya. Kuarahkan batang penisku ke lubang vaginanya, dan menekan ke dalam dengan pelan sambil merasakan gesekan daging kami berdua. Suara becek terdengar dari kemaluan kami berdua, dan cukup lama aku memompanya dengan posisi ini.
Tante kemudian berdiri dan bersandar ke dinding sambil membuka pahanya lebar-lebar. Satu dari kakinya diangkat ke atas. Dari bawah, vaginanya terlihat sangat merah dan basah.
"Ayo.., masukin lagi sekarang, Son..!"
Aku dengan senang hati berdiri dan memasukkan batang penisku ke lubang vaginanya. Dengan posisi ini aku mengeluar-masukkan kejantananku lebih bersemangat. Setiap kali aku mendorong batang kejantananku ke liang senggamanya, badan tante membentur dinding.
Sambil memeluk tubuhku dan berciuman, dia berkata, "Son.., Tante mo keluar nich..!"
Lalu bibir vaginanya diperkecil dan memijat batang penisku. Kami keluar bersamaan, aku masih bisa juga keluar walaupun tadi sudah keluar dua kali. Dan yang kali ini sama enaknya dengan yang sebelumnya.
"Sony.., kamu benar-benar hebat.. kamu lulus Sayang..!" katanya sambil memeluk dan mencium bibirku.
Tante Juliet kembali bergerak ke atas, tangannya masih memegang dan mengusap kejantananku yang telah berdiri tegak. Kembali kami berciuman. Buah dadanya kuremas dan putingnya kupilin dengan jariku sehingga dia mendesis perlahan dengan suara yang tidak jelas.

"Sshh.. Sshh.. Ngghh.."

Perlahan lahan kemudian ia menurunkan pantatnya sambil memutar-mutarkannya. Kepala penisku dipegang dengan jemarinya, kemudian digesek-gesekkan di mulut vaginanya yang berjembut lebat. Terasa sudah licin berlendir. Dia mengarahkan kejantananku untuk masuk ke dalam vaginanya yang berjembut lebat. Ketika sudah menyentuh lubang guanya, maka kunaikkan pantatku perlahan.

Tante Juliet merenggangkan kedua pahanya dan pantatnya diturunkan. Kepala penisku sudah mulai menyusup di bibir vaginanya yang berjembut lebat. Kugesek-gesekkan di bibir vaginanya yang berjembut lebat. Tante Juliet merintih dan menekan pantatnya agar penisku segera masuk.

"Ayolah Sony.. Naikkan pantatmu.. Dorong sekarang. Ayo.. Masukkan batangmu.. Pleasse..!!"

Tante Juliet bergerak naik turun dengan perlahan. Vaginanya yang berjembut lebat terasa licin dan agak becek. Kadang gerakan pantatku kubuat naik turun dan memutar. Tante Juliet terus melakukan gerakan memutar pada pinggulnya. Ketika kurasakan lendir yang membasahi vaginanya yang berjembut lebat semakin banyak maka kupercepat gerakanku.

"Sony... Ouhh.. Nikmat.. Oouuhh." desisnya sambil menciumi leherku.

Kakinya menjepit pahaku. Dalam posisi ini gerakan naik turunnya menjadi bebas. Tangannya menekan dadaku. Kucium dan kuremas buah dadanya yang menggantung. Kepalanya terangkat dan tanganku menarik rambutnya kebelakang sehingga kepalanya semakin terangkat. Setelah kujilat dan kukecup lehernya, maka kepalanya turun kembali dan bibirnya mencari-cari bibirku. Kusambut mulutnya dengan satu ciuman yang panas.

Tante Juliet kemudian menggerakkan pantatnya maju mundur sambil menekan ke bawah sehingga penisku tertelan dan bergerak ke arah perutku. Rasanya seperti diurut dengan lembut namun bertenaga. Semakin lama-semakin cepat ia mengerakkan pantatnya. Desiran yang mengalir ke penisku kurasakan semakin cepat.

"Tante Juliet.. Tante .. Ouuhh, Ouhh.. Sshh.. Akhh!"

Desisannyapun semakin sering. Aku tahu bahwa ia akan segera menggapai puncak kenikmatannya. Kini penisku kukeraskan dengan menahan napas dan mengencangkan otot yang sudah terlatih oleh senam Kegel. Ia merebahkan tubuhnya ke atas tubuhku, matanya berkejap-kejap dan bola matanya memutih. Giginya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Akupun merasa tak tahan lagi dan akan segera memuntahkan laharku.

Aku berguling dan kini aku berada di atas. Kupompa vaginanya yang berjembut lebat dengan cepat dan akhirnya beberapa saat kemudian..

"Sony.. Sekarang sayang.. Sekarang.. Hhuuaahh. Aku sampai..!" Ia memekik kecil.

Kutekan pantatku sekuatnya. Dinding vaginanya yang berjembut lebat berdenyut kuat menghisap penisku. Ia menaikkan pinggulnya. Bibirnya menciumiku dengan pagutan-pagutan ganas. Desiran dan tekanan aliran lahar yang sangat kuat memancar lewat lubang kejantananku. "Mbaakk.. Ouhh.. Aa.. ..!"

Kupeluk tubuhnya erat-erat dan kutekankan kepalaku di lehernya. Napas yang bergemuruh kemudian disusul napas putus-putus dan setelah tarikan napas panjang aku terkulai lemas di atas tubuhnya.

Denyutan demi denyutan di tubuh kami kemudian melemah. Aku berguling ke sampingnya. Dikecupnya bibirku, dan tanganya mengusap pipiku.

"Terima kasih. Kamu luar biasa. Kamu sangat perkasa, begitu nikmat dan indah. Kenikmatan yang sangat luar biasa. Thanks," katanya lembut.

Karena kamar mandi ada di luar rumah, maka aku tidak membersihkan diri ke kamar mandi.

"Kamu disini saja, nanti aku mandiin. Kalau keluar ke kamar mandi nanti kelihatan orang bisa berabe"

Tante Juliet mengambil handuk yang dipakai untuk menyeka tubuhku tadi dan kini penisku yang disekanya sampai bersih. Tante Juliet keluar ke kamar mandi dan kembali dengan seember air. Setelah menyeka badanku sekali lagi, aku kencing di dalam ember karena aku punya kebiasaan buang air kecil sehabis bercinta, sementara itu ada resiko ketahuan tetangga jika aku harus ke kamar mandi di belakang rumahnya.

Kami berbaring berdampingan sambil berpelukan. Kepalanya diletakkan di atas dadaku. Sejam telah berlalu dan kurasakan sebuah benda padat lunak menekan dadaku. Kucium leher dan ketiaknya yang dicukur bersih.

"Kamu mau lagi..?"

Kudaratkan sebuah kecupan pada bibirnya. Kuamat-amati tubuhnya yang lumayan aduhai. Kulitnya kuning bersih dengan pantat besar dan menonjol ke belakang, sementara di dadanya ada segunduk daging yang bulat dengan tonjolan coklat muda yang berdiri tegak.

Bibirnya mendarat di bibirku. Kali ini ia menciumiku dengan ganas. Akupun membalas dengan tak kalah ganasnya. Kuremas buah dadanya dengan keras. Beberapa saat kemudian kami sudah berpelukan dan bergulingan di atas ranjang besar yang empuk.

Aku menindih dan menjelajahi sekujur tubuhnya. Ia menggeliat-geliat hebat dan mengerang. Mulutnya mendekat ke telingaku dan berbisik, "Ouuhh.. Sony.. Terserah kamu. Lakukan sesukamu. Yang penting berikan aku kenikmatan puncak"
"Aku akan mengajakmu berpacu dalam birahi dan tenggelam dalam badai kenikmatan yang luar biasa.." kataku membalas bisikannya.

Dari dada, lidahku pindah ke samping menyusuri pinggul dan pinggangnya, ke arah perut dan pahanya. Aku mencoba untuk mendekatkan hidungku ke sela pahanya Tante Juliet meronta hebat sewaktu tanganku memainkan puting buah dadanya. Tangannya terlepas dan hidungku kutempelkan di bibir vaginanya yang berjembut lebat. Tercium aroma yang harum dan segar.

Bulu kemaluannya cukup lebat. Meskipun kulitnya putih, namun bibir vaginanya yang berjembut lebat berwarna kehitaman dan ditumbuhi rambut agak jarang. Kubuka bibir vaginanya yang berjembut lebat dengan telunjuk dan ibu jari, terlihat bagian dalam vaginanya yang berjembut lebat yang kemerahan dan mulai basah oleh lendir yang melumasinya.

Kini lidahku menyusup ke dalam vaginanya yang berjembut lebat. Kulebarkan pahanya dan aku semakin leluasa mempermainkan klitorisnya. Tante Juliet meregang dan meronta menahan kenikmatan yang kuberikan.

"Ouhh Son.. Ayo.. Teruskan.. Lagi. Sudah lama aku ingin merasakan hal ini," ia mengerang.

Lidahku menerobos masuk ke dalam liang vaginanya yang berjembut lebat dan bermain dengan dinding vagina, klitoris dan lorong kenikmatannya. Sementara bibirku menyapu bibir vaginanya yang berjembut lebat, maka lidahku menjilat klitorisnya dengan sentuhan ringan. Tante Juliet meremas rambutku dan memekik tertahan, "Auww, aku tak tahan lagi.."

Kurasakan klitorisnya sedikit membesar dan berkilat-kilat. Kujepit klitorisnya dengan bibirku dan kukeraskan jepitanku. Pahanya semakin kuat menjepit kepalaku.

Ia mengerang, "Please, Ayo sekarang..  Aku tak tahan lagi.. Ayoo!!"

Bibirku naik ke leher dan menjilatinya. Elusan tanganku pada pinggangnya membuat ia meronta kegelian. Kuhentikan elusanku dan tanganku meremas lembut buah dadanya dari pangkal kemudian ke arah puting. Kumainkan jemariku dari bagian bawah, melingkari gundukannya dengan usapan ringan kemudian menuju ke arah putingnya. Sampai batas puting sebelum menyentuhnya, kuhentikan dan kembali mulai lagi dari bagian bawah.

Kugantikan jariku dengan bibirku, tetap dengan cara yang sama kususuri buah dadanya tanpa berusaha mengenai putingnya. Kini ia bergerak tidak karuan. Semakin bergerak semakin bergoyang buah dadanya dan membuat jilatanku makin ganas mengitari gundukan mulus itu. Setelah sebuah gigitan kuberikan di belahan dadanya, bibirku kuarahkan ke putingnya, tapi kujilat dulu daerah sekitarnya yang berwarna merah sehingga membikin Tante Juliet menjerit penasaran dan gemas.

"Jangan permainkan aku.. Cepat isap.. Isap sayy.. Sony," pintanya.

Aku masih ingin mempermainkan nafsunya dengan jilatan halus di putingnya yang makin mengeras itu. Tante Juliet mendorong buah dadanya ke mulutku, sehingga putingnya langsung masuk, dan mulailah kukulum, kugigit kecil serta kujilat bergantian. Tanganku berpindah dari pinggang ke vaginanya yang berjembut lebat yang semakin basah.

Jariku tengah kiriku kumasukkan ke dalam vaginanya yang berjembut lebat dan tidak lama sudah menemukan apa yang kucari. Lumatan bibirku di puting Tante Juliet makin ganas. Ia berusaha mengulingkan badanku tetapi kutahan.

"Aagh.." ia memekik-mekik. Kucium lagi bibir dan lehernya. Penisku makin membesar dan mengganjal tubuhku di atas perutnya.

Kupikir kini saatnya untuk penetrasi. Kuangkat pantatku sedikit dan iapun mengerti. Dikangkangkan pahanya lebar-lebar. Kuarahkan penisku ke vaginanya yang berjembut lebat dan, "Masukan Son.. Sekarang!" pintanya sambil melebarkan pahanya. Kudorong sekali dan berhasil. Kugerakkan penisku pelan-pelan dan semakin lama semakin cepat.

Vagina Tante Juliet makin lembab dan langsung mengerang hebat merasakan hunjaman penisku yang keras dan bertubi-tubi. Tangannya mencengkeram pinggulku. Gerakan maju-mundurku diimbanginya dengan memutar-mutarkan pinggulnya, semakin lama gerakan kami semakin cepat.

Kini ia semakin sering memekik dan mengerang. Tangannya kadang memukul-mukul punggungku. Kepalanya mendongak ketika kutarik rambutnya dengan kasar dan kemudian kukecup lehernya dan kugigit bahunya. "Ouhh.. Ehh.. Yyeesshh!"

Setelah beberapa lama kuminta dia untuk di atas. Dengan cepat kami berguling. Tak berapa lama kemudian penisku sudah terbenam di liang vaginanya yang berjembut lebat. Tante Juliet menaikturunkan pantatnya dengan posisi jongkok. Tubuhnya bergerak naik turun dengan cepat dan kuimbangi dengan putaran pinggulku, sementara buah dadanya yang tegak menantang kuremas-remas dengan tanganku. Gerakan kami makin cepat, dan erangan Tante Juliet makin keras. Aku duduk dan memeluk pinggangnya. Kami berciuman dalam posisi Tante Juliet duduk berhadapan di pangkuanku. Aku bebas mengeksplorasi tubuhnya dengan tangan dan bibirku.

Kuangkat tubuhnya sambil berdiri, kugendong dan kuturunkan sebelah kakinya sementara itu kaki yang satunya menjepit pahaku. Kulipat lututku sedikit untuk mengambil posisi yang tepat. Kami bercinta sambil berdiri.

"Aagghh.. Sony.. Luar biasa, kamu kuat sekali," bisiknya.
"Tante .. Tante  juga nikmat sekali"

Kubawa tubuhnya kembali ke ranjang dan langsung kugenjot dengan menghentak-hentak. Nafas kami semakin memburu. Kuganti pola gerakanku. Kucabut penisku dan kumasukkan kembali setengahnya. Demikianlah kulakukan berulang-ulang sampai beberapa hitungan dan kemudian kuhempaskan pantatku dalam-dalam.

Tante Juliet setengah terpejam sambil mulutnya tidak henti-hentinya mengeluarkan desahan seperti orang yang kepanasan. Pinggulnya tidak berhenti bergoyang dan berputar semakin menambah kenikmatan yang terjadi akibat gesekan kulit kemaluan kami. Lubang vaginanya yang berjembut lebat yang licin diimbangi dengan gerakan memutar dari pinggulnya membuatku semakin bernafsu. Ketika kuhunjamkan seluruh penisku ke dalam vaginanya yang berjembut lebat, Tante Juliet pun menjerit tertahan dan wajahnya mendongak.

Aku menurunkan tempo dengan membiarkan penisku tertanam di dalam vaginanya yang berjembut lebat tanpa menggerakkannya. Kucoba memainkan otot kemaluanku. Terasa penisku mendesak dinding vaginanya yang berjembut lebat dan sedetik kemudian ketika aku melepaskan kontraksiku, kurasakan vaginanya yang berjembut lebat meremas penisku. Demikian saling berganti-ganti.

Permainan kami sudah berlangsung beberapa saat. Kedua kakinya kuangkat dan kunaikkan di atas pundakku. Dengan setengah berdiri di atas lututku aku menggenjotnya. Kakinya kuusap dan kucium lipatan lututnya. Ia mengerang dan merintih-rintih.

"Ouhh Tante .. Kita.. Ouuhh!!"

Aku mengangguk dan memberi isyarat kepadanya untuk menutup permainan ini. Ia pun mengangguk setuju. Kukembalikan dalam posisi normal. Kamipun berpelukan dan bergerak liar tanpa menghiraukan keringat kami yang bercucuran.

Gerakan demi gerakan, pekikan demi pekikan telah kami lalui. Aku semakin cepat menggerakkan pantat sampai pinggangku terasa sakit, namun aku tetap bertahan untuk menyerangnya. Tante Juliet meremas rambutku dan membenamkan kepalaku ke dadanya, betisnya segera menjepit erat pahaku. Badannya menggelepar-gelepar, kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan, tangannya semakin kuat menjaTante  rambutku dan menekan kepalaku lebih keras lagi.

Aku pun semakin liar memberikan kenikmatan kepada Tante Juliet yang tidak henti-hentinya menggelinjang sambil mengerang.

"Aahh.. Sshh.. Sshh." Gerakan tubuh Tante Juliet semakin liar.
"Ouoohh nikmatnyaa.. Aku mau keluuarr.. Sampai.."

Denyutan demi denyutan di tubuh kami kemudian melemah. Aku berguling ke sampingnya. Dikecupnya bibirku, dan tanganya mengusap pipiku.

"Terima kasih Son. Kamu luar biasa. Kamu sangat perkasa, begitu nikmat dan indah. Kenikmatan yang sangat luar biasa. Thanks," katanya lembut.

Karena kamar mandi ada di luar rumah, maka aku tidak membersihkan diri ke kamar mandi.

"Kamu disini saja, nanti aku mandiin. Kalau keluar ke kamar mandi nanti kelihatan orang bisa berabe"

Tante Juliet mengambil handuk yang dipakai untuk menyeka tubuhku tadi dan kini penisku yang disekanya sampai bersih. Tante Juliet keluar ke kamar mandi dan kembali dengan seember air. Setelah menyeka badanku sekali lagi, aku kencing di dalam ember karena aku punya kebiasaan buang air kecil sehabis bercinta, sementara itu ada resiko ketahuan tetangga jika aku harus ke kamar mandi di belakang rumahnya.

Kami berbaring berdampingan sambil berpelukan. Kepalanya diletakkan di atas dadaku. Sejam telah berlalu dan kurasakan sebuah benda padat lunak menekan dadaku. Kucium leher dan ketiaknya yang dicukur bersih.

"Kamu mau lagi..?"

Kudaratkan sebuah kecupan pada bibirnya. Kuamat-amati tubuhnya yang lumayan aduhai. Kulitnya kuning bersih dengan pantat besar dan menonjol ke belakang, sementara di dadanya ada segunduk daging yang bulat dengan tonjolan coklat muda yang berdiri tegak.

Bibirnya mendarat di bibirku. Kali ini ia menciumiku dengan ganas. Akupun membalas dengan tak kalah ganasnya. Kuremas buah dadanya dengan keras. Beberapa saat kemudian kami sudah berpelukan dan bergulingan di atas ranjang besar yang empuk.
Aku menindih dan menjelajahi sekujur tubuhnya. Ia menggeliat-geliat hebat dan mengerang. Mulutnya mendekat ke telingaku dan berbisik, "Ouuhh.. Sony.. Terserah kamu. Lakukan sesukamu. Yang penting berikan aku kenikmatan puncak"
"Aku akan mengajakmu berpacu dalam birahi dan tenggelam dalam badai kenikmatan yang luar biasa.." kataku membalas bisikannya.

Dari dada, lidahku pindah ke samping menyusuri pinggul dan pinggangnya, ke arah perut dan pahanya. Aku mencoba untuk mendekatkan hidungku ke sela pahanya Tante Juliet meronta hebat sewaktu tanganku memainkan puting buah dadanya. Tangannya terlepas dan hidungku kutempelkan di bibir vaginanya yang berjembut lebat. Tercium aroma yang harum dan segar.

Bulu kemaluannya cukup lebat. Meskipun kulitnya putih, namun bibir vaginanya yang berjembut lebat berwarna kehitaman dan ditumbuhi rambut agak jarang. Kubuka bibir vaginanya yang berjembut lebat dengan telunjuk dan ibu jari, terlihat bagian dalam vaginanya yang berjembut lebat yang kemerahan dan mulai basah oleh lendir yang melumasinya.

Kini lidahku menyusup ke dalam vaginanya yang berjembut lebat. Kulebarkan pahanya dan aku semakin leluasa mempermainkan klitorisnya. Tante Juliet meregang dan meronta menahan kenikmatan yang kuberikan.

"Ouhh Son.. Ayo.. Teruskan.. Lagi. Sudah lama aku ingin merasakan hal ini," ia mengerang.

Lidahku menerobos masuk ke dalam liang vaginanya yang berjembut lebat dan bermain dengan dinding vagina, klitoris dan lorong kenikmatannya. Sementara bibirku menyapu bibir vaginanya yang berjembut lebat, maka lidahku menjilat klitorisnya dengan sentuhan ringan. Tante Juliet meremas rambutku dan memekik tertahan, "Auww, aku tak tahan lagi.."

Kurasakan klitorisnya sedikit membesar dan berkilat-kilat. Kujepit klitorisnya dengan bibirku dan kukeraskan jepitanku. Pahanya semakin kuat menjepit kepalaku.

Ia mengerang, "Please, Ayo sekarang.. Son. Aku tak tahan lagi.. Ayoo!!"

Bibirku naik ke leher dan menjilatinya. Elusan tanganku pada pinggangnya membuat ia meronta kegelian. Kuhentikan elusanku dan tanganku meremas lembut buah dadanya dari pangkal kemudian ke arah puting. Kumainkan jemariku dari bagian bawah, melingkari gundukannya dengan usapan ringan kemudian menuju ke arah putingnya. Sampai batas puting sebelum menyentuhnya, kuhentikan dan kembali mulai lagi dari bagian bawah.

Kugantikan jariku dengan bibirku, tetap dengan cara yang sama kususuri buah dadanya tanpa berusaha mengenai putingnya. Kini ia bergerak tidak karuan. Semakin bergerak semakin bergoyang buah dadanya dan membuat jilatanku makin ganas mengitari gundukan mulus itu. Setelah sebuah gigitan kuberikan di belahan dadanya, bibirku kuarahkan ke putingnya, tapi kujilat dulu daerah sekitarnya yang berwarna merah sehingga membikin Tante Juliet menjerit penasaran dan gemas.

"Son.. Jangan permainkan aku.. Cepat isap.. Isap sayy.. Sonyo," pintanya.

Aku masih ingin mempermainkan nafsunya dengan jilatan halus di putingnya yang makin mengeras itu. Tante Juliet mendorong buah dadanya ke mulutku, sehingga putingnya langsung masuk, dan mulailah kukulum, kugigit kecil serta kujilat bergantian. Tanganku berpindah dari pinggang ke vaginanya yang berjembut lebat yang semakin basah.
 
Jariku tengah kiriku kumasukkan ke dalam vaginanya yang berjembut lebat dan tidak lama sudah menemukan apa yang kucari. Lumatan bibirku di puting Tante Juliet makin ganas. Ia berusaha mengulingkan badanku tetapi kutahan.

"Aagh.." ia memekik-mekik. Kucium lagi bibir dan lehernya. Penisku makin membesar dan mengganjal tubuhku di atas perutnya.

Kupikir kini saatnya untuk penetrasi. Kuangkat pantatku sedikit dan iapun mengerti. Dikangkangkan pahanya lebar-lebar. Kuarahkan penisku ke vaginanya yang berjembut lebat dan, "Masukan Son.. Sekarang!" pintanya sambil melebarkan pahanya. Kudorong sekali dan berhasil. Kugerakkan penisku pelan-pelan dan semakin lama semakin cepat.

Kini ia semakin sering memekik dan mengerang. Tangannya kadang memukul-mukul punggungku. Kepalanya mendongak ketika kutarik rambutnya dengan kasar dan kemudian kukecup lehernya dan kugigit bahunya.

"Ouhh.. Ehh.. Yyeesshh!"

Setelah beberapa lama kuminta dia untuk di atas. Dengan cepat kami berguling. Tak berapa lama kemudian penisku sudah terbenam di liang vaginanya yang berjembut lebat. Tante Juliet menaik turunkan pantatnya dengan posisi jongkok. Tubuhnya bergerak naik turun dengan cepat dan kuimbangi dengan putaran pinggulku, sementara buah dadanya yang tegak menantang kuremas-remas dengan tanganku. Gerakan kami makin cepat, dan erangan Tante Juliet makin keras. Aku duduk dan memeluk pinggangnya. Kami berciuman dalam posisi Tante Juliet duduk berhadapan di pangkuanku. Aku bebas mengeksplorasi tubuhnya dengan tangan dan bibirku.

Kuangkat tubuhnya sambil berdiri, kugendong dan kuturunkan sebelah kakinya sementara itu kaki yang satunya menjepit pahaku. Kulipat lututku sedikit untuk mengambil posisi yang tepat. Kami bercinta sambil berdiri.

"Aagghh.. Sony.. Luar biasa, kamu kuat sekali," bisiknya.
"Tante .. Tante  juga nikmat sekali"

Kubawa tubuhnya kembali ke ranjang dan langsung kugenjot dengan menghentak-hentak. Nafas kami semakin memburu. Kuganti pola gerakanku. Kucabut penisku dan kumasukkan kembali setengahnya. Demikianlah kulakukan berulang-ulang sampai beberapa hitungan dan kemudian kuhempaskan pantatku dalam-dalam.

Tante Juliet setengah terpejam sambil mulutnya tidak henti-hentinya mengeluarkan desahan seperti orang yang kepanasan. Pinggulnya tidak berhenti bergoyang dan berputar semakin menambah kenikmatan yang terjadi akibat gesekan kulit kemaluan kami. Lubang vaginanya yang berjembut lebat yang licin diimbangi dengan gerakan memutar dari pinggulnya membuatku semakin bernafsu. Ketika kuhunjamkan seluruh penisku ke dalam vaginanya yang berjembut lebat, Tante Juliet pun menjerit tertahan dan wajahnya mendongak.

Aku menurunkan tempo dengan membiarkan penisku tertanam di dalam vaginanya yang berjembut lebat tanpa menggerakkannya. Kucoba memainkan otot kemaluanku. Terasa penisku mendesak dinding vaginanya yang berjembut lebat dan sedetik kemudian ketika aku melepaskan kontraksiku, kurasakan vaginanya yang berjembut lebat meremas penisku. Demikian saling berganti-ganti.

Permainan kami sudah berlangsung beberapa saat. Kedua kakinya kuangkat dan kunaikkan di atas pundakku. Dengan setengah berdiri di atas lututku aku menggenjotnya. Kakinya kuusap dan kucium lipatan lututnya. Ia mengerang dan merintih-rintih.

"Ouhh Tante .. Kita.. Ouuhh!!"

Aku mengangguk dan memberi isyarat kepadanya untuk menutup permainan ini. Ia pun mengangguk setuju. Kukembalikan dalam posisi normal. Kamipun berpelukan dan bergerak liar tanpa menghiraukan keringat kami yang bercucuran.

Gerakan demi gerakan, pekikan demi pekikan telah kami lalui. Aku semakin cepat menggerakkan pantat sampai pinggangku terasa sakit, namun aku tetap bertahan untuk menyerangnya. Tante Juliet meremas rambutku dan membenamkan kepalaku ke dadanya, betisnya segera menjepit erat pahaku. Badannya menggelepar-gelepar, kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan, tangannya semakin kuat menjaTante  rambutku dan menekan kepalaku lebih keras lagi.

Aku pun semakin liar memberikan kenikmatan kepada Tante Juliet yang tidak henti-hentinya menggelinjang sambil mengerang.

Aku merasa ada sesuatu yang mendesak-desak di dalam kejantananku dan ingin keluar. Sudah saatnya aku menghentikan permainan ini. Aku mengangguk dan iapun mengangguk sambil memekik panjang,"Ouuwwhh..!"

Aku mengangkat pantatku, berhenti sejenak mengencangkan ototnya dan segera menghunjamkan penisku keras-keras ke dalam vaginanya yang berjembut lebat. Nafasnya seolah-olah terhenti sejenak dan kemudian terdengarlah erangannya. Tubuhnya mengejang dan jepitan kakinya diperketat, pinggulnya naik menjambut penisku. Sejenak kemudian memancarlah spermaku di dalam vaginanya yang berjembut lebat, diiringi oleh jeritan tertahan dari mulut kami berdua.

"Aww.. Aduuh.. Hggkk"

Kami pun terkulai lemas dan tidak berapa lama sudah tidak ada suara apapun di dalam kamar kecuali desah napas yang berkejaran dan berangsur-angsur melemah. Tangannya memeluk erat tubuhku dengan mesra.

Sebentar kemudian Tante Juliet kembali membersihkan penisku dan setelah itu kami mengenakan pakaian. Akhirnya akupun berpamitan pulang setelah mengintip dari balik jendela dan yakin bahwa keadaan di luar aman-aman saja.

Sore hari kulihat anak-anaknya dijemput oleh neneknya, karena memang besok hari libur. Kesempatanku nanti malam untuk bergumul lagi dengan tubuh montok nan aduhai terbuka lebar. Menjelang senja setelah mandi aku berpakaian rapi dengan parfum yang kupakai khusus pada saat tertentu saja. Hanya saja aku tidak mengenakan celana dalam. Adikku yang melihatku tampil rapi keheranan dan bertanya-tanya aku mau ke mana. Aku sengaja tidak memberitahu Tante Juliet sebelumnya biar ada unsur pendadakan dan kejutan. Seperti mau perang saja. Eh tapi ini perang juga kan? Ada meriam, amunisi, gua perlindungan dan perkelahian satu lawan satu.

Aku memutar lewat belakang rumahnya. Pintu belakang terbuka dan setelah kuamati Tante Juliet sedang memasak di dapur. Badannya membungkuk sambil mengaduk sesuatu di dalam panci. Ia hanya mengenakan daster longgar.

Aku masuk, menutup pintu dengan perlahan tanpa menimbulkan bunyi dan dengan berjingkat kudekati dia dari belakang. Setelah dekat tiba-tiba kupeluk dari belakang, tangan kiriku menutup mata dan tangan kananku menutup mulutnya, takut nanti dia berteriak.

"Uuffpphh... Uffpp!"
Ia meronta-ronta dan berusaha membuka tanganku. Kucium telinganya dan kubisikkan,"Tenang Tante , ini aku"

Perlahan kulepaskan tanganku dari mata dan mulutnya. Ia berbalik dan hendak memukulku dengan sendok sayur yang dipegangnya.

"Kamu ini, bikin kaget saja. Kalau aku tadi teriak gimana? Kamu masuk dari mana?"
"Sorry Tante , pengen kasih kejutan saja. Kulihat tadi siang anak-anak dijemput neneknya kan? Pintu belakang terbuka, makanya aku langsung masuk saja. Siapa tahu pintu Tante  lainnya terbuka juga"
"Eh, jangan kurang ajar kamu ya! Emangnya saya apaan," katanya datar tanpa ekspresi marah.
"Masak apa Tante ? Baunya harum sekali"
"Lagi bikin rawon, sudah lama nggak makan rawon. Kamu ini yang harum sekali, mau pesiar ke mana?"
"Lho, malam ini saya mau mendaki dua gunung dan berenang di sebuah telaga. Pakai parfum dong, jadi kalau capek dan keringetan bau tubuhku tidak tercium"
"Kamu sudah makan? Kita makan dulu yok!" ajaknya.

Kamipun pergi ke ruang tengah untuk makan. Kami duduk berhadapan di meja makan. Sambil makan kakiku mulai beraksi. Kuangkat dan kutumpangkan di pahanya. Kusingkapkan ujung dasternya dengan ibu jari dan mulai menggesek-gesekkan telapak kakiku ke pahanya. Tante Juliet hanya tersenyum saja dan membiarkan tingkahku. Aku sengaja hanya beroperasi di sekitar paha atasnya saja, tidak sampai masuk ke celah pahanya. Belum saatnya.

Setelah makan kami pindah ke ruang depan dan duduk di karpet menyandar ke sofa sambil nonton TV. Udara malam terasa dingin. Dinginnya angin musim kemarau mulai menusuk kulit. Bedhidhing, mangsa katelu (musim ketiga), menurut kalender Jawa. Tante Juliet bersandar di bahuku. Tanganku dipegangnya dan didekapkan di payudaranya. Sesekali diciumnya leher dan pipiku.

Ia menguap, berdiri dan berjalan ke ruang belakang. Tak lama kemudian ia sudah kembali dengan membawa sloki dan sebotol anggur merah produk lokal.

"Kita minum sedikit ya. Ini sisa peninggalan almarhum. Selama ini kutaruh saja di dalam kulkas, karena aku sendiri bukan peminum. Tapi malam ini rasanya romantis sekali kalau kita minum berdua," katanya sambil menuangkan anggur tadi ke sloki dan meminumnya dalam sekali teguk.

Ia menuang sekali lagi dan memberikan padaku. Kuterima sloki itu dan juga kuhabiskan dalam sekali teguk. Terasa panas di tenggorokanku dan mukaku langsung memerah. Aku memang bukan peminum berat, just social drinker. Lampu ruangan dimatikannya sehingga kini hanya cahaya dari TV yang menerangi ruangan.

Sambil duduk dan nonton TV kami minum lagi. Aku sadar harus tetap bisa mengontrol diri agar tidak sampai mabuk. Setelah tiga sloki masuk ke mulutku, maka kusingkirkan botol ke meja kecil. Kurasa acara pendahuluan sudah cukup dan kini menjelang acara inti.

Tante Juliet menggeser tubuhnya semakin merapat ke tubuhku. Mukanya merah akibat terkena pengaruh alkohol. Tangannya mengusap pahaku dan berseser ke atas sampai mengenai penisku. Tangannya bergerak-gerak di sekitar pangkal pahaku, mungkin memastikan aku tidak memakai celana dalam. Suasana mulai panas dan akhirnya dengan satu gerakan ia menarik ritslutiting celanaku dan langsung menyusupkan tangannya ke dalam celanaku. Penisku yang mulai berdiri langsung dipegang dan dipijitnya.

Akupun tidak sabar lagi ingin segera merasakan kehangatan tubuhnya. Kubuka dasternya dan tangannya membuka bajuku. Aku berbaring di karpet dengan tetap memakai celana panjangku. Tante Juliet yang tinggal memakai pakaian dalam naik dan menindih tubuhku. Tangannya mengusap-usap bulu dadaku dan bibirnya menjelajahi leher, dagu, pipi dan kemudian berhenti di bibirku dengan sebuah ciuman yang panas. Aku membalas ciumannya dengan penuh gairah.

Kubuka BH-nya dan kusambut kedua payudaranya dengan ciuman, isapan, rabaan dan remasan lembut. Ia mengelinjang dan napasnya mulai terdengar tertahan. Tangannya kembali meraba dan meremas penisku. Dibukanya ikat pinggangku dan dengan jari kakinya ia menarik dan melepaskan celanaku. Aku sudah dalam keadaan bugil. Penisku berdiri tegak dalam genggaman tangannya.

Aku bergeser dan mencium tengkuknya. Kulepaskan badannya dari atasku ke samping dan kini ia berbaring dalam posisi tengkurap. Kususupkan tanganku di bawah dadanya dan kuremas buah dadanya perlahan. Kuciumi tengkuk, leher belakang dan kujilati sekujur punggungnya. Ia mendesis lirih, kepalanya mendongak, tangannya bergerak ke belakang dan meremas rambutku.

"Sebentar Tante . Lepaskan dulu," kataku samil berdiri dan menuju ruang yang dipakai untuk salon.

Kuambil botol body lotion dan kembali kepadanya. Ia keheranan dan menatapku dengan mata sayu. Kucium bahunya dengan lembut dan kubisikkan, "Aku mau mijitin Tante  dulu. Gantian, tadi pagi aku sudah dipijit. Celananya dibuka saja Tante "
"Hmmhh..." katanya sambil menaikkan dan menggoyangkan pinggulnya memberi kode agar aku yang membukakannya.

Kuusap pinggulnya dan kutarik ban celana dalamnya perlahan-lahan. Kini ia menyusulku berbugil ria. Aku menuangkan sedikit body lotion dan mulai mengurut punggungnya.

"Enak Son. Kamu pintar mengurut juga"

Kadang memang teman-teman kos-ku minta bantuanku untuk sekedar memijit punggung atau mengerik kalau masuk angin. Tanganku mengurut sekujur punggung, pantat, kaki dan betisnya. Kadang dengan nakal kugelincirkan tanganku ke samping dan memijit pangkal payudaranya. Tante Juliet hanya tersenyum dan mendesah saja.

Pada saat posisiku duduk di belakang pantatnya kukocok penisku sebentar sampai keras dan kusisipkan di celah pahanya. Tangannya segera bergerak ke belakang dan mencoba membantu untuk memasukkan ke vaginanya yang berjembut lebat. Aku belum bermkasud untuk penetrasi, hanya sekedar menghangatkan suasana saja. Makanya begitu kepala penisku terasa sudah membuka bibir vaginanya yang berjembut lebat aku menghentikannya dan cuma mengkontraksikannya beberapa kali kemudian kucabut lagi.

Tante Juliet mau memprotes, namun aku sudah mulai memijat punggungnya lagi.

"Sabar Tante , nanti juga kuberikan sampai habis," kataku.
Setelah lima menit kemudian, "Sudah Tante , berbalik! Bagian depan depan mau dipijit atau tidak?" kataku.

Ia berguling membalikkan badannya. Aku menelan ludah melihat pemandangan di depanku. Buah dadanya yang bulat besar, pahanya yang mulus dengan hiasan padang rummput tebal mengelilingi sebuah telaga.

"Jangan melamun, ayo pijit. Nanti saja upahnya. Pokoknya ditanggung beres dan puas" Ia menarik tanganku ke buah dadanya.

Aku mulai melakukan pijatan-pijatan ringan dari pangkal payudaranya bergerak ke arah puting, tetapi tanpa menyentuh putingnya. Ia memejamkan mata dan menggigit bibirnya. Aku sengaja tidak memakai body lotion lagi, karena nanti sekujur perut, dada dan leher akan menjadi sasaran lidahku. Kubuat gerakan halus melingkar di sekitar pangkal payudaranya.

Kuletakkan telapak tanganku di dadanya dan mulai meremasnya dengan gerakan memutar. Tante Juliet menggoyangkan kepalanya, kakinya perlahan membuka. Sebelah kakinya diangkat terlipat dan menekan karpet. Ketika pijatanku bergeser ke arah pundaknya, ia membuka matanya lalu menangkap tanganku dan memeluk leherku.

"Sudah Son. Cukup. Aku tak sabar lagi..!"

Kuhentikan pijitanku dan langsung kutindih tubuhnya. Penisku yang tadinya sudah mulai kendor kini mengeras kembali.

"Aku akan memberikan upahmu sekarang," katanya sambil menggulingkan badanku.

Mulutnya begerak mencium kening, pipi, ujung hidung, mengecup bibir terus menyapu leher dan dadaku. Putingku digelitik dengan ujung lidahnya. Aku merinding dan mengejang menahan geli sekaligus nikmatnya rangsangan di putingku. Kuremas dan kuciumi rambutnya.

"Ouuhh Tante . Aahh.. Enak.. Nikmat"

Tante Juliet masih meneruskan aksi di kedua putingku silih berganti.

Kini lidahnya bergerak turun ke perutku terus ke paha dalam, lutut dan menggigitnya lembut. Aku meremas karpet untuk menahan kenikmatan. Tangannya memegang penisku dengan erat, kemudian lidahnya mulai menjilat biji, bergeser ke batang terus menuju kepala penisku. Dikulumnya kepala penisku dan gerakan blow job dilakukannya dengan lincah. Dibelahnya lubang kencingku dan dengan gerakan lincah ia menggelitik dengan ujung lidahnya.

"Mmbbaakk.. Ouhh.. Acchh!!"

Tubuhnya memutar sehingga kini selangkangannya sudah berada dimukaku. Dengan perlahan kusibakkan rambut tebal yang ada di sana dan kususupkan lidahku masuk dan mulai menjilati daging kemerahan sebesar biji jagung. Dinding vaginanya yang berjembut lebat segera berdenyut merespon perlakuanku. Lidahku seakan-akan terjepit oleh dinding vaginanya yang berjembut lebat.

"Sshhahh Sony. Terus To! Lakukan sesukamu To!"
"Tante  sedaap. Uuhh..!"

Kami bergantian saling mendesis dan melenguh. Tante Juliet melepaskan kuluman pada penisku.

"Kita lakukan di sini saja Son!" katanya.

Pantatnya bergeser ke arah selangkanganku. Dengan membelakangiku ia berjongkok dan mengatur posisi selangkangannya agar tepat berada di kepala penisku. Diraihnya penisku dan digesekkannya di bibir vaginanya yang berjembut lebat. Mula-mula hanya kepala penisku saja yang menyusup di bibir vaginanya yang berjembut lebat. Dengan gerakan turun dan memutar pinggulnya maka peniskupun amblas ke dalam vaginanya yang berjembut lebat yang lembab dan hangat.

Ia mulai menggerakkan pantatnya naik turun, maju mundur dan berputar. Kupegang pinggulnya dari belakang dan kuimbangi irama gerakannya.

"Sony.. Sony.. Sony.. Aauwwhh"
"Huuffpp............"

Kuangkat badanku dan dalam posisi duduk memangkunya kuremas buah dada dan kucium tengkuknya sampai berbekas merah. Dengan perlahan kuangkat tubuhku dan iapun mengimbanginya dengan berdiri perlahan dengan membungkuk sehingga kelamin kami masih bertautan.

Kuarahkan ia bergerak ke arah sofa. Diangkatnya kaki kiri ke atas sofa dan kaki kanan berdiri di lantai. Tangannya memengang sandaran sofa. Kupegang dan kuusap pantatnya lalu kuayunkan pantatku maju mundur. Kadang kubuat sudut dengan merendahkan lututku sehingga kulit penisku menggesek dinding vaginanya yang berjembut lebat dengan kuat. Bunyi paha beradu dengan pantat terdengar berirama. Kujulurkan tanganku ke depan sehingga buah dadanya dapat kuraih dan selanjutnya kuremas serta kupilin putingnya.
Tante Juliet merem melek menahan gempuranku. Apalagi ketika penisku kukeraskan dan kutusukkan berulang-ulang dengan cepat. Dadanya dibusungkan, kepalanya mendongak dan bergoyang-goyang tak keruan. Kugenjot semakin cepat dan iapun semakin kuat menggoyangkan kepalanya. Pantatnya bergerak tak beraturan, kadang maju mundur, kadang berputar. Kuturunkan irama permainan, tetapi kukeraskan penisku dan kusodok dengan pelan namun penuh tenaga. Keringat mulai menitik di sekujur tubuhku.

Kucabut penisku dan kini ia telentang di sofa menunggu penisku untuk segera memasuki guanya. Kepalanya diletakkan pada sandaran tangan. Kutumpukan berat badanku pada kedua lenganku. Dengan perlahan kuambil posisi penetrasi dan dengan gerakan sangat lambat penisku kembali masuk dalam vaginanya yang berjembut lebat. Ketika sudah setengah batang masuk, maka dengan cepat kuhentakkan sampai mentok di rahimnya.

"Heehhkk.. Oouhh!"

Ia menahan napas menahan hentakanku. Kutarik lagi sampai keluar, kumasukkan dengan pelan sampai setengah dan kuhentakkan. Ia sudah siap menahan napas untuk mengimbangi permainanku. Beberapa kali kulakukan variasi ini sampai tanganku terasa lelah tidak kuat lagi menahan berat badanku.

Kurapatkan badanku di atas badannya. Kupeluk punggungnya sementara itu ia memeluk leherku dengan erat. Diciumnya bibirku dan disedotnya sampai berbunyi. Gerakanku kini pelan dan ringan saja untuk sekedar memperoleh kesempatan sedikit untuk beristirahat. Kaki kiriku menginjak lantai dan kaki kananku bertumpu pada lutut. Kedua kakinya menjepit pahaku dengan erat.

Kuangkat kedua kakinya ke atas bahuku dan dengan posisi kaki kanan berlutut kugenjot lagi. Kurasakan penisku mentok di rahimnya setiap kali kuhentakkan. Kulipat kakinya sampai lututnya menempel di perutnya. Vaginanya yang berjembut lebat kelihatan semakin menonjol dan penisku semakin sering menyentuh dinding rahimnya.

"Aku capek, ganti posisi Son"

Aku belum tahu posisi apa yang dia inginkan. Ia duduk di atas sandaran tangan dan merebahkan badannya. Dengan posisi berdiri kumasukkan lagi penisku. Sambil kugenjot kujepit kakinya di ketiakku. Sementara itu tangannya meremas rambutnya sendiri. Kakiku mulai goyah dan rasanya tidak kuat meneruskan posisi ini.

Kuangkat tubuhnya dan dengan berputar aku duduk di sofa memangku Tante Juliet. Kini ia yang aktif bergerak. Aku beristirahat sebentar dan mengimbangi gerakannya. Telapak kakinya memijak tepi sofa dan pantatnya bergerak maju mundur agar vaginanya yang berjembut lebat dapat menelan penisku.

"Ouhh Sony.. Aku tak tahan lagi. Ayo kita.. Aahh!"

Kubaringkan badannya di atas karpet dan kuisap payudaranya dengan kuat. Kukunya kuat menghunjam punggungku. Kurapatkan kedua kakinya dan kujepit dengan kakiku. Dalam posisi ini maka dengan sedikit tenaga aku dapat meraih kenikmatan maksimal dari gesekan penisku dengan vaginanya yang berjembut lebat.

"Mbaakk.. Sebentar lagi mbaakk"
"Sony...... Cepat, lebih cepat lagi...!"

Aku semakin cepat bergerak. Kulihat bola matanya memutih dengan muka memerah. Kini kurasa tiba saatnya untuk memberikan pukulan terakhirku.

Kubuka lagi kedua kakinya sehingga melilit betisku. Kugenjot dengan cepat dan bertenaga sampai lututku terasa pedih. Namun tanggung kalau harus berhenti. Gerakanku kupercepat dan semakin cepat. Kami sudah tinggal sesaat lagi mencapai puncak.

"Sudah Son.. Selesaikan sekarang. Arrcchh!" ia meraung.

Punggungnya yang bongkok udang melengkung menjauhiku, sementara selangkanngannya semakin merapat.

"Tante k.. Ouhh!!"

Aku mengambil ancang-ancang dengan menarik penis sampai tinggal ujung kepalanya yang bersentuhan dengan bibir vaginanya yang berjembut lebat dan dengan satu hentakan yang sangat kuat kuhunjamkan penisku sampai sedalam-dalamnya hingga pangkal penisku membentur tulang pubisnya.

"Sonyo.. Yeahh!"

Pantatnya naik menyambut hunjamanku dan tangannya meremas rambutku sekerasnya. Vaginanya yang berjembut lebat berdenyut kuat meremas penisku. Bibirnya mencari-cari bibirku dan kusambut dengan ciuman penuh gairah kepuasan. Napas kami terengah-engah, muka kami memerah karena lelah, nikmat dan sedikit pengaruh alkohol. Sampai beberapa detik denyutan demi denyutan masih kami rasakan. Ketika penisku akan kucabut ia mengkontraksikan otot vaginanya yang berjembut lebat sehingga penisku tisak bisa kucabut keluar. Kubiarkan saja mengecil dan dengan sendirinya lepas dari vaginanya yang berjembut lebat.

Aku berguling ke samping.

"Tante  hebat sekali permainannya"
"Sama. Kamupun hampir membuatku kewalahan. Nikmat sekali rasanya sampai kemaluanku ngilu kamu buat"

Beberapa saat kemudian napas kamipun kembali normal. Dengan berbalut handuk aku keluar mengikutinya ke kamar mandi. Lampu kamar mandi sengaja dimatikan supaya tidak kelihatan dari luar.

Sambil membersihkan badan ia masih saja menciumiku dan mencumbuku mesra. Aku menghindari cumbuannya. Bukan apa-apa. Setelah menggapai puncak rasanya badan capek sekali sehingga malas meladeni cumbuannya.

"Tante .. Tunggu Tante . Sudah dulu. Aku akan tidur di sini saja. Kita punya banyak waktu sampai pagi besok. Aku akan puaskan Tante  sampai besok Tante  nggak bisa buka salon," kataku sambil melepaskan pelukan tangannya.

Kami kembali ke dalam rumah dan berbaring di ranjangnya yang empuk. Nikmat sekali rasanya setelah pertempuran di lantai hanya beralaskan karpet, kini badanku rasanya ringan dan setelah ngobrol sebentar kamipun tertidur dalam keadaan telanjang bulat.

Sekitar dua jam kemudian kami kembali berenang mengarungi samudera kenikmatan bersama-sama. Sampai pagi kami tidak bisa tidur dan akhirnya menjelang dinihari sekali lagi kami bermandi peluh kepuasan. Keadaan ranjang seperti pantai yang habis diamuk badai, berantakan tak karuan. Hari masih gelap ketika aku keluar dari rumahnya.

"Nanti malam kutunggu kamu disini" sambil memberikan kecupan di bibirku.

Kita lihat saja nanti. Kalau tenagaku sudah pulih OK saja. Kalau belum, tak usah saja nanti malah dia kecewa. Atau mungkin aku perlu pemeran pengganti untuk menggantikanku untuk sementara.